
"PSIKOPAT BERJUBAH KUNING ITU!"
"Dia mengejarku dengan menaiki motor butut!" Adiva segera melanjutkan larinya di tengah jalanan yang licin dan becek. Ia berlari dengan segenap tenaganya, memperjuangkan keselamatan nyawanya.
Lalu Adiva tersandung batu membuat ia tersungkur di samping jalan. Rasanya cukup sakit saat terjatuh, baju semakin kotor terkena tanah yang becek. Rambutnya juga kotor terkena air yang berwarna coklat bercampur dengan tanah itu.
"Sedih banget hari ini ya Allah. Dijebak sama orang, diburu pembunuh. Ya Allah, selamatkan aku?" harap Adiva seraya terisak pilu.
Psikopat bayaran itu bersiap akan melindas kaki Adiva menggunakan gilasan dari ban motornya namun Adiva segera berlari kearah kebun. Adiva berlari ditengah semak-semak belukar dengan cuaca yang cukup suram nan gelap.
Adiva tidak tahu lagi harus bersembunyi dimana, yang ia tahu adalah ia harus terus berlari menjauh dari kejaran psikopat itu. Psikopat itu ikut masuk kedalam kebun dengan berlari, larinya terlihat sangat cepat sekali. Ia sudah sangat lihai dan gigih dalam memburu targetnya.
"Pembunuh itu terus mengejarku, apa dia gak capek ya mengejar aku terus? Aku aja rasanya udah hampir pingsan terus berlari seperti ini. Mana dingin kena air hujan pula. Ayo Adiva, kamu pasti bisa memperjuangkan keselematan hidupmu!" ucap Adiva didalam hatinya sembari terus berlari.
Akhirnya saat ia berlari beberapa puluh meter kemudian, Adiva melihat ada sebuah rumah tua yang terletak dalam kebun. Adiva tidak tahu rumah itu, adakah penghuninya atau tidak. Tapi yang pasti Adiva berharap semoga rumah tua yang terbuat dari bahan kayu itu ada penghuninya, sehingga ia bisa meminta bantuan.
Adiva masuk kedalam rumah tua itu tanpa mengetuk pintu karena setelah Adiva mencoba langsung membuka pintunya, pintunya langsung terbuka. Adiva langsung nyelonong masuk saja kedalam.
"Permisi? Apakah ada orang disini? Hellooo? Aku datang?" teriak Adiva cukup keras.
"Permisi? Apakah rumah ini ada penghuninya? Hello?" lanjut Adiva lagi berteriak.
__ADS_1
Setelah Adiva mengecek satu persatu ruangan di rumah ini ternyata tidak ada orangnya. Tapi Adiva mencoba memencet saklar lampu, saklar yang ia pencet membuat lampu berwarna kuning temaram yang tergantung itu menjadi nyala. Lampu temaram itu sedikit membantu penerangan dalam ruangan, lalu Adiva menutup pintu depan yang tadi ia buka. Adiva mengamati keluar dari dalam rumah. Rumah ini adalah tempat yang cukup nyaman dijadikan sebagai tempat persembunyiannya. Tapi kemanakah penghuni rumah ini? Rumah ini secara listriknya masih menyala, pikir Adiva.
"Semoga pembunuh itu tidak datang kesini. Ya Allah, hujan semakin lebat saja." harap Adiva sembari menatap luar rumah.
Namun apa yang Adiva terus harapkan itu sepertinya tidak terkabul. Pembunuh bayaran itu datang dengan membawa sebuah gergaji mesin. Pembunuh itu berjalan dengan cepat dan mengerikan, menuju rumah. Ia keluar dari dalam rimbun pepohonan di kebun.
"Hah! Dia datang. Dan dia membawa sesuatu yang semengerikan itu? Dia mau memotong tubuhku dengan gergajinya? Tidak, aku harus segera mencari tempat persembunyian yang aman!"
Adiva berputar-putar didalam rumah. Dia bingung menentukan dimana tempat persembunyiannya yang aman dan tepat. Adiva tidak bisa gini terus, ia harus segera sembunyi sebelum ketahuan oleh pembunuh itu. Adiva yakin pembunuh itu pasti akan masuk kedalam rumah, ia yakin pasti pembunuh itu akan mencarinya kesini. Karena pasti, pembunuh itu mengira rumah seperti ini pasti akan dijadikan tempat untuk bersembunyi olehnya. Apalagi diluar sedang hujan.
"Ah, sebaiknya aku tidak boleh berdiam terus disini. Aku harus segera keluar dari dalam rumah ini lalu kembali berlari. Aku akan keluar lewat pintu belakang rumah ini, pembunuh itu pasti akan mencariku sembunyi didalam rumah ini. Lumayan, dengan ia mencari itu akan sedikit mengulur waktu. Jadi aku punya waktu untuk berlari dan semakin jauh dengan pembunuh jahat sialan itu!" urai Adiva didalam hatinya sembari menoleh ke pintu depan. Lalu ia lekas bergerak ke pintu belakang dan langsung kabur.
Namun ia tidak menemukan ada Adiva yang sedang ngumpet ketakutan. Lalu pembunuh itu menoleh kearah pintu belakang, ia melihat pintu belakang yang sudah terbuka. Yang artinya Adiva sudah kabur melarikan diri. Pembunuh bayaran mama Linda itu membanting gergajinya, kesal karena targetnya sudah berhasil lolos.
"Siaaaaaaaal!" teriak pembunuh bayaran itu kesal.
Adiva terus berlari menabrak semak-semak. Sangat basah sekali dan agak kotor. Adiva menjadi manusia apes yang sedang berlari di sore hari ini, dingin dan kelam. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan jalan raya yang tadi dilalui. Kebetulan Bandi juga sedang melintas di dekat situ. Bandi langsung menghampiri Adiva dengan melajukan motornya kearah Adiva yang sedang berdiri ngos-ngosan di tepi jalan.
Adiva menggigil kedinginan sembari menunggu ada angkutan yang lewat, namun Bandi adalah pahlawan untuknya disore hari yang mengerikan ini. Bandi menyuruh Adiva untuk segera naik motor lalu mereka akan segera pulang ke rumah.
***
__ADS_1
Mama Linda sedang ngeteh cantik sembari menggigit kuku-kuku panjang yang ia beri warna cat kuku dengan warna merah itu. Kukunya terlihat garang, siapa yang terkena cakarannya pasti akan robek kulitnya.
"Aduh, gimana ya? Kenapa orang suruhan saya belum juga memberikan kabar?" tukas mama Linda penuh tanda tanya.
Daffa sedang melangkah dibelakang mamanya, mendengar omongan pelan yang keluar dari mulut mamanya itu, lantas Daffa duduk di samping mamanya. Mamanya yang tidak ia ketahui kalau ia itu jahat dan suka bayar orang buat membunuh menantu-menantu yang tidak ia harapkan kehadirannya.
"Kabar apa mam?"
"Aduh, Daffa. Kamu mengejutkan mama saja. Hmm, bukan kabar apa-apa. Nggak perlu kamu tahu. Oh iya, gimana kuliah kamu nak? Bentar lagi kamu wisuda loh, dan habis itu kamu akan melanjutkan study kamu di Eropa." tanya mama Linda mengalihkan pembicaraan.
"Nggak lah mam. Daffa cukup lulusan S1 aja dulu di Indonesia. Daffa mau fokus memantau perkembangan anak Daffa dan juga menemani kesehariannya Amel nanti kalau anak itu udah lahir mam."
"Iih, nggak! Mama mau kamu jadi lulusan S2 luar negeri juga seperti kakak kamu. Biar kamu pintar dan sukses kaya kakak kamu. Kamu mau ya lanjutin kuliah lagi? Nanti kamu bawa aja anak dan istri kamu ke Eropa."
"Daffa udah biasa dari lahir tinggal di Indonesia mam. Jadi nggak akan biasa kalau hidup disana. Daffa lebih bahagia disini, bersama keluarga, bersama teman-teman Daffa. Itulah kenyamanan yang Daffa ingin rasakan dalam hari-hari Daffa."
"Jangan bodoh sayang, pendidikan itu nomor satu. Nanti kamu menyesal loh, kamu akan kalah sama kakak kamu kalau kamu ga mau lanjutin kuliah S2 di Eropa."
"Mau, tapi bukan dalam waktu dekat mam,"
Bersambung...
__ADS_1