MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Terbongkar Sudah Kejahatan Mama Mertua


__ADS_3

"Lepasin cekikan tangan lo Bandi, sepertinya dia mau menjawabnya." kata Jack yang melihat si pembunuh bayaran terlihat payah dan berusaha melepas cekikan dari Bandi dengan gerakan badannya yang berkiat.


Bandi pun melepas cekikan tangannya, lantas setelah Bandi melepas cekikan tangannya, pembunuh bayaran itu batuk-batuk dan sesak nafas, tersiksa sekali sepertinya.


"Makannya, kalau lo nggak mau disiksa kaya gitu, lo harus jujur! Jangan fitnah orang yang gak tahu apa-apa deh ya!" ucap Adiva kesal seraya berkacak pinggang didepan pembunuh itu.


"Uhuk, uhuk, baiklah. Gua pasrah jika gua harus mendekam dipenjara. Tapi gua minta tolong, jangan siksa dan bunuh gua ya?" lirih si pembunuh itu semakin mengiba dengan tampang melasnya.


"Haduh, siapa juga yang mau bunuh lo! Gua bukan pembunuh sama seperti lo! Gua orang baik-baik, dan gua adalah orang yang sangat nggak suka, melihat orang yang menuduh orang lain tanpa adanya bukti yang kuat! Katakan, apa lo punya buktinya?" tanya Bandi lagi, namun kali ini nada bicaranya terdengar lebih pelan tapi tegas.


"Bukan! Bukan suami mbak yang nyuruh gua buat bunuh lo." jawab si pembunuh itu yang sekarang berani jujur.


"Tuh kan! Benar dugaan gue, kalau lo itu cuma lagi bersandiwara! Biar orang sungguhan nyuruh lo nggak ketahuan, lo jadiin suami gue sebagai kambing hitamnya. Jahat sekali!" sahut Adiva seraya menendang perut si pembunuh lagi.


"Uhg, ampun mbak, jangan siksa gua terus." pilu si pembunuh memohon ampun.


"Terus siapa orang yang sebenarnya suruh lo! Udah jangan banyak basa-basi! Katakan segera!" lantang Jack.


"Baik, baik, orang yang sebenarnya suruh gua adalah mertuanya mbak." jawab si pembunuh bayaran, kali ini berani spill soal siapa yang udah suruh dirinya buat bunuh Adiva.


Semua orang menjadi terkejut setelah mendengar jawaban jujur dari si pembunuh. Tapi Adiva masih berusaha untuk tidak percaya dulu sebelum adanya bukti yang konkret.


"Yakin? Lo nggak bersandiwara lagi? Tadi lo nuduh suami gue, sekarang lo nuduh juga mertua gue? Hello?" tanya Adiva.


"Yakin, yang ini gua gak bohong. Ambil HP gua didalam saku celana gua, disitu ada rekaman percakapan telepon gua dan ibu mertua mbak beberapa hari yang lalu." tegas si pembunuh bayaran itu.


Tak menunggu lama, Bandi langsung mengambil ponsel yang katanya ada didalam saku celana si pembunuh. Bandi langsung membuka layar HP itu lalu mencari rekaman percakapan yang dibilang sama si pembunuh barusan.

__ADS_1


Bandi memutar rekaman itu, dengan volume terbesar, terdengar jelas suara geram mama Linda yang menyuruh si pembunuh buat membantai Adiva. Adiva menganga tak percaya, tapi mau gimana lagi, bukti itu sudah sangat jelas. Adiva sangat mengenali suara mama mertuanya seperti gimana.


"Ternyata benar, itu suara mama mertua gue." ucap Adiva dengan tampang kaget.


Adiva mengambil ponsel si pembunuh yang sedang dipegang oleh Bandi itu lantas Adiva mengecek nomor telepon dalam rekaman percakapan itu, ternyata benar kalau nomor telepon itu adalah salah satu nomor HP milik mama mertua jahatnya.


"Astaga, ternyata semua ini benar. Gue kenal dan hapal nomor HP ini!" kata Adiva semakin kaget.


"Itu sudah ada buktinya, gua mohon jangan pukul dan siksa gua lagi?" pinta si pembunuh bayaran itu pasrah.


"Oke, Jack, telpon polisi. Nanti kita bawa pembunuh bayaran ini ke kantor polisi, dia akan jadi saksi sekaligus tersangka atas kasus percobaan pembunuhan kepada nyonya muda." titah Bandi.


"Siap Bandi." sahut Jack.


Sekarang sudah ketahuan kalau ternyata, dalang dibalik serangan psikopat itu adalah mama mertuanya sendiri. Adiva bingung harus bertindak apa, dapatkah dia bisa melaporkan mama mertuanya sendiri ke polisi? Apakah suaminya akan setuju sebagai anak kandung dari mama mertuanya, melihat mama kandungnya dipenjara?


Akhirnya kali ini ponsel suaminya sudah bisa dihubungi.


"Halo, ada apa sayang?"


"Mas Alzam bisa kesini nggak, ada hal yang penting banget, yang harus kamu tahu ini apa. Menyangkut kejahatan seseorang mas, bawa juga mama kamu kesini ya?"


"Sebenarnya bentar lagi aku ada jadwal meeting yang penting, tapi sepertinya aku bisa datang tapi nggak ada waktu lama nanti. Kemana sayang? Pulang ke rumah kita?"


"Nggak mas, aku ada dipinggir jalan. Tapi kamu nanti bawa juga mama kamu kesini, soalnya ini ada hubungannya dengan mama kamu."


"Ngapain ada di pinggir jalan? Iya nanti mas usahain ya, mas akan segera kesitu, kamu share aja lokasinya."

__ADS_1


Adiva menutup panggilan teleponnya dengan sang suami lantas menunggu kedatangan suami dan mamanya. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berwarna putih coklat datang melaju lalu berhenti didekat mereka.


Ternyata mama Linda yang sampai duluan. Mama Linda naik mobil pribadi dengan diantar oleh sang sopir. Mama Linda keluar dari dalam mobil, dirinya berdiri sembari melepas kacamata hitamnya, menatap kaget kearah seorang pembunuh bayaran yang ia kenal sedang terikat di tepi jalan.


"Aduh, ternyata orang yang aku suruh udah ketangkep. Gimana ini? Apa dia sudah membuka mulut?" monolog mama Linda, cemas didalam hatinya.


Mama Linda masih berdiri disitu belum siap menghampiri orang-orang yang sedang menantinya. Adiva inisiatif menghampiri mama mertuanya, yang jahat sama dia itu, jahat banget, bahkan sampai menginginkan dirinya mati?


Adiva sekarang berdiri didepan mama Linda dengan tatapan yang tak menyenangkan sama sekali.


"Ada apa kamu? Kamu nggak usah sok garang didepan saya ya wahai menantu gembel!"


"Biarin saya gembel, tapi saya nggak pernah nyuruh orang buat bunuh orang lain !Apalagi membunuh keluarga sendiri!"


Setelah barusan Adiva ngomong kaya gitu, Mama Linda jadi yakin kalau sekarang orang yang ia suruh itu sudah buka suara.


"Aduh, ini gimana? Pasti Adiva sudah tahu kalau aku, yang udah suruh pembunuh itu buat membunuhnya, bisa mati aku." kata Mama Linda bertambah cemas saja dalam hatinya.


"Maksud kamu apa sih?" tanya mama Linda pura-pura belum tahu.


"Masih tanya maksud aku apa? Mama kan, yang udah suruh pembunuh itu buat bunuh aku. Percobaan pembunuhan yang pertama gagal, lalu kalian kembali melakukan percobaan jahat itu, dirumah sakit kosong ini aku lagi-lagi hampir dibunuh sama dia. Kenapa sih, mama jahat banget sama aku, apa jangan-jangan, orang yang udah tembak mati kakak aku adalah orang suruhan mama juga!" tanya keras Adiva seraya menangis sedih.


"Jaga bicara kamu!" bentak mama Linda lalu menampar Adiva.


Adiva sudah biasa dengan tamparan dari mama mertuanya. Sudah kebal, rasa sakitnya sudah tak ia gubris.


"Mama harus mempertanggung jawabkan perbuatan mama didalam penjara!"ucap Adiva dengan tatapan marah nan dingin.

__ADS_1


__ADS_2