MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Ayah Kandung Anak Amel Datang


__ADS_3

Mendekati atau menyapa orang yang sedang marah atau stress berat biasanya terkadang akan berakibat mencelakakan diri sendiri. Jika dia adalah orang yang jahat terkadang dia tidak akan bisa mengontrol dirinya saat sedang seperti itu. Mereka tak segan menyakiti orang yang berusaha menenangkannya jika orang itu adalah orang yang ia anggap sebagai musuhnya.


Kunci utama dari itu semua adalah menghindar dulu, harus sabar dalam kondisi apapun. Jangan dekati dia sebelum kondisinya benar-benar kembali seperti biasanya.


"Kenapa kamu lempar perut aku pakai jeruk besar? Aku sedang mengandung loh Mel." tutur Adiva dengah wajah yang kaget.


Alzam bergegas melangkah lalu menarik Adiva menjauh dari Amel. Alzam tahu kondisi Amel yang sedang seperti apa, Alzam lebih memilih membawa Adiva keluar saja daripada terjadi kekacauan didalam.


"Dasar wanita iblis! Bayi yang sedang kamu kandung itu pasti bayi iblis! Lebih baik aku bunuh saja bayimu hah!" teriak Amel seraya mengacak-acak rambutnya, sembari menatap penuh emosional kepada Alzam dan Adiva.


"Kamu boleh ngatain aku tapi jangan kamu katain calon anak aku! Mengerti kamu! Dasar adik ipar yang jahat!" balas Adiva emosi.


"Sssst, udah sayang, jangan kamu balas dia. Lebih baik sekarang kita pergi saja ya, toh kita udah nengokin keponakan kita." ajak Alzam dengan nada lembut.


Lantas mereka berdua keluar dari dalam ruangan Amel. Daffa tampak terlihat tidak enak sekali wajahnya kepada Alzam dan juga Adiva. Daffa mencoba memberanikan diri menyuruh Amel untuk mengemban anaknya sendiri.


"Sayang, kamu jangan marah-marah mulu dong. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu emban dulu ya anak kamu ini, lihat wajahnya, cantik sekali sepertimu. Ini mah Amel junior, hehehe." cakap Daffa berusaha merayu dan menghibur Amel.


Amel hanya menatap bayinya saja lalu ia kembali rebahan dan menutup wajahnya menggunakan sebuah bantal.


"Ya Allah, semoga istriku segera pulih. Aku tidak ingin lama-lama melihatnya seperti ini." harap Daffa didalam hatinya.


Satu minggu kemudian, dirumah mewah Daffa dan juga Amel. Amel sedang asyik mewarnai kuku-kuku cantiknya sendiri diatas kasur yang empuk.


"Kuku-kuku cantik ini moodbooster banget." ucap Amel seraya menciumi satu per satu dari kukunya.


"Muach, muach, muaaach,"


Dia tidak urus terhadap seorang bayi yang sedang menangis diatas ranjang bayinya.

__ADS_1


"Eaaaaaa.... Eaaaaaaa."


"Berisik banget sih!" kesal Amel lalu melempar bantal ke ranjang bayinya.


Tangisan dari sang bayi membuat sang ayah yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah bergegas masuk kedalam kamar. Sebentar lagi, Daffa akan segera wisuda dan habis itu bersama dengan Amel mereka akan pindah ke Eropa. Daffa akan menempuh pendidikan yang berikutnya atas desakan mama Linda dulu. Supaya Daffa bisa juga menjadi bos besar yang hebat seperti kakaknya.


"Amel sayang, itu anak kita nangis kok kamu cuekin sih? Dia pasti kehausan tuh, dia membutuhkan ASI kamu."


"Bomat ah, pakai susu formula aja ah mas! Gausah ribet deh."


"Tapi ASI itu jauh lebih sehat daripada susu formula. Gimana sih, ini kan anak kita. Aku nggak mau ya kalau sampai anak kita jadi sakit gara-gara minum susu formula terus!"


"Mas aku nggak mau kasih dia ASI! Susu formula juga nggak kalah bagus kali! Lagian aku nggak mau punya anak perempuan. Anak perempuan itu manja dan bisanya nyusahin orang tua mulu!Nanti kalau dia udah besar dan menikah, pasti dia akan ikut sama suaminya dan nggak akan bisa kasih kita harta!"


"Astaga, sayang! Kenapa kamu sampai hati bicara seperti itu sih? Mau dia laki-laki atau perempuan bayi ini tetap anak kita!"


"Dia bukan anak kamu kali mas."


"Maaf mas, bukan gitu maksud aku."


"Apa maksudnya Dilla bukan anak aku?"


"Dia anak kamu, aku hanya ngelantur aja lah mas. Yaudah sini biar aku kasih dia ASI, daripada kamu ribut marahin aku terus!"


Daffa benaran bingung dengan perkataan Amel barusan. Lantas daripada bayinya menangis terus, Daffa langsung memberikan Dilla kepada Amel untuk ia beri ASI.


Setelah baby D mendapatkan ASI dari ibu kandungnya itu, baby D pun tidak menangis lagi. Keesokan harinya, ditaman belakang rumah, Amel menelpon seorang wanita yang akan ia jadikan sebagai babysitter dirumah mereka. Wanita itu akan membantunya untuk mengurus baby D. Amel tidak mau terlalu repot dalam mengurus anaknya sendiri.


"Halo, Lia? Kamu bisa kan ngurus anak saya? Mulai besok kamu udah mulai kerja ya dirumahku, kamu ngurus bayi aku. Aku sibuk, gabisa jagain dia on time terus."

__ADS_1


"Baik nyonya."


"Oke, aku tunggu kedatanganmu."


Daffa melangkah dari belakang Amel sembari mengemban baby D. Entah kenapa saat Daffa menatap anak yang sedang ia gendong itu, wajah sang bayi sama sekali tidak ada kemiripan sedikitpun dengannya. Apa karena dia adalah bayi perempuan? Baby D hanya menuruni kecantikan wajah dari Amel saja bahkan gabungan antara wajah ayah dan ibu, jadi seperti asing kalau dilihat. Seperti ada wajah orang lain dalam diri baby D.


"Sayang, ini bayi kita jemur dia sebentar gih dibawah cahaya matahari pagi. Bagus tahu buat kesehatan bayi kita." titah Daffa mengejutkan Amel.


"Oke sayang, kamu ambil tikar kecil dulu ya didalam rumah."


"Oke sayang." jawab Daffa seraya meletakkan baby D dalam dekapan Amel.


Lantas Daffa mengambil sebuah tikar kecil yang lembut didalam rumah, setelah ia mendapatkan tikarnya lalu Daffa membawa tikar itu untuk alas bayinya berjemur di taman. Amel menidurkan bayi kecilnya dibawah sinar mentari pagi.


Bayinya tampak ceria tatkala tubuh mungilnya mendapat sinar yang menghangatkan juga menyehatkan badan. Tapi Amel masih benci, kalau melihat bayinya selalu terbayang wajah si mantan durjana itu.


Tiba-tiba, ada sepasang mata yang sedang mengintip keceriaan keluarga kecil di pagi hari itu. Dia adalah Alex, ayah kandung dari baby D. Baby D ada karena Alex dan Amel yang dulu melakukan hubungan perzinahan.


"Bayi kecil itu sudah lahir. Dia adalah anak biologisku. Aku juga berhak buat menggendong dan merawat dia!" ucap Alex pelan dari balik pepohonan ia mengintai.


Lalu Alex keluar dari tempat ia mengintai. Alex bisa masuk ke taman belakang dengan menaiki pohon ditepi pagar tadi. Kehadiran Alex mengejutkan mereka berdua, apalagi Amel.


"Ngapain lo kesini?" tanya Amel panik lalu ia pun berdiri.


"Ingin bertemu anakku lah." jawab Alex spontan nan jujur.


Daffa sangat terkejut juga marah karena berani sekali ada seorang laki-laki yang tidak ia kenali mengaku-ngaku ayah dari baby D. Daffa juga turut berdiri, lalu ia memukul wajah Alex sampai Alex sedikit terdorong ke belakang.


"Bajingan! Siapa kamu ngakuin baby D sebagai anak kamu hah! Bangsat!" maki Daffa tidak terima.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2