MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Bersiap Menghadapi Mertua


__ADS_3

Adiva turun dari atas panggung pengantin kemudian duduk disamping salah satu meja yang penuh dengan hidangan. Mata Adiva melototin semua makanan-makanan yang dihidangkan dengan rapi dan cantik.


Perut Adiva rasanya keroncongan sekali dan nafusnya jadi nggak tahan melihat makanan-makanan lezat mahal yang tersaji dengan begitu menggugah diatas meja makan.


Alzam membeli makanan dan minum dari vendor catering terbaik yang dimana vendor catering yang dibayar itu menyiapkan menu makanan dari dua puluh negara Asia. Tersaji dengan enak dan menggoda netra diatas meja-meja panjang dan juga meja-meja bundar.


Dari semua menu makanan yang tersaji, ada salah satu masakan khas Indonesia yang menjadi salah satu dari sekian banyak makanan yang terhidangkan diatas meja makan. Masakan itu adalah rendang dan cuma itu satu-satunya masakan yang pernah dicicipin oleh Adiva sejauh ini.


Itupun dulu Adiva hanya pernah makan rendang di warteg, bukan rendang premium yang menjadi salah satu menu makanan dalam sajian pesta pernikahannya hari ini. Adiva langsung mengambil piring, kemudian mengambil banyak nasi, aneka lauk pauk, dan juga ada bolu pandan premium yang bercampur menjadi satu diatas piring besar yang Adiva pegang. Entah berapa ribu kalori yang akan dilahap Adiva kali ini tapi Adiva tetap bisa menjaga berat badan ideal karena rutin berolahraga.


Amel dan Daffa tampak shock melihat istri Alzam yang begitu kampungan dan mengambil banyak saat melihat makanan.


"Ya ampun, norak banget ya itu perempuan! Masa iya sih dia ambil makanan sebanyak itu, benar-benar ga elegan! Ya ampun, menjijikkan sekali!" nyinyir sekertaris Alzam yang ganjen.


Mendengar sekertarisnya nyinyirin istri barunya, Alzam bergegas berjalan dengan santai kearah si sekertaris nyinyir.


"Eh bapak Alzam, mari makan pak?" ucap sekertaris nyinyir ramah dan merasa takut bosnya datang seperti akan marah. Sekertaris itu gugup juga gemetar, takut dirinya dipecat.


"Besok kamu akan mendapatkan uang sebesar lima puluh juta rupiah,"


Sang sekertaris tampak spechlees setelah Alzam bicara uang yang akan diberikan untuknya. Malah dia akan mendapatkan uang, dalam rangka apa ini? Apakah dirinya mendapatkan sebuah bonus karena hasil kinerjanya selama ini disukai oleh pak Alzam? Karyawati nyinyir yang juga masih berada di samping si sekertaris merasa iri ketika melihat rekan kerjanya akan mendapatkan uang sebanyak itu dari sang CEO idaman. Sekretaris itu langsung berdiri dengan penuh gairah. Sejenak ia menatap si karyawati dengan tatapan mengejek.


"Apakah hasil kerjaan saya bagus pak? Sehingga bapak akan kasih saya bonus yang sangat besar, uang lima puluh juta itu? yang akan bapak berikan ke saya? Apa ini tidak berlebihan pak? Atau bapak jangan-jangan diam-diam naksir sama saya ya hehehehe?" tanya sekertaris genit itu merasa percaya diri.


Alzam ingin terkekeh namun tidak jadi, hanya tersenyum heran saja sembari menatap kearah langit-langit gedung. Kemudian Alzam kembali menatap sekertarisnya.


"Itu uang pesangon kok, mulai besok kamu tidak lagi bekerja di perusahaan saya, mengerti kamu!" lantang Alzam sembari bersedekap dada.

__ADS_1


Kemarahan Alzam menyita perhatian dari para tamu undangan, sekarang giliran si sekertaris genit yang menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam gedung.


"Kenapa pak Alzam memecat saya? Apa salah saya?" isak sekertaris genit sembari bersimpuh di kaki Alzam.


Karyawati yang sedari tadi ribut dengan sekertaris merasa diatas angin melihat si sekretaris yang akan kehilangan pekerjaannya.


"Karena kamu berani sekali nyinyirin istri saya. Kamu tahu kan siapa saya? Saya tidak akan terima jika anggota keluarga saya dinyinyirin atau dihina sama orang-orang rendahan seperti kalian!" lanjut Alzam seraya menunjuk si karyawati juga.


Ternyata Alzam juga mengetahui nyinyiran si karyawati tadi kepada Adiva sesaat sebelum ijab kabul berlangsung. Sekarang ada dua wanita malang yang dipermalukan di depan umum oleh Alzam, mereka berdua bersimpuh di kaki gagah Alzam dan Alzam jadi merasa risih, Alzam memanggil sekuriti untuk mendepak mereka berdua dari dalam gedung pernikahan.


Dengan begitu mirisnya para tamu undangan dan juga Alzam, Adiva, Daffa, dan Amel melihat dua wanita malang yang diseret paksa oleh sekuriti keluar gedung.


"Ouh, mereka tadi nyinyirin gue? Terus ditendang dari sini? Ya gue bodoamat lah, makan tuh nyinyiran kalian! Mendingan gue makan aja sampai kenyang, hahah." gerutu Adiva tidak peduli dengan nasib dua pekerja di kantor suaminya itu.


Alzam merasa senang setelah berhasil mempermalukan sekertaris dan karyawatinya yang tukang nyinyir. Kemudian Alzam berjalan keatas panggung lalu meminta microfon yang dipegang MC. Alzam ingin mengucapkan kalimat-kalimat kepada semua hadirin mengenai rasa terimakasih dan juga ingin berkata tentang istrinya.


"Siang." sahut semua orang kecuali Adiva yang masih sibuk makan, Daffa, dan Amel yang malas menjawab sapaan Alzam.


"Pertama-tama saya mau mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena kalian semua sudah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara pernikahan saya dengan Adiva. Meski ibu saya sendiri tidak hadir, karena dia sedang sakit." ucap Alzam disaksikan dengan hikmat oleh para hadirin.


"Emang mama kamu lagi sakit ya Daf?" bisik Amel bertanya.


Daffa menggeleng


"Kakak aku bohong. Mama sehat-sehat aja dirumah, cuman dia lagi nangis terus sih didalam kamarnya tadi. Dia ga terima kak Alzam menikah dengan cewek udik, tengil itu." jawab Daffa berbisik seraya melirik sinis kearah Adiva yang sibuk mengunyah bolu.


"Saya menikah dengan cewek blangsak seperti Adiva mungkin membuat sebagian dari kalian bertanya-tanya," lanjut Alzam.

__ADS_1


Adiva berhenti mengunyah makanan kala dirinya disinggung oleh suaminya. Lalu menatap ke arah sang suami yang sedang berdiri gagah diatas panggung. Sang suami juga sedang menatapnya.


"Saya menikah sama dia karena saya benar-benar cinta sama dia, wajahnya sangat mirip dengan istri saya yang sudah mati karena dia adalah adiknya. Dengan itu setidaknya Adiva bisa mengobati kerinduan saya kepada Zahra meski sifat dia beda, dia yang sangat kampungan banget, saya tetap menyayangi dia kok." tutur Alzam berbohong, faktanya dirinya sama sekali tidak sayang kepada Adiva.


"Hebat banget pak Alzam ini mau nikah dengan gadis aneh seperti dia, semoga bapak bisa membawa perubahan yang lebih baik ya kepada mbak Adiva," sahut salah satu tamu undangan.


Alzam tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan oleh salah satu tamu undangan itu, sembari melirik senang kearah Adiva yang sekarang sedang cemberut bete. Karena Alzam ia anggap telah mempermalukan Adiva di depan ratusan orang yang hadir.


"Idih katanya janji mau belain aku, membela apaan! Masa gue dibilang blangsak didepan banyak orang, hellouw suamiku? Apa sih yang ada didalam otak kamu? Katanya mau belain aku! Kok malah malu-maluin aku!" batin Adiva sembari celingukan melihat orang-orang didalam gedung pernikahan, semua memperhatikannya.


Singkat waktu acara sakral itu sudah selesai. Usai melangsungkan acara pernikahan, Alzam mengajak Adiva untuk ikut pulang bersama dengannya ke rumah mamanya. Karena mulai hari ini Adiva akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Adiva harus siap menghadapi segala rintangan yang mungkin sedang menunggu dirinya, menguji kesabaran dan ketangguhan dirinya dalam menghadapi tantangan.


Di dalam mobil, Alzam dan Adiva sedang mengobrol.


"Gimana acara pernikahan kita hari ini?"


"Buruk karena lo udah mempermalukan gue lah kak, gue juga tadi jadi bahan nyinyiran pegawai di kantor lo. Huhuhu, tapi makanannya enak-enak sih."


"Makanan aja yang ada dalam pikiran kamu?" kekeh Alzam sembari mengacak-acak rambut istrinya.


"Iih, berantakan lagi deh rambut gue!"


"Bukannya kamu suka hal-hal yang berantakan? Mulai sekarang jangan panggil gue kakak lagi ya?"


"Hmm, terus manggilnya apa dong?"


"Panggil saja mas, kalau didepan orang lain. Saya tidak mau orang lain curiga kalau pernikahan kita ini cuma tameng doang."

__ADS_1


"Iya deh kak, eh om, eh mas, aduuh hehehehe."


__ADS_2