MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Pak Nick Tertangkap


__ADS_3

"Jenna, sungguh malang nasib kamu sahabatku. Tapi maaf Jen, aku nggak bisa bantu kamu sekarang, aku harus menyelamatkan bayiku dulu, aku janji akan segera menelpon bantuan. Mereka akan segera datang untukmu, suami kamu yang keparat dan gila itu bakalan segera dijebloskan kedalam jeruji besi. Aku janji Jen!" ucap Adiva seraya menangis menatap iba kearah Jenna yang terkapar mengerikan diatas lantai depan rumah Pak Nick.


Lantas Adiva berjalan lagi meninggalkan Jenna sendirian disitu. Jenna memejamkan mata, terdiam membisu berlumuran darah dengan banyak luka bonyok di wajahnya. Sungguh pemandangan yang amat memilukan hati Adiva.


Adiva terus melangkah ditengah guyuran air hujan. Adiva menutupi bayi merahnya menggunakan sebuah daun pisang yang ia petik. Itu cukup bermanfaat buat melindungi bayinya dari guyuran air dingin.


Akhirnya berkat perjuangan super luar biasa dari seorang ibu muda itu, Adiva berhasil sampai didepan rumahnya. Adiva membuang daun pisang itu lalu berteriak,


"Tolooong, toloooong!" teriak Adiva didepan pintu.


"Dokter Sarah? Bi? Bukain pintunya!"


Dokter Sarah dan bi Sri membuka pintunya. Mereka sangat shock melihat Adiva datang berlumuran darah dengan mengemban seorang bayi mungil yang juga berdarah.


"Ya Allah, kamu sudah melahirkan? Kamu lahiran dimana Adiva? Kenapa kamu tidak berteriak memanggil saya?" tanya dokter Sarah cemas.


"Saya lemas banget dok, saya hampir saja dibunuh sama tetangga sebelah. Untung ada istrinya yang membantu saya. Saya bersembunyi, saya lahiran didalam rumah tetangga saya."


Bi Sri menangis mendengar jawaban yang diutarakan oleh majikannya itu, lantas bi Sri dan dokter Sarah bergegas membawa Adiva masuk kedalam rumah.


"Oh iya, jangan lupa kunci pintu dan telpon polisi!" titah Adiva kepada bi Sri.


Bi Sri mengangguk sembari mengusap air mata sedihnya.


Adiva dibaringkan dan dirawat didalam kamar, begitu juga dengan bayi kecilnya. Dokter Sarah mengurusnya dengan sangat teliti dan berhati-hati.


Rasa kantuk malam sudah tak ia rasakan kembali karena tragedi yang begitu pilu ini. Dokter Sarah juga ikut menangis sedangkan bi Sri tengah memberikan Adiva air putih hangat dan akan segera mengganti pakaian Adiva yang basah dan bau anyir itu.

__ADS_1


"Ya Allah nyonya, kenapa harus seperti ini. Kenapa tadi nyonya tidak membangunkan bibi kalau ada perlu apa-apa?"


"Maaf bi, aku tadi merasa baik-baik aja dan bibi sedang tertidur tadi, aku nggak enak bangunin bibi apalagi bibi capek kerja seharian. Aku cuma mau ngecek kunci aja tapi ternyata, pak Nick sedang ngincer aku."


Suara mobil polisi terdengar datang. Adiva meminta bi Sri buat menemui mereka dan lekas membawa Jenna yang terkapar tak berdaya buat segera ditangani di rumah sakit.


Bi Sri pun segera berlari menemui para polisi setelah selesai mengurus keperluan Adiva dan bayinya. Bi Sri membawa payung lalu berlari kearah kerumunan polisi yang sedang menunggu didepan rumah.


"Selamat malam ibu? Apa yang terjadi? Ada apa mengundang kami malam-malam?"


"Rumah sebelah sedang terjadi penganiayaan. Segera datang kesana pak."


"Baik."


Tiga polisi itu lekas berlari kearah rumah pak Nick dan juga Jenna. Sesampainya didepan rumah, mereka langsung disambut dengan pemandangan yang amat memilukan.


Namun Jenna tidak kunjung bangun dan Jenna lekas dibawa ke rumah sakit oleh para polisi untuk segera mendapatkan perawatan.


Sementara itu pak Nick tengah bersembunyi di dalam gudang rumah, dua polisi yang lain masih ada disitu dan sedang mengecek isi rumah. Mereka belum menemukan ada orang lain lagi didalam. Pak Nick sedang menunggu para polisi itu pergi dengan harap-harap cemas didalam gudang.


Lemas dan juga cemas. Dirinya mampu dikalahkan oleh seorang perempuan yang sedang hamil? Pak Nick merasa dirinya itu lemah dan memalukan, pikirnya. Dua polisi itu mengecek segala ruangan didalam rumah besar itu sampai tersisa satu ruangan yang belum dicek, yaitu gudang.


"Satu tempat lagi. Kalau nggak ada,kita sisir ke belakang rumah."


"Kamu yakin dalam kondisi hujan badai seperti ini?"


"Kita seorang polisi, kita harus profesional! Pekerjaan kita ini adalah pekerjaan yang sangat mulia."

__ADS_1


Dua polisi itu mulai mendekat kearah gudang. Pak Nick yang sedang mengintip semakin cemas, takut diborgol ke kantor polisi.


Pak Nick celingukan bingung mau sembunyi dimana. Melihat ada lemari, pak Nick memutuskan untuk ngumpet dibalik lemari tua itu. Disaat yang bersamaan dua polisi itu juga membuka pintu gudang. Mereka ingin menemukan siapa pelaku penganiayaan itu.


Para polisi itu, anak buah sang komandan menyalakan lampu remang-remang didalam gudang. Mereka belum menemukan ada orang didalam.


Namun mereka pintar, mereka mengecek ke segala sisi, bawah meja, bawah kursi, hingga mereka akan mendekat ke lemari dan kebetulan ada tikus lewat di kaki pak Nick, tikus itu menggigit kaki pak Nick. Seolah tikus itu juga ikut kesal melihat kejahatan yang selama ini telah dilakukan oleh pak Nick.


"Aaaaaaa sial!" jerit pak Nick sampai tak sengaja karena kedorong badannya, lemari itu roboh dan menimpa salah satu polisi. Pak Nick sangat kaget lalu segera akan berlari tapi salah satu kaki pak Nick keburu ditembak oleh polisi yang satu lagi.


"Kamu tidak akan bisa kabur!"


Pak Nick menjerit kesakitan. Pak Nick meronta, pak Nick merasakan sakit dan juga sengsara. Pak Nick merasa semakin terluka. Lantas polisi itu bergegas membantu rekannya membuang lemari yang menimpa badannya. Setelah itu mereka berdua memborgol pak Nick dan akan segera diamankan kedalam kantor polisi.


Pelaku yang sudah menganiaya Jenna sudah tertangkap, dan yang mengejutkannya adalah suaminya sendiri, yaitu Nick, kedua polisi itu sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Jenna sedang ditangani oleh dokter di rumah sakit.


Disisi lain, Alzam merasa kesal karena di daerahnya itu susah sinyal. Sebuah pulau yang terpencil dan jauh dari kota. Alzam sedang rebahan didalam bungalow kayu di jasa tempat penginapan umum.


Alzam dibawa ke sebuah pulau yang akan menjadi destinasi wisata premium miliknya. Alzam wajib datang kesini bersama rekan bisnisnya karena penduduk setempat menolak pembangunan wisata di pulau ini. Di pulai ini juga ada dua air terjun yang sangat asri.


Mereka tidak ingin lingkungan mereka tercemar sampah dan juga wisatawan nakal.


Alzam dituntut untuk membicarakan persoalan ini dengan pemimpin warga di pulau itu, pulau Kelapa Hijau namanya. Alzam akan berusaha supaya penduduk setempat tidak menolak pembangunan tempat wisatanya. Alzam meyakinkan kalau apa yang mereka khawatirkan tidak akan terjadi. Justru mereka akan diuntungkan karena setiap bulan mereka akan mendapat sedikit bagian dari hasil penjualan tiket wisata.


Namun persoalan sinyal membuat Alzam benar-benar merasa jengkel. Alzam baru bisa pulang besok dan dinihari ini Alzam masih belum bisa tertidur, memikirkan istrinya yang sebentar lagi lahiran dirumah. Alzam takut Adiva salah paham lagi karena susah dihubungi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2