MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Nasib Malang Tiga Petugas Keamanan


__ADS_3

Lisa baru sadar kalau dirinya telah memeluk laki-laki yang bukan pasangannya.


"Maaf Bandi, aku refleks memeluk kamu? Aku sedang ketakutan. Maaf karena aku agak lancang sama kamu," ucap Lisa agak tegang.


Bandi diam saja dan terus menatap wajah cantik Lisa. Disisi lain Lisa merasa agak baper karena ditatap terus oleh Bandi seperti itu. Lisa rasanya ingin tahu apa yang sedang ada didalam pikiran Bandi. Rasanya Lisa ingin mendengar suara hati Bandi. Kira-kira dia sedang berpikir apa ya? Apa ini adalah tanda-tanda kalau Bandi mulai memberikan sinyal rasa suka kepada Lisa kalau Bandi sudah mulai nyaman dengannya?


"Bandi?" panggil Lisa lembut.


Bandi nyengir lalu berjalan pergi ke ruangan lain sembari merintih sedikit karena bahunya masih terasa agak perih. Lisa masih berdiam di tempat itu, menggerakkan bola matanya ke segala sisi. Lisa tidak mengerti dengan sikap Bandi yang misterius barusan.


Sementara itu pukul sembilan malam terlihat mobil polisi yang mulai memasuki area hutan. Mama Linda tidak tinggal diam, mama Linda berencana akan merusak ban mobil polisi itu dengan paku-paku yang akan ia lemparkan ke tengah jalan. Lalu ditengah kegelapan ini mama Linda akan menghabisi nyawa mereka satu persatu menggunakan clurit yang ia pegang.


Mama Linda mendapatkan banyak senjata tajam yang ia curi dari dalam kabin.


Mobil polisi itu tiba-tiba berhenti, ban mobil terdengar meletus seperti menginjak sesuatu yang tajam. Para polisi segera keluar dari dalam mobil, mereka melihat ada banyak ranjau paku yang bertebaran diatas jalan.


"Siapa yang melakukan ini?"


"Pasti orang asing yang dilaporkan sama yang telepon kita tadi lah bung,"


Pembicaraan para polisi itu. Tiba-tiba, sebuah batu besar mendarat di kepala salah satu polisi hingga dia pingsan. Totalnya ada tiga polisi yang datang ke hutan ini. Dua yang lain sangat terkejut, terperangah melihat komandan mereka dibuat tidak berdaya oleh orang asing yang jahat di sekitar mereka.


"Hei siapa! Awas jangan macam-macam! Kita membawa pistol!" ancam salah satu polisi sembari memindai keadaan di sekitarnya juga mengacungkan pistol untuk berjaga-jaga.


Kedua polisi itu terus bersiaga sembari melangkah ke segala sisi. Tiba-tiba, dari balik pohon, mama Linda mengayunkan cluritnya ke leher salah satu polisi hingga polisi itu tewas bersimbah darah. Kemudian, mama Linda berlari cepat, bersembunyi lagi dibalik pohon yang lain.


Polisi yang tersisa terlihat sangat shock melihat kedua rekan mereka sama-sama tergeletak tak berdaya diatas tanah. Lalu polisi tersebut kembali bangkit, kembali mencari orang asing yang sedang melakukan penyerangan kepada mereka itu.


"Keluar kamu!" teriak polisi tersebut marah memanggilnya.


Tiba-tiba, ada semak-semak yang bergoyang. Polisi itu mendekat kearah semak-semak itu mencurigai bahwa orang asing jahat itu sedang berada dibalik semak-semak itu. Polisi tersebut menembakkan peluru selama beberapa kali kearah semak-semak itu.

__ADS_1


Setelah dirasa sesuatu yang dibalik semak itu tertembak, polisi tersebut langsung mengecek apa yang ada dibalik semak-semak itu. Ternyata, sesuatu yang ada dibalik semak-semak itu adalah seekor anak rusa. Bukan orang asing misterius itu.


Dan saat polisi tersebut berbalik badan mama Linda langsung membacok wajah polisi itu sampai terluka dan berdarah-darah. Polisi tersebut mengerang kesakitan ditengah sunyinya hutan.


Polisi tersebut melakukan perlawanan di tengah keripuhannya tersebut. Beberapa kali polisi tersebut menembakkan peluru kearah mama Linda tapi mama Linda segera berlari dan tidak kena. Mama Linda kembali bersembunyi dibalik pohon.


Semakin banyak darah yang keluar dari wajah polisi yang terlihat mengerikan itu. Mama Linda berusaha mengambil pistol dari jasad seorang polisi yang lehernya tadi ia bacok sampai mati. Kemudian setelah berhasil meraih pistol itu, mama Linda menembak mati polisi yang tersisa di bagian kepalanya.


Tersisa satu polisi yang tadi ia lemparkan batu besar hingga pingsan. Untuk memastikan kematiannya mama Linda pun menembak mati polisi tersebut di bagian kepalanya. Kemudian setelah berhasil menghabisi nyawa ketiga polisi itu dengan taktik cerdiknya, mama Linda membawa ketiga jasad polisi itu secara bergiliran. Menyeret dan membuang jasad-jasad malang itu kedalam jurang yang dalam.


***


Di dalam kabin, Adiva belum bisa tidur. Adiva sedang duduk termenung diatas kasur sembari memikirkan nasib empat bodyguard yang belum juga balik. Adiva juga sangat menunggu kedatangan para polisi yang tadi sudah dihubungi.


Sembari menjaga Wildan yang sudah tidur. Tiba-tiba, Alzam menghubungi dirinya via video call. Adiva bergegas mengangkat video call dari suaminya itu.


"Mas?"


Adiva menggeleng cemas.


"Belum mas."


"Besok kalian harus segera kembali ke Jakarta. Mas tidak ingin kalian kenapa-kenapa. Lalu, apa empat bodyguard yang katanya belum balik ke kabin sekarang udah pada balik?"


Adiva kembari menggeleng cemas. Sontak saja wajah Alzam juga terlihat ikut pusing dan panik.


"Anak kita udah tidur?"


"Udah mas,"


"Kamu jaga baik-baik anak kita dan diri kamu ya sayang? Selalu berdoa kepada Allah,"

__ADS_1


"Iya mas. Kamu juga jaga diri kamu baik-baik. Besok aku dan yang lain akan segera kembali ke Jakarta. Kalau gitu udah dulu ya mas video callnya, aku mau ngecek yang lain,"


Alzam mengangguk lalu tersenyum untuk istrinya. Kemudian, Alzam mematikan sambungan video callnya dengan Adiva.


Adiva membuka pintu kamar, langkahnya terlihat tidak bersemangat. Adiva takut orang asing misterius diluaran sana itu ternyata adalah mama Linda. Tiba-tiba, Adiva merasakan ada seseorang yang sedang berjalan mengikutinya.


Adiva perlahan menoleh ke belakang dan ia lihat ternyata itu Anna yang belum bisa tidur juga.


"Anna?"


"Nyonya?" sahut Anna berjalan cepat dengan wajah cemas menghampiri Adiva.


"Nyonya aku sangat cemas dengan semua ini."


"Ya sama aku juga Anna, gimana yang lain? Apa mereka udah tidur?"


"Tidak nyonya, semuanya masih berjaga-jaga,"


"Yaudah kalau gitu, kamu jaga Wildan ya di kamar?"


"Baik nyonya."


Anna masuk kedalam kamar Adiva menjaga Wildan, sedangkan Adiva melangkah pergi menuju ruang santai tempat semua orang sedang berkumpul. Adiva melihat Lisa yang sedang menonton acara televisi dengan ekspresi wajah datar. Semua orang selalu tampak cemas dan ketakutan.


"Empat bodyguard itu belum balik?" tanya Adiva kepada mereka.


Mereka semua yang ada didalam ruangan santai kompak menggelengkan kepala. Adiva menarik nafas risau sembari menatap kearah pintu depan kabin. Rasanya Adiva ingin membuka pintu itu lalu keluar dan bergerak mencari keempat bodyguard itu kedalam hutan.


Tapi Adiva tidak mau seceroboh itu, meski dirinya juga ada sisi berani, namun orang asing itu tampak sangat berbahaya dan tidak bisa dianggap remeh. Adiva ingin duduk di ruangan santai bersama yang lainnya, namun tiba-tiba, saat Adiva sedang mengambil ancang-ancang buat duduk, listrik di kabin tiba-tiba padam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2