MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Marah Karena?


__ADS_3

"Kamu itu benar-benar perempuan yang berbeda. Ternyata saya tidak salah memilihmu menjadi permaisuri hati saya. Awalnya, saya kira kamu hanyalah seorang cewek yang rese dan nggak punya sisi positif yang bisa saya apresiasi dari diri kamu. Ternyata kamu punya banyak kelebihan disamping kekuranganmu sayang." puji Alzam seraya mengecup rambut Adiva.


"Aku juga berpikir hal yang sama mas, aku kira kamu nggak akan pernah bisa mencintai orang seperti aku. Dan kakak aku yang akan selalu ada dalam hati kamu. Tapi ternyata, kita sama-sama bisa membuka hati kita masing-masing. Meski terkadang, aku masih rada canggung sih mas kalau harus melakukan hal yang sebelumnya belum pernah aku lakukan."


"Kamu nggak boleh terus menerus canggung sayang, sama suami kamu sendiri. Lebih baik sekarang kamu bikinkan saya jus yang segar, saya tunggu ya di ruang santai."


Adiva berbalik badan lalu menjawab "iya" diselingi senyuman yang manis. Mereka sempat beradu bibir sebentar.


Sementara menunggu istri kecilnya membuatkan sebuah jus, Alzam menonton acara televisi. Berkali-kali ia mengganti channel, baginya semua channel terasa tidak asyik dan membosankan. Bahkan cenderung sama dari channel ke channel yang hanya menayangkan suguhan drama.


"Sungguh monoton!" gerutu Alzam.


"Jadi pengen bangun channel televisi yang menyuguhkan acara-acara berkelas dan kreatif deh." ucap Alzam.


Alzam hanya suka menonton acara olahraga namun itu jarang ia lihat dalam televisi Indonesia pada jam seperti sekarang ini. Alzam lebih suka menonton saat waktu dinihari, saat dimana banyak stasiun televisi yang menayangkan acara pertandingan sepak bola luar negeri.


Tak berselang lama, Adiva datang dengan membawa segelas jus alpukat untuk suaminya. Adiva memanjakan sang suami dimana ia yang memegangi gelas saat suaminya sedang minum.


"Seger kan mas?"


Alzam mengangguk lalu Adiva meletakkan gelas itu diatas meja. Tiba-tiba saja Alzam menarik tangan Adiva dan mendorong Adiva diatas sofa hingga sekarang mereka saling berhadap-hadapan wajah satu sama lain. Adiva dibawah dan Alzam di atasnya.


Rasa canggung kembali Adiva rasakan, aktifitas seperti ini adalah hal yang masih membuatnya merasa canggung. Apakah Alzam akan kembali mengajak berhubungan saat ini juga?

__ADS_1


"Mas, kamu mau melakukannya lagi, sekarang?"


Alzam hanya terdiam sembari tersenyum kecil. Kemudian pagi pun tiba. Suara burung-burung berkicau terdengar dengan sopan dan elok di telinga Alzam dan juga Adiva. Mereka sedang berkemas-kemas akan kembali ke Jakarta pagi ini juga. Alzam harus kembali bekerja dan Adiva harus kembali berkuliah.


Selesai berkemas mereka berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumah. Hari kemarin adalah hari yang membuat mereka berdua menjadi lebih fresh dan bersemangat hari ini.


"Minggu depan kesini lagi yuk sayang?" ajak Alzam.


Adiva tentu saja tidak akan menolak ajakan suaminya, malah setiap minggu dirinya juga mau kalau diajak refresing ke tempat ini. Ponsel Alzam tiba-tiba berdering tanda ada telepon yang masuk. Alzam mengambil ponsel didalam tasnya kemudian membaca siapakah yang telepon.


"Telepon dari siapa mas?"


"Dari mama. Dia pasti mau nanya kalau kita sedang pergi kemana. Halo ma?"


"Alzam, kamu lagi dimana sayang? Dari semalam mama menunggu kamu pulang, kok nggak pulang-pulang. Pasti lagi happy-happy ya sama istri kamu? Kalian pergi kemana?"


"Ya boleh dong sayang. Segera pulang ya, mama tunggu kalian dirumah. See you dan hati-hati di jalan ya nak?"


"Iya ma."


Dalam perjalanan pulang, didalam mobil mereka menyempatkan waktu untuk membahas pernikahan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Ya, hari pernikahan Daffa dan Amel akan segera dilangsungkan di tempat yang sama dengan pernikahan Alzam dan Adiva kemarin.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Amel pasti akan tinggal bersama mereka dibawah atap rumah yang sama setiap hari.

__ADS_1


"Adiva sayang, sejujurnya mas tidak suka jika harus tinggal serumah dengan perempuan sombong dan matre itu, tapi disisi lain mas juga nggak boleh pergi dari rumah sama mama. Mas jadi dilema, kamu tahu nggak solusi yang terbaik?"


"Maaf mas, aku bisa apa? Aku aja cuma seorang menantu yang nggak dianggap sama mama kamu. Aku hanya bisa pasrah dan menyimak aja, kalau nanti Amel kelewatan sama kita, ya gampang lah, tinggal kita lawan aja dia kalau perlu laporin dia ke polisi kalau sudah jauh kelewatan. Beres kan mas? Gausah diambil pusing lah."


"Saya salut sama kamu sayang. Kamu nggak mau ambil pusing dengan tinggalnya Amel dirumah mama nanti. Yaudah, kamu yang semangat ya kuliahnya? Nggak henti-hentinya saya mensupport kamu. Supaya kamu terus semangat belajar dan jadi orang yang pandai dan hebat nanti. Saya senang dengan perubahan yang terus kamu tunjukkan."


Adiva kembali dibuat tersentuh dengan perkataan suaminya yang sedang tersenyum manis kepadanya. Diluar mobil, orang-orang lalu lalang kala pagi ditepian jalan. Ada yang sedang menunggu angkutan umum, ada yang sedang berjalan susah payah menjual makanan untuk sarapan pagi-pagi, ada juga yang sedang duduk malas dan tidak mau berjuang. Itulah kehidupan, selalu penuh dengan perjuangan. Orang-orang yang mau berjuang dengan keras adalah orang yang hebat.


Itu dilakukan mereka agar demi mendapatkan rezeki atau masa depan yang lebih baik.


"Mas, besok kita pergi ke makam kak Zahra yuk? Aku ingin berdoa dan juga membersihkan makam kak Zahra. Kamu mau kan mas?"


Kalau ingat Zahra, Alzam sudah tidak sesedih dulu karena sekarang sudah Adiva sebagai pengganti Zahra. Alzam mau diajak ke makam Zahra besok dan ini adalah kali pertama Alzam akan kembali datang ke makam almarhumah istrinya setelah terakhir ia datang enam bulan yang lalu.


Beberapa jam berlalu akhirnya mereka sampai ke rumah. Mobil mereka mendarat di halaman rumah yang begitu luas nan hijau. Saat mereka keluar dari dalam mobil, mereka langsung disambut dengan melihat sang mama yang sedang berdiri seraya berkacak pinggang di depan rumah. Tatapan mama begitu tajam seolah menggambarkan ekspresi yang sedang tidak senang karena Alzam dan Adiva pergi berlibur, padahal cuma sehari saja.


Kemudian mereka berdua sama-sama melangkah kedepan mama Linda. Mereka pasrah kalau harus kena omelan mama pagi-pagi begini. Tapi bukannya tadi suara mama terdengar sangat ramah saat menelpon Alzam? Tapi kenapa sekarang tiba-tiba mama Linda berubah jadi galak seperti ini, pikir mereka berdua.


"Mama kenapa sih? Tadi waktu telpon perasaan mama ramah aja, tapi kenapa sekarang berubah jadi marah ya? Masa Alzam ga boleh pergi berlibur sih bersama istri Alzam, walau cuma sehari saja ma?"


"Kalian tahu kenapa mama tiba-tiba marah?"


Alzam dan Adiva kompak menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Mama marah karena..."


Bersambung...


__ADS_2