
Senja... Adalah waktu yang sangat indah dan tepat untuk menikmati indahnya matahari sore.
Senja... ibarat sebuah bunga mawar ditengah padang hijau. Dia sangat indah dan menarik hati untuk menatapnya.
Duduk diatas bukit, atau diatas pegunungan menikmati indahnya sunrise. Semua orang sangat suka dengan indahnya cahaya kuning di ufuk barat. Dan suatu saat cahaya kuning itu akan terbit dari arah terbenamnya. Ketika penyesalan atas segala kesalahan sudah tak ada artinya lagi.
Sore ini, Adiva sedang duduk sendirian di taman belakang rumah. Tidak ada aktifitas apa yang seru yang ingin ia lakukan. Makannya Adiva memilih untuk duduk bengong sendirian aja di kursi taman belakang rumah. Sembari menunggu pemilik hatinya pulang dari pekerjaannya. Jadwalnya mungkin padat hari ini.
Tiba-tiba, bi Sri yang akan menyirami bunga di taman belakang rumah sore ini menengok kearah nyonya muda yang sedang duduk sendirian itu. Bi Sri berinisiatif untuk menghampiri Adiva dan mengajaknya untuk mengobrol sebentar.
"Eh... Ada nyonya Adiva sendirian aja disini ? Pasti lagi nunggu tuan muda Alzam pulang ya?"
Adiva mengangguk sembari sedikit tersenyum kecil untuk bibi yang baik hati, dibalik sikap pendiam dan misteriusnya itu. Bi Sri meminta izin kepada nyonya muda untuk duduk di sampingnya dan dengan senang hati, tidak ada rasa risih atau apa Adiva mengizinkan bi Sri untuk duduk disampingnya.
"Nyonya Adiva apakah masih memikirkan diary milik almarhumah nyonya Zahra nggak? Gara-gara saya menceritakan perihal diary itu, saya hampir saja dipecat sama nyonya Linda. Dia takut kejahatannya terbongkar."
"Masih bi kalau memang perkataan bibi adalah sebuah kebenaran. Tapi waktu saya dan mas Alzam membuka laci itu, saya tak menemukan ada sebuah diary didalamnya. Jadi apakah benar kata-kata kamu bibi?"
__ADS_1
"Demi Tuhan, saya tidak berbohong! Pasti nyonya Linda telah mengambil duluan dan menyembunyikan diary itu. Satu hal yang harus Adiva tahu adalah, saya dan juga Turi, Inem, tahu penderitaan yang dulu dialami oleh almarhumah nyonya Zahra selama menjadi mantu nyonya Linda. Kami adalah saksinya tapi kami diancam akan dipecat, kalau mulut kami menceritakan kejahatan-kejahatan nyonya Linda kepada orang lain."
"Astaga... Kalau benar apa yang bibi bilang, aku nggak akan tinggal diam lagi! Aku akan melaporkan perbuatan mama Linda ke polisi. Tapi maaf ya bi, aku belum bisa sepenuhnya percaya kepada bibi kecuali kalau sudah ada bukti jelas. Makasih ya bi udah meluangkan waktumu buat ngobrolin hal ini sama aku?"
"Sama-sama antik, cantik yang memang dari hati. Bibi juga nggak memaksa kamu untuk percaya sama kata-kata bibi. Tapi bibi hanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan bibi kasihan sama nyonya Zahra. Ingin kejahatan nyonya Linda yang licik selama ini terbongkar. Kalau gitu, bibi lanjut menyiram tanaman dulu ya non?"
"Iya bi..."
Adiva memperhatikan bi Sri yang sedang menyirami bunga di taman.
"Apakah aku harus percaya sama perkataan bi Sri? Mungkinkah apa yang di bilang olehnya itu benar? Kasihan kakak kalau memang itu benar adanya. Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan berusaha buat menguliknya dan bertanya pelan-pelan kepada mama mertua tukang sindir itu." Adiva membatin penasaran.
Ekspresinya sangat nyalang dan licik, hati bertambah semakin membenci bi Sri karena pembantu pendiam itu masih saja suka buka suara soal kejahatannya itu. Mama Linda akan melakukan suatu cara agar bisa melenyapkan bi Sri dengan cara yang sangat halus.
"Sri... Tunggulah waktunya! Kamu akan say goodbye duniaaa, buat selamanya!" kata mama Linda pelan dengan tampang psiko.
Beberapa saat telah berlalu, langit senja telah berubah warnanya menjadi hitam gelap yang menandakan malam sudahlah tiba. Mama Linda dan Amel sedang bergosip sembari ngeteh cantik diruang santai.
__ADS_1
"Eh mam, tahu nggak kabar soal si artis A? Aku nggak nyangka dibalik sikap baik dan polosnya ternyata selama ini dia pakai permen gembira maa. Hiiii, amit-amit jangan sampai aku pakai itu."
"Eh iya, zaman sekarang kita nggak bisa menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja sayang. Bisa dilihat kalau penampilan luar terkesan baik dan ga neko-neko, tapi ternyata aslinya nggak sebaik yang kita kira. Malah pakai gitu-gituan. Cih!"
"Nggak juga sih ma, Amel tidak setuju! Lihat tuh menantu mama yang jorok dan super menjijikkan itu, penampilan luar sama penampilan dalamnya pasti nggak jauh beda! Sama-sama absurd."
"Kalau yang ini mama setuju. Adiva itu definisi perempuan yang paling patut buat dihujat! Semoga dia segera enyah dari rumah mama deh."
Adiva menggenggam tangan kesal, Adiva juga menantunya, tapi hubungan diantara mereka tidak sehangat hubungan mertua dan menantu pada umumnya. Tidak sehangat hubungan dengan menantu lain yaitu Amel. Mungkin beberapa waktu yang lalu mama Linda bersikap ramah, tapi ternyata itu cuma kedok aja agar Alzam tidak jadi menghancurkan perusahaan keluarganya sendiri. Mama Linda malah menjebaknya dengan penampilan yang acak-acakan saat datang ke acara arisan dirumah jeng Yati niatnya biar Adiva dipermalukan oleh teman-teman arisan mama Linda.
Jujur sih, dalam hati Adiva merasa iri karena cuma Amel yang keberadaannya dianggap dan dihargai oleh mama Linda di rumah ini. Dirinya juga menantunya tapi karena masalah kasta dan Adiva adalah berasal dari orang yang tidak punya, Adiva jadi semakin semangat akan berusaha, akan berjuang demi masa depan yang cerah. Adiva ingin membuktikan kalau ia bisa merubah kastanya. Dia bisa menjadi orang yang disanjung, dihargai, dan disayang oleh mama mertuanya.
Ahaa, bukannya dia punya salon kecantikan super mewah pemberian dari Aina atas kemenangan dalam perlombaan merias melawan Lisa?
"Yup, aku akan menggunakan salon itu untuk mengejar masa depan aku. Aku akan memanfaatkan itu baik-baik. Sembari kuliah aku akan belajar lagi gimana caranya merias dengan benar, belajar soal fashion, dan tentu saja belajar jadi seorang pemilik salon yang cerdas dan pandai dalam mengatur bisnisnya
Seperti kak Aina yang so pretty dan hebat itu. Ihiyy!" batin Adiva mensupport diri sendiri, seraya menatap iri kearah mama Linda dan Amel yang masih asyik menggunjing. Adiva ingin menjadikan sikap ketidakadilan yang ia terima sebagai cambuk untuknya bergelora meraih mimpi. Adiva kembali ke kamarnya, tidak mau lama-lama mendengar obrolan dua wanita toxic itu yang sedang menjelek-jelekan dirinya dari belakang.
__ADS_1
Saat Adiva akan kembali kedalam kamarnya, tiba-tiba mama Linda membahas soal almarhumah kakaknya. Adiva jadi menghentikan langkahnya sejenak lalu mengintai kembali kearah mama Linda dan juga Amel.
Bersambung...