MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Memberi Nama


__ADS_3

Apakah ini bukan sekedar mimpi yang indah? Walau dua hari saja ditinggal, tapi Adiva udah sekangen itu. Apalagi kalau ditinggal selama berbulan-bulan, tidak bisa dibayangkan. Adiva berjalan seraya mencubit-cubit tangannya. Rasanya sakit yang artinya kejadian sekarang ini bukanlah mimpi semata.


Adiva menunggu Alzam sampai Alzam mengetuk pintu didepannya. Adiva tersenyum-senyum gembira.


Tok... Tok... Tok


"Assalamualaikum sayang? Bukain pintu? Saya sudah kembali nih."


"Waalaikumsalam salam pangeran hatinya aku."


Adiva membuka pintu langsung memeluk erat suaminya. Adiva tidak sabar lagi melihat kebahagiaan Alzam ketika bertemu dengan bayinya yang sudah lahir nanti.


"Bentar deh, ada yang aneh sama perut kamu?"


"Apa yang aneh dari perut aku sayang?"


Adiva melepas pelukan dengan sang suami lalu menatap bingung wajah Alzam.


"Perut kamu udah kempes ya? Jangan bilang kalau kamu sudah melahirkan anak kita? Dimana anak kita sayang? Aku ingin melihat dia. Dia baik-baik saja kan?" cecar Alzam dengan berbagai pertanyaan sembari memegang erat bahu Adiva.


Adiva tersenyum lalu menarik manja tangan kekar suaminya. Adiva membawa sang suami kedalam kamar yang menawan. Lantas Adiva menunjukkan bayi mungil yang sedang terbaring imut diatas ranjang bayinya. Alzam menatap lekat-lekat kearah bayi yang sedang memejamkan netranya dengan pulas itu.


Tak terasa air mata mengalir diwajah tampan Alzam, melihat anaknya sudah hadir kedunia ini. Dunia yang indah tapi juga penuh dengan perjuangan untuk melewatinya. Alzam mengusap pelan kepala kecil anaknya. Sembari menunggu bayinya terbangun buat diadzani.


Ketika bayinya sudah bangun Alzam langsung mengemban bayinya, lalu Alzam melantunkan adzan didekat telinga bayinya. Adiva sangat terharu dan senang sekali melihatnya.


Usai adzan, Alzam lalu menimang-nimang bayinya. Alzam begitu mencintai bayinya.


"Bayi kita laki-laki dan aku yang berhak memberi dia nama setelah perjanjian kita dulu sayang?"

__ADS_1


"Kamu benar sayang. Berikan dia nama yang indah dan juga yang baik artinya.


"Aku memberi bayi kita yang tampan ini nama Wildan Aldiv Pradipta. Semoga kelak kamu menjadi anak yang berbakti kepada kami, berguna bagi banyak orang, dan berprestasi. Kamu akan menjadi jagoan mama, jagoan papa. Welcome dalam keluarga kita sayang." harap Alzam lalu mencium manja kening anaknya.


Adiva juga ikut menangis. Tak terasa sekarang dirinya sudah berganti status menjadi seorang ibu, diusianya yang masih dua puluh satu tahun. Alzam juga memeluk Adiva bersama dengan mengemban bayinya. Mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain.


Bi Sri melihat mereka dari belakang, mereka adalah keluarga yang perfect dan bahagia menurut bi Sri. Bi Sri ikut bahagia juga melihatnya. Bi Sri mendoakan semoga mereka langgeng dan selalu saling mencintai, jangan malah saling melukai.


***


Didalam penjara, mama Linda tengah makan malam didalam sel tahanan bersama dengan para tahanan lain. Mama Linda fokus makan namun sesekali mencuri-curi pandang kearah pentolan napi, namun tatapan mama Linda tampak sinis.


Pentolan napi itu memang tampak serakah. Separuh bagian dari jatah makanan mereka termasuk jatah makanan mama Linda diembat oleh dia. Mama Linda kesal dan berharap pentolan napi itu lebih baik mati saja.


"Lihat saja apa yang akan terjadi kalau saya udah dapat banyak uang dari anak saya, tamat riwayatmu napi gembrot serakah!" batin mama Linda mendendam.


Mama Linda ketahuan sedang menatap sinis kearah pentolan napi itu. Lalu pentolan napi itu melemparkan bungkus nasi kearah mama Linda. Takut dianiaya, mama Linda bergegas minta maaf dan berjanji akan memijat si pentolan napi setelah selesai makan nanti.


Alzam bersama dengan Adiva dan juga baby Wildan sedang berkumpul bersama di kursi taman, sembari menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Mereka juga menyediakan camilan sehat dan juga air kelapa muda di samping mereka.


"Siang nanti mobil mewah terbaru kita seharga satu milyar akan segera tiba dirumah kita sayang."


"Mas, kamu beli mobil lagi? Kan mobil kita yang biasanya kita pakai masih bagus mas. Jangan boros-boros uang dong. Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Bisa jadi terjadi sesuatu yang mengharuskan kita mengeluarkan banyak pengeluaran kan? Betapa pentingnya punya simpanan uang mas."


"Aku tahu sayang, tapi mobil itu adalah hadiah untuk kamu. Istri mas yang habis memperjuangkan kelahiran bayi ini. Kamu terima ya? Hargai dan terimalah pemberian suamimu semurah atau semahal apapun harganya."


"Iya mas, makasih ya mobilnya? Tapi lain kali kalau mobil keseharian kita masih bagus, kita nggak usah beli dulu yang baru. Aku cuma ngga suka aja mas lihat orang yang suka pakai uang untuk hal ginian. Banyak hal lain yang lebih penting kan? Misalnya menabung untuk cadangan uang di masa depan?"


"Iya sayang. Yaudah ya jangan bahas lagi. Selagi mas mampu memberikan kamu kenapa tidak. Mulai sekarang kamu harus belajar hidup seperti apa yang mas inginkan. Jangan terlalu berhemat sesekali beli barang mahal nggak masalah. Mas juga sering menabung kok."

__ADS_1


"Aku bangga sama kamu mas."


Adiva tersenyum manis untuk si tampan ini.


Tiba-tiba ponsel Adiva berbunyi. Saat Adiva cek ternyata itu adalah telepon dari rumah sakit. Pihak rumah sakit menyampaikan kabar duka bahwa Jenna telah berpulang kepada Sang Pencipta.


Sontak saja Adiva langsung menangis sedih, mendengar kabar kematian dari tetangga baiknya itu. Perempuan yang sudah menolongnya dan menyelematkan bayinya lahir kedunia.


"Jenna, tetangga baikku." isak Adiva sedih.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi dengan Jenna?"


"Jenna meninggal mas. Dia meninggal gara-gara disiksa sama suaminya yang laknat itu! Hohoho, dia waktu itu bantuin aku, aku hampir dibunuh sama pak Nick waktu itu mas."


"Waktu mas lagi di pulau juga diam-diam ada seseorang yang mengikuti mas dan hampir saja membunuh mas dalam bungalow. Dia mengaku orang suruhan pak Nick. Semoga pak Nick membusuk di penjara!"


"Perbuatan pak Nick nggak akan pernah aku lupakan! Dia manusia yang sangat jahat! Dia orang yang udah bikin hari kelahiran Wildan jadi tragis!"


Alzam sangat geram, dendam, dia mengepalkan tangannya. Ingin membalas pak Nick yang kejam itu.


Adiva menangis dalam pelukan Alzam. Mereka berdua sama-sama bersedih atas meninggalnya Jenna.


Sore harinya mereka melayat ke pemakaman Jenna.  Bayi mereka dititipkan sementara kepada bi Sri dan juga dokter Sarah. Suasana pemakaman ada beberapa anggota keluarga Jenna yang datang melayat ke Jakarta. Adiva membawa bunga yang akan ia taburkan ke makam yang masih basah itu. Hari ini begitu penuh dengan duka, itu yang Adiva dan Alzam rasakan. Orang yang Adiva sayangi telah pergi lagi, setelah kematian kak Zahra dulu. Jenna juga salah satu wanita terbaik dalam hidupnya meski diantara mereka tidak ada hubungan darah.


"Ya Allah, kenapa orang-orang yang aku sayang meninggal dengan cara yang tragis. Hamba berharap semoga pak Nick dihukum penjara seumur hidupnya. Semoga dia menderita didalam penjara. Sungguh, aku sangat membenci orang-orang yang seperti dia." harap Adiva sedih seraya menatap ke batu nisan Jenna.


Alzam menenangkan Adiva. Alzam mendukung Adiva untuk selalu bersemangat. Ada dirinya yang sangat mencintai dan akan selalu melindunginya.


"Sayang, mas jamin pak Nick akan mendapatkan balasannya didalam penjara." tukas Alzam dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Alzam kepada pak Nick?


Bersambung...


__ADS_2