
Adiva begitu panik dan sedih ketika melihat dirinya diserang dengan brutal oleh maling itu. Alzam berdiri mengamati mereka berdua dari belakang, tepat diatas anak tangga paling bawah. Alzam seperti orang kesetanan yang bersiap menerkam maling itu.
"Hati-hati mas, awwh," titah Adiva seraya merintih kesakitan. Banyak cairan warna merah yang bisa disebut dengan darah bertetesan diatas lantai. Melihat itu tentu saja Alzam emosi berat melihat istrinya disakiti oleh maling itu. Alzam lekas berlari kearah maling itu lalu menendang dada maling itu sampai bang Jaja tergeletak diatas lantai.
Pisau yang bang Jaja pegang sampai terlempar ke bawah meja. Bang Jaja ingin mengambil lagi pisau itu tetapi Alzam lekas menarik tangan bang Jaja dan memelintirnya sampai bang Jaja berteriak kesakitan.
Sekarung uang yang diambil bang Jaja dari dalam brankas, Alzam rebut lagi uangnya lalu Alzam lemparkan karung berisi uang itu kearah Adiva, menyuruh Adiva untuk membawa uang itu ke dalam kamar lalu bersembunyi dan mengunci pintu.
"Sayang, lari ke kamar! Jaga bayi kita! Biar saya yang melawan maling sialan ini!"
Adiva mengangguk lalu mengambil karung coklat berisi banyak uang itu. Adiva berlari keatas dengan agak cepat.
"Hati-hati mas!" teriak Adiva kencang dari area tangga.
Alzam memegang kuat tangan maling itu, kemudian, salah satu tangan Alzam yang lain ingin ia gunakan buat membuka topeng khas maling yang dipakai oleh orang itu. Tetapi, bang Jaja bergerak cepat dengan menendang lengan Alzam menggunakan salah satu kakinya.
Sekarang giliran Alzam yang tersungkur ke belakang namun tidak sampai terjatuh. Kemudian mereka semua sama-sama saling unjuk tangan, saling memukul wajah lawan satu sama lain. Saling menendang tubuh lawan satu sama lain. Alzam merasa bang Jaja ini lawan berkelahi yang sangat tangguh juga, hampir saja Alzam kewalahan dalam menghadapi serangan bang Jaja.
Alzam bergerak memutar, ilmu beladiri yang selalu diajarkan oleh istrinya, kemudian kakinya bergerak kuat menendang perut bang Jaja sampai bang Jaja terjatuh diatas meja sampai meja itu hampir retak karena bobot tubuh bang Jaja.
Bang Jaja meringis kesakitan, kemudian wajah sangarnya ditendang oleh Alzam sampai ada giginya yang patah dan bibir serta mulut bang Jaja pun jadi merah berlumur darah. Uhh, makin tambah sakit lagi dong! Kemudian rambutnya yang gimbal, ditarik oleh Alzam tanpa adanya rasa belas kasihan. Tentu saja begitu, orang tadi istrinya dilukai.
Dan akhirnya, Alzam berhasil membuka topeng yang dipakai oleh maling itu. Alzam kira maling itu pak Nick tapi ternyata orang lain. Dari depan rumah, terdengar suara riuh ramai bodyguard yang memanggil-manggil namanya.
"Tuan Alzam? Tuan Alzam?" panggil mereka.
__ADS_1
Lantas daripada bang Jaja berhasil terlepas kabur, Alzam berteriak menyuruh mereka semua untuk masuk kedalam rumah saja.
"Masuk kalian!"
Alzam melangkah dengan tenaganya ke dekat laci mengatur dua fokus, bang Jaja dan juga mengambil kunci itu. Alzam membuka laci nya lalu mengambil kunci pintu depan yang ada di dalam laci besar di ruang tamu itu, sembari salah satu tangannya masih menjambak kuat rambut gimbal bang Jaja. Lalu, Alzam melempar kunci pintu itu keluar lewat ventilasi yang ada di ruang tamu ini.
Terlihat seorang bodyguard mengambil kunci pintu depan lalu membuka pintu depan rumah Alzam. Mereka semua membawa pak Nick masuk kedalam, naasnya pak Nick sudah babak belur dikeroyok mereka. Dari dalam hidungnya mengalir darah segar, wajahnya juga bonyok biru-biru.
"Kalian pasti yang kabur dari penjara kan! Dimana mama saya!" tanya Alzam dengan tatapan wajah yang nyalang.
Bang Jaja dan pak Nick diam saja, mereka saling menatap satu sama lain, mereka tidak mau memberi tahu keberadaan mama Linda.
"Jawab!" lanjut Alzam berteriak.
Pak Nick tampak tidak senang melihat bang Jaja memberi tahu keberadaan mama Linda kepada Alzam. Pak Nick tidak ingin perempuan yang ia suka masuk ke dalam penjara lagi.
"Kenapa kamu memberi tahu dia bang Jaja!" geram pak Nick marah.
"Ah udahlah! Udah kepalang tanggung juga! Kita semua bakalan dijeblosin ke penjara lagi! Kita bertiga kabur bareng, masuk lagi bareng! " jawab bang Jaja pasrah.
Mata Alzam melihat mereka berdua secara bergantian, kemudian, Alzam menyuruh seorang bodyguard buat menelpon polisi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi datang ke depan rumah mereka.
Bang Jaja dan Pak Nick segera diborgol sama polisi yang berdatangan. Mereka akan dibawa kembali ke sel. Alzam dan bodyguard yang lain terlihat lega saat melihat dua orang jahat itu berhasil diringkus polisi lagi. Namun tinggal mamanya saja yang belum diringkus polisi, sebentar lagi, Alzam akan ikut polisi pergi ke rumah tepi rel kereta yang dimaksudkan oleh bang Jaja tadi.
Lantas, apakah mama Linda akan berhasil dibekuk oleh polisi kembali? Alzam masuk kedalam kamar istrinya. Terlihat istrinya sedang sibuk membalut luka bekas sayatan pisau tadi dibantu oleh seorang baby sitter bernama Anna. Alzam mengamati proses pembalutan luka itu dari samping Adiva. Tampak raut wajah sedih Alzam melihat istrinya kembali terluka karena ulah orang jahat.
__ADS_1
"Maling itu dan pak Nick udah berhasil dibawa polisi sayang, kamu jangan panik lagi, habis ini, saya dan beberapa polisi akan pergi ke sebuah tempat dimana mama lagi ada disitu,"
"Semoga mama kamu berhasil ditangkap juga ya mas, mereka itu harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dengan di penjara,"
"Semoga saja sayang, yaudah polisi sedang menunggu mas di depan, mas pergi dulu ya sebentar?"
Adiva mengangguk sembari tersenyum.
"Gak bosan aku suruh kamu untuk selalu berhati-hati mas,"
"Kamu juga ya istri cantikku, mba Anna, jaga istri saya juga ya?" titah Alzam kepada si baby sitter.
Baby sitter itu mengangguk diselingi senyuman yang manis, kemudian Alzam berjalan kedepan rumah. Alzam masuk kedalam mobil polisi yang akan segera melaju ke suatu tempat yang dimaksud oleh bang Jaja. Sebuah rel kereta sepi dekat stasiun Telampar. Mereka sedang dalam perjalanan kesana.
Sampailah mereka di dekat area itu, namun polisi mematikan suara sirine mobil polisi biar mama Linda tidak tahu atau curiga ada polisi yang datang terus mama Linda bergegas kabur. Mama Linda sendiri di dalam rumah itu sedang meringkuk kedinginan sembari menahan rasa lapar di perutnya.
Mama Linda merasa hidupnya sudah sangat kacau dan menderita. Kebenciannya kepada Adiva semakin besar.
Tiba-tiba, mama Linda mendengar suara langkah kaki yang sepertinya sedang melangkah di sekeliling rumah ini. Mama Linda penasaran itu siapa tapi tempat ini begitu gelap. Mama Linda melangkah bentar pun langsung kesandung dan hampir terjatuh.
Tapi mama Linda tetap mencoba mengintip dari balik celah dinding, mama Linda sedikit bisa melihat remang-remang cahaya bulan purnama, beberapa orang berseragam kepolisian sedang melangkah mengitari rumah ini.
"Hah? Aduh! Gawat! Ada polisi lagi! Jangan-jangan bang Jaja sama pak Nick udah ketangkap?" panik mama Linda, berkata didalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1