MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Niat Mempermalukan Malah Dipermalukan


__ADS_3

"Masa sih anaknya jeng Linda mau punya istri yang jelek dan tomboy seperti kamu? Pasti kamu cuma orang yang suka ngayal ketinggian, yang mengaku-ngaku sebagai istri dari anaknya jeng Linda kan?" tanya jeng Yati seolah tidak percaya.


"Dasar emak-emak ini ternyata sama pedes mertua gue! Siapapun yang jadi menantunya pasti akan merasa ngenes. Gue harus lawan emak-emak nyinyir ini!" batin Adiva kesal.


"Tante, mas Alzam itu memilih saya sebagai istrinya bukan memandang kecantikan ya! Tapi karena dia benar-benar tulus mencintai saya! Kalau tante masih tidak percaya juga, coba tanya ke mama mertua saya! Mama Linda!" suruh Adiva.


Jeng Yati menatap serius ke mama Linda lalu bertanya.


"Apakah betul yang dibilang oleh gadis urakan ini jeng? Dia menantu kamu jeng?"


"I iya jeng, dia menantu saya. Tapi yaudahlah nggak penting. Adiva mendingan kamu pulang deh, daripada membuat kehebohan disini!" lantang mama Linda.


"Kenapa malah sekarang mama nyuruh aku pulang? Aku kan mau makan enak juga disini ma?" tolak Adiva.


"Hah, makan enak? Tapi dirumah kita juga banyak makanan enak Adiva. Nggak perlu disini jugaaaa!"  balas mama Linda seraya melakukan penekanan nada saat menyebut kata Juga.


"Nggak, pokoknya aku gak mau pulang. Udah jauh-jauh datang kesini masa disuruh pulang sih. Kalo aku nggak boleh masuk, maka aku akan membuat kekacauan disini!" ancam Adiva.


Jeng Yati tampak risau mendapat ancaman Adiva.


"Yaudah, kamu boleh masuk! Ayo kita masuk!" ajak jeng Yati dengan nada bicara yang sewot.


Mereka bertiga kemudian melangkah masuk kedalam rumah, menuju ruang tamu tempat para perempuan paruhbaya sosialita sedang duduk berkumpul sembari ngeteh cantik. Kedatangan Adiva disambut dengan tatapan dari semua orang, lagi-lagi jadi pusat perhatian namun Adiva sudah terbiasa.


"Siapa perempuan muda yang datang ini jeng Yati? Saya baru lihat." tanya seorang ibu-ibu berambut pirang yang bernama jeng Annabelle.

__ADS_1


"Dia itu menantunya jeng Linda, waktu itu saya datang ke acara pertunangan anaknya yang kedua. Tapi waktu itu penampilannya nggak kaya gini dah," sahut ibu-ibu gendut berkacamata bernama jeng Sari. Menatap heran penampilan urakan Adiva.


"Aduh ibu-ibu yang cantik, maaf ya semuanya jadi menunggu lama. Bisa kita mulai sekarang kan ngocoknya? Hehehe." timpal jeng Yati mengalihkan perhatian.


Semua orang duduk bersama, kemudian jeng Yati sebagai ketua arisan akan mulai mengocok-ngocok lintingan kertas didalam toples. Siapa nama yang keluar ialah yang berhak mengantongi uang sebesar seratus juta rupiah pada malam ini.


Sementara menunggu hasil kocokan arisan keluar Adiva tampak sedang melirik penuh nafsu makan kearah meja makan karena disana banyak sekali tersaji makanan-makanan bintang lima yang rasanya sudah tak perlu diragukan lagi. Pasti enak. Seolah-olah makanan-makanan itu sedang memanggil Adiva untuk menyantapnya.


"Nyam nyam, nggak sabar gue habisin makanan-makanan enak itu," batin Adiva ambisius.


Setelah beberapa saat mengocok kertas nama, jeng Yati pun mengeluarkan satu qnama yang akan beruntung mendapatkan uang seratus juta pada malam hari ini. Semua ibu-ibu sedang berharap cemas siapakah nama yang akan keluar. Mereka yang belum pernah menang arisan berharap nama mereka yang keluar dan yang sudah menang arisan, mereka hanya tersenyum sembari akan mengeluarkan uang yang sudah mereka bawa didalam tas mereka masing-masing.


"Selamat kepadaaaaa, jeng Linda, aaaaa congratulations jeng? Kamu sungguh beruntung dan ga sia-sia dateng arisan malam ini." ucap jeng Yati kemudian memeluk jeng Linda.


Senang bukan main mama Linda karena namanya yang keluar. Dia akan membawa banyak uang malam ini. Besok pagi, mama Linda berencana akan belanja, berfoya-foya bersama dengan si matre Amel.


"Udah rezeki kamu jeng. Jangan lupa traktirannya?" timpal jeng Annabelle.


"Beres jeng Anna, hahahaha." sahut mama Linda seraya tertawa.


"Yaudah kalau begitu, sekarang waktunya kita untuk menikmati jamuan yang sudah saya sediakan. Mari dimakan jeng jeng, keburu dingin loh." ajak jeng Yati mempersilahkan tamu-tamunya makan malam.


"Ah sudah dingin itu! Harusnya tadi makan dulu baru ngocok." timpal jeng Annabelle.


Mereka semua kemudian melangkah lalu mengambil tempat duduk mereka masing-masing di meja makan. Semua orang mengambil makanan apa yang mereka inginkan diatas meja, hingga tiba giliran Adiva yang mengambil makananya, Adiva mengambil banyak porsi makanan lebih banyak dari yang lain.

__ADS_1


"Kamu banyak juga ya makannya,jeng Sari aja kalah loh." ujar jeng Yati merasa heran seraya memperhatikan tumpukan makanan yang berada di piring makan Adiva.


"Ya emang gini kalau aku makan tante. Nggak bisa jaim kalau didepan makanan enak, bawannya pengen abisin semuanya, hehehe. Semuanya, mari makan?" kata Adiva tanpa rasa jaim, lalu mulai menggigit paha ayam dengan sangat nafsu.


Adiva makan seperti orang kesetanan, ia lahap dengan cepat dan rakus. Bahkan sesekali Adiva bertingkah jorok yaitu ngupil didepan orang yang sedang makan. Membuat orang-orang menjadi mual melihat tingkah jorok Adiva. Apalagi ekspresi malu bercampur geram mama Linda, niatnya mempermalukan menantu, tapi dirinya sendiri yang dipermalukan oleh menantunya.


"Aduuh, kenapa jadi gini sih? Mau ditaruh mana muka saya kalau gini ceritanya? Punya menantu tapi sikapnya kaya orang utan, amit amit banget sih." ujar mama Linda kesal didalam hatinya.


"Hahahaha, mama Linda malu kan? Emang enak aku permalukan mama didepan orang-orang? Aku kira mama sudah berubah tapi ternyata, mama masih sama aja ya? Menyuruh aku dandan seperti ini hanya untuk mempermalukan aku didepan teman-temannya." batin Adiva sembari melirik nakal kearah mama mertuanya.


Pulang dari arisan, disisi lain mama Linda merasa bahagia karena dirinya pulang dengan membawa uang seratus juta namun dirinya juga merasa malu karena dipermalukan oleh Adiva tadi saat jamuan makan malam dirumah jeng Yati. Mama Linda tidak bisa melupakan begitu saja kejadian tadi apalagi ini menyangkut nama keluarganya.


Turun dari mobil didepan rumah, mama Linda langsung menegur Adiva dengan ketus.


"Adiva, kenapa kamu tidak bisa menjaga etika kamu didepan teman-temannya mama sih? Dimana sopan santun kamu sebagai seorang tamu? Mama tahu tamu adalah raja, tapi kamu nggak boleh bersikap seperti tadi! Apa perlu mama masukin kamu ke sekolah etika dan tata krama? Biar kamu bisa berubah jadi lebih sopan?"


"Ya maaf ma, aku janji kedepan aku bakal merubah sikap aku. Ya kalau mama juga mau merubah sikap mama sih. Sikapku, tergantung orang menempatkan aku."


"Apa maksud kamu? Sifat mama yang mana yang perlu untuk dirubah hah? Perasaan mama selama ini selalu bisa menjaga etika. Kamu ini makin kesini makin ngaco ya! Sekarang kamu masuk kedalam dan tidur didalam gudang!"


"Loh, mama kenapa nyuruh aku tidur digudang? Nanti kalau mas Alzam tahu, mama bisa dimarahin loh!"


"Alzam nggak akan tahu, semua akan saya atur tapi ini adalah hukuman untuk kamu dan kamu tidak boleh membantah! Kamu tidurlah di gudang malam ini bareng tikus-tikus menjijikkan!" titah mama Linda seraya berjalan duluan menuju kedalam rumah.


"Huft! Dasar mertua menyebalkan!" gerutu Adiva pelan.

__ADS_1


"Bicara apa kamu? Kamu pikir saya tidak mendengarnya hah? Kuping saya masih berfungsi dengan baik." marah mama Linda seraya berbalik badan.


Bersambung...


__ADS_2