
Satu minggu berlalu, perlakuan mama Linda kepada Adiva semakin menjadi-jadi. Selama tujuh hari terakhir Adiva selalu dimaki, disuruh menggantikan tugas pembantu, hari-hari yang melelahkan bagi Adiva tanpa sepengetahuan suaminya.
Untung kala siang Adiva punya kesibukan dengan pergi kuliah hingga dirinya jarang ada dalam rumah yang seperti di neraka. Neraka dunia yang diciptakan oleh seorang wanita paruh baya bernama Linda Sasmita itu, neraka khusus untuk orang-orang yang ia anggap sampah tak berguna.
Esok hari adalah hari perjodohan Daffa dan Amel dilakukan. Mama Linda sudah menyiapkan Daffa cincin mahal yang harus ia kasihkan atau pakaikan di jari manis Amel saat pertunangan besok.
Besok adalah hari pertunangan Daffa dan Amel yang akan digelar di rumah mewah mama Linda sendiri. Sebanyak seratus orang, dari kalangan menengah keatas diundang oleh sang ratu rumah, yaitu mama Linda. Besok adalah hari yang istimewa bagi anak keduanya dan juga dirinya.
Mama Amel tidak sabar melihat gadis cantik itu akan menjadi menantu kebanggaannya. Malamnya, mama Amel berdiri cantik sembari bersedekap dada di depan rumahnya. Tepat disamping sebuah lampu bulat taman yang bersinar cukup terang.
Dua menantunya, yang sudah meninggal mama Linda tidak menyukainya, dan yang terbar adik dari menantu yang sudah meninggal, mama Linda jauh lebih tidak menyukainya lagi. Mama Linda benci kepada dua wanita itu dan sedang memikirkan cara gimana rencana menyingkirkan Adiva dari rumahnya.
Mama Linda yang jahat tidak mau ada sampah dirumah indahnya, disisi lain mama Linda juga tidak mau Alzam pindah atau pergi dari rumah. Mama Linda bingung. Alzam adalah anak tampan kesayangannya, meskipun istri pilihan Alzam selalu saja tidak sesuai dengan ekspetasinya, namun anak tetaplah qanak, seorang ibu tidak akan membenci anak kandungnya karena suatu alasan apapun.
Adiva diam-diam sedang mengintip ibu mertua jahatnya dari jendela belakang tempat ibu mertua berdiri. Mama Linda melihat ada kupu-kupu yang terbang mengelilinginya.
"Malam gini ada kupu-kupu?"
Mama Linda melihati kupu-kupu itu, menoleh kesamping sembari tersenyum mengikuti gerak kupu-kupu cantik itu, lalu menoleh ke belakang, mama Linda terkejut kala melihat dirinya sedang diintip oleh menantu yang ia benci.
"Ada apa!" pekik mama Linda seraya melotot nyolot.
Adiva membuka mulutnya karena ketahuan sedang mengintip, kemudian Adiva berjalan keluar, menghampiri ibu mertua jahatnya.
"Ya nggak ada apa-apa ma, gue cuma lagi ngintip aja, jenuh di dalam rumah,"
__ADS_1
"Kurang kerjaan! Kalau kamu jenuh tinggal dirumah saya, ya pergi aja dari sini! Kalau kamu pergi, hidup saya akan tenang dan bahagia,"
"Mama kenapa sih selalu gini sama gue? Selalu berkata yang ga enak didengar, padahal gue nggak pernah nyakitin hati mama, mama suruh apapun gue selalu ngerjain, bahkan pekerjaan yang harusnya dikerjain sama pembantu. Apa dulu mama bersikap seperti ini juga kepada mendiang kakak gue?"
Tangan dingin mama Linda bergerak menampar wajah Adiva. Adiva menoleh kesamping akibat terkena tamparan, rasanya sakit dan juga menyedihkan, ketika seorang menantu diperlakukan dengan buruk oleh mertuanya. Hati perempuan mana yang tidak sedih mendapatkan menantu yang galak, jahat, dan juga bertangan dingin.
Refleks, karena Adiva yang hobi berantem, Adiva membalas tamparan mama Linda diluar kendalinya.
"Ya ampun! Tangan gue?"
Adiva menampar mama Linda dan disaksikan Daffa yang sedang keluar membuka pintu.
"Aaaa," teriak mama Linda pelan, akibat tamparan Adiva.
"Mama!" teriak Daffa terkejut.
"Ah, pipi saya sakit sekali! Tamparanmu begitu keras menantu jahat!" ucap mama Linda seraya memegang pipinya.
Mama Linda kesal, ingin pura-pura menangis tapi sulit sekali ia mengeluarkan air mata palsu. Daffa bergegas menghampiri mereka berdua sedangkan Adiva, tampak bingung mau berkata apa? Dirinya menampar mama Linda itu bukan karena ia yang mulai duluan, dan ini semua benar-benar diluar kendalinya.
TIDAK SENGAJA!
"Dasar, kamu masih kecil tapi udah berani menampar mama saya! Apa kamu mau saya polisikan gara-gara penganiayaan ini?" ancam Daffa menunjuk wajah Adiva.
Apa Adiva gentar?
__ADS_1
"Hmm, gue nggak peduli! Toh bagi gue, nggak sepenuhnya salah. Karena mama lo yang tampar wajah gue duluan! Apa salah kalau gue nggak sengaja menampar mukanya balik? Ingat, ini tuh ga sengaja! dan itu semua diluar kemauan gue!" seru Adiva berani membela dirinya.
Mama Linda bertambah marah, menantunya yang ini benar-benar barbar dan berani melawannya, beda sama mendiang kakaknya yang cenderung pasrah dan loyo.
"Tidak! Ternyata Adiva tidak seperti yang saya bayangkan, dia ternyata berani melawan saya? Saya harus semakin pintar dan harus punya trik-trik yang cerdas, gimana caranya membuang dia dengan aman dari rumah saya!" batin mama Linda merasa tertantang. kemudian, dengan cepat mendorong Adiva sampai Adiva tersungkur dilantai.
Mama Linda menatap puas melihat Adiva yang jatuh karena didorong kemudian mama Linda melangkah beberapa kaki, dengan sepatu cantiknya, mama Linda menginjak jari jemari Adivaq. Mama Linda *******-***** jari Adiva dengan kasar.
"Aaaa, sakiit!" teriak Adiva kemudian mendorong mama Linda sampai mama Linda hampir terjatuh, untung Daffa sigap menangkap mamanya.
Adiva mengelus dan meniup jari jemari yang barusan akan dihancurkan oleh kaki ibu mertuanya. Kemudian Adiva bangkit sembari meringis dan menatap nyalang ibu mertuanya.
"Jari ini saya gunakan untuk menulis, belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus mas Alzam, bukan digunakan untuk bertindak semena-mena kepada menantu!" lantang Adiva melawan mama Linda. kemudian Adiva berjalan cepat kedalam rumah. Tangannya berdarah karena ulah mama mertua jahat.
"Dia menantu yang kurang waras, Daffa, kamu lihat kan barusan, dia berani menampar wajah mama kamu ini?"
"Iya ma, tapi kata Adiva mama yang mulai duluan ya? Tapi aku saranin sama mama, jangan terlalu kasar lah sama itu anak,"
"Suka-suka mama mau memperlakukan dia seperti apa! Yang pasti, mama semakin benci ke dia!"
"Yaudahlah terserah mama, Daffa bisa apa? Daffa aja selama ini hidup dibalik keteknya mama?"
"Bagus! Nah gitu dong sadar diri jadi anak! Jangan kaya kakak kamu pembangkang, hmm mama makin sayang sama kamu Daffa," ucap mama Linda senang lalu memeluk hangat Daffa.
Sementara itu Adiva tengah merenung kesal didalam kamarnya sembari memegang jari jemarinya yang masih terasa sakit, yang tadi diinjak oleh mama Linda. Namun Adiva tidak ingin menangis, dirinya bukan gadis lemah. Justru Adiva semakin penasaran, apakah dulu kak kama pernah mendapat perlakuan yang kasar juga dari mama Linda? Karena yang Adiva tahu mama Linda tidak suka punya menantu miskin.
__ADS_1
Tiba-tiba, Adiva melihat seorang pembantu yang punya sifat misterius. Yang bagi Adiva dia penuh dengan misteri. Dia adalah bi Sri. Bi Sri tengah berdiri sedih menatap nya dari pintu kamar.
bersambung...