MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Launching Mel's Beauty


__ADS_3

Mereka pun datang ke rumah tahanan pada keesokan harinya. Mereka berdua datang membawa masakan kesukaan mama Linda. Alzam yang membawanya menuju ruang jenguk tahanan. Membawa makanan sudah menjadi hal yang wajib mereka lakukan disaat menjenguk mama Linda.


"Ya ampun senangnya, kesayangan-kesayangan mama akhirnya datang. Makasih ya?" sapa mama Linda sembari memeluk hangat Alzam dan Adiva.


Netra mama Linda langsung melotot senang kepada buah tangan yang dipegang oleh Alzam. Perutnya bertambah keroncongan. Nasi cadong yang tadi ia makan hanya habis separuh saja. Mama Linda tidak kuat kalau harus habisin semuanya.


"Beda sama Amel, sekarang dia udah nggak pernah lagi jengukin mama. Padahal rumah barunya juga dari duit saya, cih." curhat mama Linda kesal.


"Oh iya mam, ini semua aku yang masakin spesial buat mama. Ada capcay ayam, kelinci panggang bumbu rempah." balas Adiva seraya menunjukkan isi-isi dalam rantang cantik yang ia bawa.


"Wah, mama makan sekarang aja ya. Ya ampun, udah lama banget mama nggak makan daging kelinci, pasti ini rasanya enak banget." ujar mama Linda tidak sabar menatap masakan daging kelinci itu, sambil menggosok-gosok telapak tangannya.


Mama Linda langsung menikmati makanan itu meski hanya icip-icip dulu sedikit. Karena waktu jam besuk tidaklah lama makannya mama Linda akan menghabiskan makanan itu didalam sel saja nanti.


"Yuhuu, icip-icip dulu sedikit, nanti mama habisin didalam aja ya sama teman-teman yang satu sel sama mama. Kalian selalu baik sama mama, jadilah inspirasi buat mama supaya terus berbuat baik." ucap mama Linda berbohong lagi demi bisa mendapatkan remisi.


"Sekarang mama udah beneran berubah ya? Kalau gitu baguslah. Penjara ini memberikan mama suatu pelajaran yang berharga. Bahwa berbuat jahat itu pasti selalu ada resikonya. Semangat terus untuk berubah ya mam?" cakap Adiva seraya tersenyum.


"Beruntungnya mama punya menantu seperti istriku ini. Istriku, dia begitu baik, pekerja keras, mama jangan jahat lagi ya sama istriku? Aku nggak suka dan nggak akan maafin mama lagi, kalau mama ternyata cuma pura-pura baik lagi." pinta Alzam.


"Mama nggak pura-pura baik lagi kok sayang. Waktu itu kan mama dihasut sama Amel. Mama dihasut, kamu dijelek-jelekin sama dia Adiva. Dia memang selalu iri sama kamu, karena kamu yang jadi istri dari anak pertamaku. Tuh manusia satu emang licik, jadi mama nggak mungkin jahat lagi deh sama Adiva tersayang. Sekarang mama udah nggak kaya gitu lagi, jadi kalian harus percaya ya sama mama?"


"Baik deh mam." jawab Alzam.

__ADS_1


Adiva hanya mengangguk saja seraya tersenyum sedikit.


***


Satu minggu kemudian, setelah mendapatkan modal dari ibu kandunhnya Amel mulai mencari-cari tempat, suatu lahan yang strategis buat pembangunan tempat usaha pertamanya.


"Apakah anda tertarik buat membeli tanah ini? Harganya dua ratus juta aja. Tempatnya sangat strategis sekali ini, di pinggir jalan. Mumpung belum ada orang lain yang menawarkan tanah ini dengan harga yang lebih tinggi. Buruan mba Amel beli?" tawar sang makelar tanah.


"OMG, aku harus beli lahan ini! Dan ternyata lahan ini berdekatan sama salon kecantikan si kutu kupret itu! Aku benar-benar akan bersaing dengannya! Dan lihat saja, salon kecantikanmu akan sepi pengunjung say, karena mereka para pelanggan kamu, bakalan pindah ke salon kecantikan aku!" batin Amel tak sabar melihat kenyungsepan bisnis Adiva.


"Oke deh pak, saya jadi beli tanah ini. Berapa, dua ratus juta ya?"


"Iya dua ratus juta. Silahkan mba Amel menandatangani surat ini buat bukti kalau tanah ini akan menjadi milik anda."


"Baik pak."


"Yes! Akhirnya lahan ini menjadi milikku. Lumayan lah, dengan lahan yang cukup luas ini aku bisa bangun bisnisku, yang aku yakin bakalan jauh lebih sukses dari salon kecantikan gak jelas itu. Aku akan pakai trik-trik berbisnis yang jauh lebih pintar, perawatan yang jauh lebih menarik, dalam menarik para pengunjung!" ucap Amel dengan ambisius di dalam hatinya.


Empat bulan kemudian...


Beberapa karyawan di salon kecantikan Adiva mengamati bangunan megah yang berdiri dalam waktu singkat itu, orang-orang banyak berdatangan, menghadiri acara launching bersama Amel dalam salon kecantikan Mel's Beauty.


Ada Amel yang sedang berdiri didepan banyak orang dengan gaya yang super glamour. Amel sengaja memakai microfon agar suaranya kedengaran orang-orang di salon kecantikan AlDiv.

__ADS_1


"Assalamualaikum? Selamat siang semuanya?"


"Waalaikumsalam, siaaang."


"Selamat datang di salon kecantikanku, Mel's Beauty. Mulai hari ini salon kecantikanku akan mulai resmi beroperasi. Tahu nggak sih apa yang beda dari salon kecantikan aku dibanding salon kecantikan sebelah? Jelas perbedaannya adalah dari segi perawatan. Pengunjung yang datang akan kami rawat dan kami manjakan dengan alat-alat perawatan berkualitas tinggi. Jasa perawatan seperti creambath, hairdresser, atau makeup artist. Sedangkan di Mel's Beauty pekerja disini juga memiliki keahlian khusus yang berhubungan dengan medis atau lembaga kedokteran.


Saya datangin mereka langsung dari Korea loh! Dengan datang kesini kalian bisa merasakan pengalaman perawatan berkelas internasional. Gimana, menarik bukan?" tutur Amel dengan begitu bangganya. Terlihat di belakang Amel ada sepuluh orang dengan wajah oriental khas Asia Timur sedang berdiri, memakai seragam mereka.


"Siapa sih itu berisik amat pake microfon segala. Lebay parah sumpah! Udah kaya lagi kampanye aja! "ujar Adiva seraya menoleh kearah jendela kaca didalam ruangan kerjanya."


Adiva berjalan keluar ingin melihat apa yang sedang terjadi di depan salon kecantikannya. Seraya memegangi perutnya yang udah sangat besar.


"Ada apa sih berisik banget gaes?" tanya Adiva bingung kearah para karyawannya.


"Itu boss, ada orang yang buka salon kecantikan didepan salon kita." tunjuk seorang karyawan.


Adiva yang sudah hamil besar itu mengamati orang-orang yang sedang berkumpul didepan salon kecantikan Amel.


"Itu kaya Amel deh, dia buka itu didepan salon kecantikan aku? Pasti dia mau nyaingin aku. Dasar ya tu orang pasti selalu aja cari masalah. Bomat lah, mau bawa orang dari Korea, dari Jepang, dari manapun itu, yang penting kita semua harus selalu profesional dan selalu semangat dalam bekerja! Oke gaes?"


"OKEEE!" sahut semua karyawan Adiva kompak sembari mengangkat salah satu tangan mereka, sebuah simbol kesemangatan.


Mereka semua kembali kedalam salon, menunggu orang-orang berdatangan untuk merawat wajah dan tubuh mereka. Amel usai berpidato didepan banyak orang yang ia undang merasa sangat bahagia sekali, meski Daffa tidak bisa ikut dalam launching Mel's Beauty hari ini, karena Daffa ada tugas kerja di luar kota. Amel yakin pasti Adiva tadi lihat dan sekarang sedang iri sekali.

__ADS_1


"Adiva, aku yakin pasti disana kamu lagi kepanasan, iri bilang boss, hahaha!" batin Amel songong sembari menatap salon Aldiv.


Bersambung...


__ADS_2