MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Drama Dua Wanita Ular


__ADS_3

"Gue merasa nyaman banget dipeluk sama laki-laki yang dewasa seperti kak Alzam ini. Oh Tuhan, inikah yang dinamakan keindahan cinta? Aku berharap semoga selamanya akan terus seperti ini kedepan, aku harus memulai lembaran baru, aku ingin belajar menjadi seorang wanita yang patuh sama misua, aku juga ingin sekali belajar menghilangkan sifat jorok aku, yang udah seringkali aku lakukan dari waktu aku masih kecil, hohoho... Sungguh, aku ingin membuang sifatku yang seperti itu, tapi apa bisa?" batin Adiva dalam dekapan.


Kemudian setelah beberapa saat mereka saling memberikan kenyamanan dalam mode berpelukan, Alzam punya ide yang seru untuk melupakan kesedihan yang sedang dialami oleh Adiva sekarang.


"Saya punya ide yang seru dan unik nih, gimana kalau kita kembali ke masa kecil?"


"Maksud kakak? Hmm, maksud kamu gimana mas? Kembali ke masa kecil? Gimana caranya? Apa ada mesin waktu disini?"


"Jangan bicara hal yang mustahil deh caranya adalah dengan bernostalgia, gimana kalau malam ini kita main petak umpet saja ditaman ini?"


Adiva langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar ide konyol dari Alzam itu.


"Hahaha, ada-ada saja lo kak, eh maaf maksudnya mas deh, sekarang manggil mas aja bukan kakak lagi. Aduh, sulit deh menghilangkan kebiasaan memanggil dengan sebutan itu."


Adiva menepuk jidatnya, perlahan kesedihannya mulai berkurang dan berubah menjadi tawa, itu semua karena Alzam berhasil membuat istrinya kembali gembira.


"Lama kelamaan, pasti kamu akan terbiasa sayang. Yaudah, saya hitung sampai sepuluh, kamu! bersembunyilah ditempat yang aman, setelah selesai hitungan sepuluh, saya akan segera mencari dimana keberadaan kamu,"


Alzam mulai menutup matanya dan Adiva menurut saja, anggap aja lagi nostalgia. Adiva bergegas berlari mencari tempat persembunyian yang ingin ia gunakan sebagai tempat untuk sembunyi. Adiva berlari sembari sedikit tertawa karena petak umpet ini membuatnya bernostalgia dengan masa kecil yang dulu indah dan menyenangkan.


Adiva jadi teringat sama teman-teman masa kecilnya. Adiva memindai keadaan disekitarnya, bingung memilih tempat persembunyian yang pas, dimana kiranya? Lalu setelah beberapa detik berpikir, Adiva memutuskan untuk bersembunyi dibalik pohon mangga besar dekat kebun yang tak terurus.


Setelah hitungan ke sepuluh, kemudian Alzam membuka netranya dan mencari Adiva sampai ketemu.


"Dimana kamu sayang?" teriak Alzam, agar teriakannya semakin terdengar keras, Alzam melingkup kedua tangan didepan bibirnya. Alzam mencari keberadaan istrinya dibanyak area, baik rumput hias ditaman, pepohonan, kolam, dan belakang patung.


Adiva bersembunyi sembari ngakak terus karena permainan petak umpet ini benar-benar membuatnya bernostalgia dengan masa kecilnya dulu. Adiva juga teringat waktu kecil ia bermain petak umpet dengan kakaknya. Tapi kalau ingat almarhumah kakaknya, Adiva jadi agak sedih.


Mama Linda dan Amel kepo melihat aktifitas apa yang sedang dilakukan oleh Alzam dan Adiva ditaman, karena barusan mereka berdua mendengar Alzam berteriak memanggil nama istrinya.

__ADS_1


"Kira-kira mereka berdua lagi ngapain ya? Kok nggak kelihatan sih," pindai mama Linda dari depan rumah.


"Taman mama terlalu luas sih, bahkan lapangan bola aja kalah luas mah. Mungkin Adiva kabur kali karena baper tadi kita sindir, hahaha,"


"Ya bagus dong kalau dia kabur, semoga dia nggak kembali lagi ke rumah mama, malas banget dirumah mama ada kuman raksasa seperti dia!"


"Aku juga malas kali ma punya kakak ipar seperti dia, udah sok kecakepan, barbar, jorok pula katanya? Kok mas Alzam mau ya sama cewek kaya dia?"


"Mama nggak tahu tuh sama jalan pikiran Alzam, bisa-bisanya dia lebih memilih cewek barbar yang jorok itu dibanding kamu sayangsayang. Amel kamu udah cantik, baik, rapi, cinta kebersihan, ga neko-neko lagi orangnya," ucap mama Linda sembari menatap Amel dengan manis. Amel tampak sempurna tapi dia tidak dipilih oleh Alzam. Karena Alzam lebih mementingkan perempuan tulus yang apa adanya saja. Tentu saja yang tidak sombong karena Alzam paling benci sama orang yang punya sifat sombong.


"Ah mama bisa aja," balas Amel seraya tersenyum.


Saat Adiva bersembunyi, Alzam tak kunjung menemukannya, karena Adiva bersembunyi terlalu jauh diujung taman dekat perkebunan kosong diluar pagar pembatas.


Adiva tiba-tiba mencium aroma melati yang sangat kuat. Adiva melihat kesamping dengan bantuan cahaya lampu taman yang remang-remang, Adiva mencari apakah ada pohon bunga melati disekitarnya? Ternyata saat ia cari tidak dijumpai ada pohon melati disekitarnya.


Adiva merasa merinding, apa mungkin ada mahkluk gaib dari dunia lain yang datang kalau begini creepy. Adiva memindai keadaan kanan kiri atas bawah, merasa ada sesuatu berwarna putih diatas pohon tempat ia sembunyi, ternyata saat ia memberanikan diri melihat keatas, ia lihat ada sesosok pocong yang sedang melayang disana.


"Aaaaaaaa," teriak Adiva kemudian berlari tunggang langgang. Alzam yang sedang mencari dimana persembunyian Adiva mendengar teriakan dari Adiva. Alzam bergegas berlari ke sumber suara teriakan Adiva yang terdengar tidak diam ditempat, artinya Adiva berteriak sembari berlari.


Adiva berteriak sembari berlari sembarang arah, tak peduli ia menabrak bunga-bunga mahal ditaman, Adiva takut pocong tadi mengejarnya. Adiva terus berlari tak tentu arah sembari memejamkan mata. Wajah pocong yang bermuka rata tadi terbayang terus dalam ingatan Adiva. Hingga tak sengaja Adiva yang sedang berlari dipinggir kolam renang menabrak mama Linda dan Amel sampai mereka berdua kecebur kolam.


"Aaaaaaaa," teriak mama mertua dan ipar licik itu.


"Aaaaaa, basaaaah kan!" teriak Amel kesal.


Amel melihat Mama Linda hampir tenggelam karena tidak bisa berenang. Uantung Amel segera berenang membawa mama Linda ketepi kolam. Amel bangkit lalu berjalan marah kedepan Adiva, tangan kanannya bergerak menampar wajah Adiva yang masih tampak ketakutan setelah melihat mahkluk halus.


"Aaa! Kenapa lo nampar gue hah? Jangan kurang ajar ya! Gue nggak sengaja kali nyenggol kalian sampai jatuh!"

__ADS_1


"Halah, gausah ngeles lo cewek jorok!"


Alzam datang ketengah-tengah mereka dengan terengah-engah.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua basah kuyup? Loh, mama kenapa?" tanya Alzam sembari bersimpuh disamping mamanya.


"Dia mendorong mama sampai mama hampir mati tenggelam barusan! Alzam, kamu harus ceraikan dia!" tuduh mama Linda kepada Adiva, kembali memfitnah menantu yang tidak bersalah itu.


"Nggak mas! Aku nggak sengaja menyenggol mama dan Amel sampai kecebur! Orang tadi aku lari nggak jelas karena abis lihat setan. Oke, aku akui salah, tapi aku salahnya kan nggak sengaja ya!


" Sengaja atau ga sengaja, kamu udah hampir bunuh mama!" marah Amel terus berusaha menyudutkan Adiva.


"Sekali lagi maaf, aku nggak pernah ada niatan mencelakai orang sampai meninggal," ucap Adiva menjelaskan apa adanya kepada mereka, kemudian pergi berlalu dengan santai.


"Heh, dasar menantu kurang ajar kamu! Menantu sialan! Kamu mau bunuh saya ya! Dasar menantu miskin jahat!" lantang mama Linda sembari bangkit.


Alzam dan Amel menenangkan mama Linda yang sedang emosi berat karena Adiva berani melawannya dengan membantah.


"Alzam, kamu lebih percaya ke mama kan? Amel saksinya, iya kan nak?" ucap mama Linda sembari menatap Amel.


Amel mengangguk seraya berpura-pura memasang wajah shock. Drama dua mahkluk jahat ini begitu licik.


"Iya mas, aku juga didorong sama istri kamu. Kasihan mama kamu mas, lama-lama mama kamu bisa mati konyol kalau kamu biarin dia tinggal disini terus mas!" kata Amel.


"Betul apa kata Amel nak, kamu udah nggak peduli lagi sama mama? Orang yang sudah mengandung dan juga membesarkan kamu dengan bersusah payah?" ucap Mama Linda dan lagi-lagi mama Linda menggunakan dalih itu untuk meluluhkan hati Alzam.


Mereka berdua terus mengupayakan segala cara untuk menghasut dan meyakinkan Alzam agar mau memberi pelajaran untuk Adiva, bahkan mengusir hingga menceraikannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2