MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
CEO tampan yang membuat hatinya tersentuh


__ADS_3

"Iya mas. Malah aku lebih bahagia kalau dihukum tidur di kolong kamar. Tidur sama kamu, kamu selalu ingin menguasai tempat. Bahkan aku pernah ditendang bokong aku sampai jatuh dari atas kasur. Sakit tahu orang lagi mimpi indah juga eh malah ditendang,"


Adiva mengingat kenangan menjengkelkan itu.


"Hahahaha, kalau nggak mau dihukum lagi, kamu harus patuhi peraturan-peraturan yang saya berikan. Kalau mau ketemu laki-laki lain, harus izin dulu sama saya dan saya akan mengirimkan bodyguard untuk mengawasi pertemuan kalian."


"Terlalu cemburuan banget sih mas? Tapi aku juga ga sepencemburu itu kalau kamu ketemuan sama perempuan lain! Padahal hati seorang perempuan jauh lebih sensitif. Iih, aku nggak suka diawasin!" marah Adiva sembari bersedekap dada dan memalingkan wajahnya ke kiri.


"Ooooo ho ho, nggak boleh menolak. Mau nggak mau, suka tidak suka, mulai besok akan ada bodyguard yang menjaga kamu, kemanapun, dan kapanpun itu!"


Daffa sedari tadi terus mengamati perdebatan yang terjadi diantara sepasang suami istri itu, sampai ia merasa pusing sendiri lalu masuk kedalam rumah sembari mengelus-elus rambutnya.


"Pokoknya aku nggak mau mas! Itu lebay!"


"Nggak! Itu nggak lebay! Itu namanya cinta! Harusnya kamu bahagia dong, punya suami yang mempedulikan keselamatan dan kesetiaan istrinya. Gimana coba kalau laki-laki yang ingin bertemu kamu ternyata punya niat yang jelek sama kamu. Gimana kalau kamu akan diperkosa? Dinodai? Dilecehkan? Hayo! Gimana hayo! Kalau saya lagi ngomong lihat wajah saya dong!"


"Iya mas, nih aku lihat wajahmu. Tapi siapa juga orang yang nyaman melihat wajah emosional kaya gitu. Please mas, jangan ada bodyguard-bodyguard segala, aku bisa jaga diri aku sendiri kok!"


"Nggak bisa, keputusan saya udah bulat. Saya akan memanggil bodyguard terbaik yang saya punya. Dia ganteng, dan awas kalau kamu sampai naksir sama dia."


"Idih, emangnya aku cewek apaan. Cuma ada kamu dihati aku, tapi kamunya nggak percaya. Nyebelin banget sih."


"Daripada kita berantem terus disini, mendingan kita makan malam didalam. Semua orang udah nungguin kita tuh didalam." ajak Alzam, capek sendiri meladeni Adiva yang terus saja membalas.

__ADS_1


Di meja makan, semua orang menikmati makanan dengan lahapnya. Sesekali sembari ngobrol. Mama Linda membahas soal pemilik salon Aldiv yang menurutnya terlalu songong, karena berani sekali bersikap cuek kepadanya tadi siang, yang dimana dirinya adalah seorang konglomerat ternama.


"Dendam banget mama sama pemilik salon itu. Tapi mama suka sama hasil pelayananan itu salon kecantikan, meski pemiliknya songong abis." tutur mama Linda seraya memotong daging dengan kasar karena greget sekali sama pemilik salon itu.


"Sama ma, aku juga sebel abis sama itu orang. Tapi kita bisa apa? Kita aja cuma pelanggan di salon itu." sahut Amel.


"Kita bisa apa? Ha? Ya jelas kita bisa dong. Mama kan punya Alzam, yang selalu bisa mama andalkan. Alzam?" panggil mama Linda dengan lembutnya sembari tersenyum ingin sesuatu.


"Ada apa ma?" jawab Alzam malas.


"Mau kan bantuin mama? Bikin sebuah bisnis besar jadi gulung tikar?"


"Ya mau aja kalau orang itu ada salah sama kita, atau bisnisnya adalah bisnis yang terlarang untuk dilakukan."


"Aduh, aku harus mengarang cerita nih supaya Alzam jadi mau buat hancurin salon kecantikan itu." batin mama Linda sembari menatap licik.


"Masa sih? Alzam mudah buat menutup tempat seperti itu, tapi tanpa perlu Alzam bertindak itu lebih baik. Mama laporin aja ke pihak yang berwenang kalau memang mama yakin tempat itu ada praktek haram terselubung. Dan satu lagi, mama harus berhati-hati. Mama harus kasih bukti yang kuat!"


Adiva tiba-tiba saja menggebrak meja, membuat Amel yang sedang minum jadi tersedak hebat.


"Uhuk uhuk, uhuk." suara Amel batuk-batuk.


Amel terus batuk selama hampir satu menit, karena tersedak barusan akibat Adiva yang tiba-tiba saja menggebrak meja itu. Daffa menenangkan Amel, menyuruh Amel untuk minum kembali dengan perlahan. Setelah itu Adiva menjadi santapan mata orang-orang yang ada di meja makan. Tiga dari mereka seperti marah besar, kecuali suami tampannya.

__ADS_1


Apalagi mama Linda, yang menatap Adiva dengan tatapan melotot seperti biasanya ia sedang dimarahi dan dibenci. Mama Linda menatap Adiva nyalang, menakut-nakuti Adiva lalu bertanya.


"Ada apa gerangan kamu tiba-tiba menggebrak meja, hah? Menantu kere?!"


"Eeeem, aku tuh cuma geram aja sama mama. Masa iya sih mama menuduh bisnis orang lain tanpa bukti. Apa nggak takut kalau tuduhan mama itu jadi fitnah? Fitnah kan lebih kejam daripada pembunuhan mam."


"Mama nggak fitnah ya, tapi mama lihat sendiri dengan mata kepala mama kalau banyak laki-laki yang datang ke salon khusus perawatan kecantikan wanita itu. Kalau kamu nggak percaya, nih Amel menantu kaya kesayangan mama saksinya."


"Udah sih Adiva, kamu anak kecil tahu apa, nggak usah ikut campur ya! Udah tuh makan aja. Kamu kan hobinya makan sama tidur. Gimana mau sukses coba! hahahaha." ledek Amel walau tenggorokannya masih terasa gatal.


Kalau Amel nggak lagi hamil udah Adiva hajar habis-habisan. Kata-kata Amel selalu membuat hatinya menjadi nyelekit.


"Jadi gimana Alzam? Kamu mau kan bantuin mama, balaskan dendam mama karena si pemilik salon itu songong banget sama mama,sama Amel juga."


"Emangnya dia ngelakuin apa sih ma sehingga mama sampai dendam segala. Dendam sama orang lain itu nggak baik ma, mending maafin aja kesalahan dia kalau salahnya nggak besar-besar amat. Memaafkan adalah perbuatan yang sangat mulia dan pastinya mama akan disayang Allah kalau mama seperti itu, menjadi seorang yang pemaaf."


"Jangan ceramahin mama nak, mama ini jauh lebih tua daripada kamu! Pengetahuan mama jauh lebih banyak daripada kamu! Mengerti!"


"Iya ma, maafin Alzam kalau sok menceramahi mama. Tapi apa orang itu bikin kesalahan yang fatal sama mama, sehingga mama jadi dendam sama orang itu? Bahkan mama sampai mau menghancurkan bisnis yang dia bangun dengan bersusah payah? Ingat ma, menghancurkan bisnis orang lain itu perlu pertimbangan yang kuat,"


"Dia itu tadi siang mama kan ingin selfie sama dia, tapi dia tolak mentah-mentah. Alasannya sih lagi sariawan terus dia tinggalin mama sama Amel gitu aja, nggak menghargai banget!"


"Cuma kaya gitu? Nggak sampai memukul fisik mama? Nggak sampai merampas harta-harta mama? Kalau cuma seperti itu masalahnya, Alzam nggak mau buang-buang uang dan tenaga buat hancurin salon kecantikan itu. Justru harusnya mama yang introspeksi diri ma. Mama harus lebih bisa menghargai usaha yang udah dibangun oleh orang lain. Ada keringat dan air mata dibalik itu semua."

__ADS_1


Adiva sangat tersentuh melihat suaminya yang menolak dengan tegas permintaan jahat mama kandungnya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2