
Tiba-tiba saat mereka berdua sedang menikmati mie ayam murah yang lezat itu datang seorang wanita memakai masker ingin membeli mie ayam disitu juga.
"Mas, saya pesan satu porsi ya dibungkus?" ucap wanita itu.
Adiva langsung terhenyak mendengar suara dari wanita itu, Adiva seperti sudah tidak asing lagi ketika mendengar suara dari wanita itu.
"Baik bu tunggu sebentar ya?" balas bang Rizky kemudian mulai menyiapkan mie.
Adiva terus memperhatikan wajah mama Linda yang sebagian tertutup oleh masker. Namun mama Linda belum menyadari ada Adiva juga disitu. Saat bang Rizky sudah selesai menyiapkan pesanan mama Linda, mama Linda pun membayar makanan itu dan bergegas pergi dari warung mie ayam itu.
"Mas sopir kamu tunggu disini dulu ya? Aku mau ikutin ibu itu bentar,"
"Loh ngapain?"
"Udah mas nggak usah kepo. Mending kamu tambah seporsi lagi aja ntar aku bayar semuanya."
"Hahaha ok makasih mbak, bang seporsi lagi!"
Adiva segera berlari mengejar mama Linda dan bang Rizky tampak kebingungan melihat Adiva yang pergi mengejar perempuan itu.
"Aku tahu itu kamu ma," ucap mengejutkan Adiva dari belakang mama Linda.
Mama Linda menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Mama Linda langsung berlari memeluk Adiva namun belum ingin membuka maskernya.
"Adiva?" sebut mama Linda lembut sembari memeluk hangat menantu yang dulu sering ia sakiti itu.
"Mama ngapain kabur lagi sih bukannya mama ingin berubah jadi lebih baik ya?"
"Iya Adiva. Tapi mama belum tenang kalau belum mendapatkan maaf dari anak-anak mama,"
Singkat waktu kini mereka tengah duduk berdua di sebuah taman tak terawat yang suasananya sangat sepi.
__ADS_1
"Waktu itu Alzam menjenguk mama di penjara. Dia bilang itu terakhir kalinya dia mau menatap wajah mama. Sampai sekarang Alzam benar-benar membuktikan ucapannya. Sebagai seorang ibu, pasti kamu tahu kan betapa sedihnya mama dibenci oleh anak mama sendiri?"
Adiva mengangguk kemudian menangis sedih.
"Dirumah mas Alzam mengurung aku mam sejak kabar mama kabur dari penjara diketahui sama mas Alzam. Semua orang dikurung didalam rumah, itu karena mas Alzam takut kita kenapa-kenapa ditanganmu ma,"
"Ya Allah, Alzam. Semua ini salah mama Adiva, gara-gara kejahatan mama selama ini, imbasnya jadi ke anak-anak mama juga. Mama semakin benci terhadap diri sendiri."
Adiva memegang lembut tangan mama Linda. Adiva ingin mensupport mama Linda untuk tidak terus menerus membenci dirinya sendiri. Sebesar apapun kesalahan manusia selalu ada kesempatan untuk bertaubat selagi matahari belum terbit dari qqarah terbenamnya atau ketika nyawa yang sudah hampir mati alias sekarat, semua kesempatan untuk meraih ampunan itu masih ada.
"Mama masih hidup, masih ada kesempatan untuk mama. Aku janji akan bantuin mama gimana caranya anak-anak mama bisa menerima mama kembali sebagai ibunya."
Dengan penuh rasa haru mama Linda memeluk Adiva dengan begitu hangatnya. Menantu yang dulu ingin ia singkirkan itu sekarang malah banyak membantunya. Kehidupan ini adakalanya akan hancur karena rasa ego sendiri. Dan mama Linda adalah salah satu contoh dari rasa ego yang membinasakan moralnya.
Rasa ego karena malu punya menantu dari kalangan orang miskin. Rasa ego karena nyinyiran teman-teman sosialitanya yang selalu menyinggung soal kasta dalam hubungan pernikahan. Rasa ego karena mama Linda dari dulu menganggap orang-orang miskin itu adalah perusak pemandangan di dunia ini.
Setelah puas menikmati hingar bingar dunia luar Adiva akan segera pulang ke rumah. Kali ini Adiva membiarkan mama Linda berkeliaran diluar sana sampai mama Linda berhasil mendapatkan maaf dari anak-anaknya.
"Selamat sore mas?"
"Iya sore, DARIMANA KAMU!"
Adiva berjingkut kaget sampai hampir saja dua kresek mie ayam yang ia pegang terjatuh ke lantai.
"Ha habis beli mie ayam mas, kamu mau nggak?"
"Aku maunya menghukum kamu, berani sekali kamu kabur dari rumah! Nggak betah kamu ya tinggal didalam rumah semewah ini?"
"Cool mas cool, jangan marah-marah nanti cepat tua loh. Gini aja, mending makan mie ayam ini dulu baru kamu marah. Ayok?"
Alzam menarik nafas dalam kemudian mengikuti Adiva masuk kedalam rumah. Lalu di meja makan, Adiva tengah menuangkan mie ayam panas itu kedalam sebuah mangkok. Aromanya begitu menggoda lewat kepulan asap berbumbu yang masuk, menusuk dengan penuh cinta kearah saluran pernapasan Alzam. Mie ayam bang Rizky memang tiada tanding.
__ADS_1
"Selamat makan mas?" ucap Adiva sembari tersenyum ramah.
Alzam mulai menyeruput kuah dari makanan itu kemudian Alzam mulai melahap mie dan ayamnya. Hingga tak terasa satu mangkok mie sudah habis dimakan oleh Alzam. Soal kemarahannya yang tadi, tiba-tiba hilang seketika setelah makan mie ayam yang sangat lezat itu.
"Gimana mas? Mau nambah lagi? Ini aku beli dua puluh bungkus loh, buat yang lain juga nanti."
Alzam menggeleng kemudian bangkit dan melangkah pergi ke ruangan lain. Adiva tersenyum bahagia karena dengan mudahnya bisa mengusir kemarahan suaminya. Hanya dengan berbekal senjata mie ayam terlezat ini.
Cahaya lampu menghiasi malam yang indah di dalam rumah itu. Lampu-lampu besar pilihan terbaik dibeli dari produksi terbesar di Asia. Semua yang ada didalam rumah ini adalah produk-produk terbaik.
Kemewahan memang indah, namun kekompakan dan keharmonisan dalam keluarga jauh lebih indah.
Adiva tengah rebahan berdua diatas kasur bersama dengan Alzam. Mereka berencana akan melakukan hubungan suami istri lagi pada malam ini. Namun sebelum itu, Adiva mau berusaha membujuk suaminya sampai mau bertemu dengan mama Linda lagi.
"Mas, apa arti aku bagi kamu?"
"Arti kamu bagiku adalah wanita yang paling aku cintai didalam hidupku. Kamu adalah wanita satu-satunya yang aku sayangi,"
"Gak ada lagi wanita lain mas?"
"Kamu ini ngomong apa. Selamanya mas akan setia sama kamu."
"Bukan mas, kalau itu sih aku gak meragukan lagi kesetiaan kamu. Tapi maksud aku adalah wanita yang lewat perjuangannya, kamu bisa ada di dunia ini."
Alzam jadi tahu apa maksud dari perkataan istrinya itu. Lagi-lagi membahas sosok ibu yang membuatnya kecewa.
"Kenapa sih sayang, kamu ini selalu saja membahas hal yang tidak penting. Ayo jangan bikin mas kecewa lah?"
"Bukan maksud aku mau bikin kamu kecewa mas, tapi kamu akan lebih kecewa lagi kalau sampai kamu nggak mau ketemu ibu kamu yang terakhir kalinya mas. Dia akan menjalani hukuman mati bulan ini. Lupakah kamu akan kebaikan ibu kamu selama ini? Dia wanita yang merawat, mendidik, dan menyayangi kamu dari kamu masih kecil. Sebesar apapun kesalahan beliau, beliau tetap ibu kandung kamu! Sampai kapanpun itu, ikatan antara seorang ibu dan anak tidak akan pernah bisa terlepas."
Bersambung...
__ADS_1