MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Suami Idaman Banget Sih


__ADS_3

Mama Linda perlahan mulai membuka laci nomor lima, saat sudah dibuka, mama Linda melihat banyak sekali barang-barang kecil kesayangan almarhumah Zahra. Mama Linda mengambil barang-barang itu. Ada gelang, ada cincin, ada kalung, semuanya bukan benda imitasi. Ada juga bross, liontin, gantungan kunci, pulpen, dan juga satu buku diary bersampul biru muda. Terlihat oleh netra ada satu foto ukuran kecil yang mengabadikan kemesraan Alzam dan Zahra dalam sampul diary itu.


Mama Linda mengambil diary itu kemudian mulai membaca isinya. Kira-kira apa saja ya yang ditulis oleh almarhumah menantunya itu. Mama Linda membaca lembar demi lembar halaman awal. Awal dari isi diary itu adalah ketika Zahra menuliskan pengalaman-pengalaman romantisnya bersama dengan Alzam saat awal pernikahan mereka. Saat berbulan madu, saat berlibur ke Bali, saat jalan-jalan disegala tempat yang menurutnya indah.


Mama Linda merasa ingin muntah saat membaca bagian yang ini. Kemudian mama Linda mulai membaca halaman yang berikutnya, halaman demi halaman saat Zahra mulai menuliskan penderitaannya dibawah tekanan mama Linda. Saat mama Linda menjambak rambutnya karena Zahra tak sengaja membuat bajunya gosong akibat lalai dalam menyetrika.


Saat mama Linda memukul Zahra karena membuatnya terpeleset saat sedang mengepel lantai. Saat mama Linda menenggelamkan kepala Zahra didalam wastafel hanya gara-gara Zahra itu seorang menantu miskin yang tidak bisa ia banggakan didepan teman-teman arisannya. Masih banyak kejahatan-kejahatannya yang lain, yang tertulis dalam diary bersampul biru muda itu.


Mama Linda membaca tulisan curahan hati Zahra dengan wajah marah. Mama Linda khawatir kalau sampai semua orang tahu isi dari diary ini, maka kejahatannya kepada menantunya yang sudah meninggal akan terbongkar. Mama Linda ingin membakar diary ini saja daripada ada orang lain yang membacanya. Semua kejahatan yang ia lakukan terdokumentasikan dalam tulisan kecil Zahra.


Sebelum membakar diary, mama Linda kembali memasukkan barang-barang kesayangan Zahra kedalam laci nomor lima lagi. Setelah selesai kemudian menguncinya kembali. Setelah itu mama Linda juga mengembalikan kunci itu dibawah kasur dan bergegas pergi ke belakang rumah untuk membakar diary milik Zahra.


Di belakang rumah, mama Linda sedang menatap nyalang kearah diary biru muda yang ia pegang. Tangan kanannya memegang sebuah korek yang akan ia gunakan untuk membakar diary itu.


"Selamat tinggal bukti sialan!" ucap mama Linda pelan lalu akan membakar diary itu.


Ternyata diam-diam bi Sri mengamati aksi mama Linda dari belakang. Tepatnya dari dekat pintu belakang rumah.


"Nyonya Linda mau membakar bukti kejahatannya. Aku harus bisa menggagalkan niat dia membakar diary itu." batin bi Sri.


Bi Sri melihat sebuah batu kerikil yang akan ia gunakan untuk melempar kearah nyonya Linda. Bi Sri bersimpuh lalu mengambil kerikil itu dan langsung melemparkannya kearah kepala sang nyonya keji.


"Aaaaa," kejut mama Linda hingga membuat koreknya terjatuh.


Mama Linda memegang bagian belakang kepalanya yang terasa linu akibat lemparan kerikil itu. Saat melihat ke belakang ternyata tidak ada orang. Bi Sri sedang bersembunyi dibalik pot tanaman.


"Siapa yang lemparin saya! Keluar kamu!" nyalang mama Linda memekik marah.

__ADS_1


"Jangan berani macam-macam dengan saya ya!"


Mama Linda memindai keadaan disekitarnya dan sepertinya memang tidak ada orang. Seketika mama Linda teringat kemarin malam kan katanya ada penampakan hantu di area taman luas belakang rumahnya. Apa jangan-jangan itu hantunya Zahra yang berniat membalas dendam?


"Masa sih rumah saya jadi angker?"


Mama Linda takut hantu itu datang dan akan menampakkan dirinya didepan mata. Mama Linda yang takut hantu itu membatalkan niatnya dulu membakar diary Zahra sekarang. Lalu bergegas masuk kedalam rumah. Mama Linda akan menyimpan diary itu dulu, lalu akan ia bakar besok.


"Hiii.... merinding," kata mama Linda seraya berjingkut sembari berjalan.


Sebuah mobil mewah yang sudah tidak asing lagi mendarat didepan rumah. Mobil itu disetir oleh pemiliknya dan akan segera masuk kedalam sarangnya, yaitu garasi. Setelah selesai memasukkan mobil kedalam garasi, tuan dari si pemilik mobil mulai berjalan masuk kedalam rumah. Di depan pintu ada Daffa yang sedang berdiri sembari merokok. Alzam sungguh tidak menyukai kebiasaan adiknya yang masih suka merokok.


"Masih merokok kamu?"


"Sulit bang buat menghilangkan kebiasaan buruk ini,"


"Ah yaudahlah terserah kamu, aku mau temuin istri aku,"


"Istriku, mas pulang. Kok kamu nggak menyambut kepulangan mas didepan rumah sih?" tanya Alzam keras seraya membuka pintu kamar.


Alzam malah terkejut saat melihat sang istri sedang tertidur pulas diatas meja. Dengan inisiatifnya Alzam menggendong manja istrinya, akan ia baringkan diatas kasur dengan penuh kelembutan. Tak lupa Alzam juga menyelimuti istri kecilnya itu lalu mencium keningnya.


"Muach... Kamu pasti lelah sayang, mas juga lelah. Tapi kamu pasti jauh lebih lelah, lelah pikiranmu karena mengerjakan tugas sebanyak itu di meja. Biar aku saja yang menyelesaikan tugas-tugas kamu ya," bisik Alzam di samping istrinya.


Alzam bangkit berjalan lalu duduk di kursi depan meja belajar Adiva. Alzam mencopot dasi CEOnya dulu sebelum mulai kembali menggeluti kegiatan yang dulu ia selalu lakukan semasa kuliah. Alzam mulai mengerjakan tugas-tugas kuliah Adiva. Alzam mengerjakan tugasnya Adiva dengan cermat dan teliti. Alzam tidak mau membuat kesalahan yang bisa membuat nilai istrinya jadi kurang memuaskan. Alzam yang cerdas masih mudah dalam mengerjakan tugas seperti ini.


Usai mengerjakan tugas-tugas istrinya dan selesai dalam waktu satu jam, sungguh romantisnya kala suami dengan perhatian mengerjakan tugas sang istri yang tengah ketiduran. Alzam mendengar bunyi perutnya tanda butuh asupan.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan sudah tidak ada makanan yang tersaji diatas meja makan. Alzam memutuskan untuk memesan makanan via online saja, sembari menunggu makanan datang, Alzam duduk menyendiri dikursi taman rumahnya.


Alzam menunggu sambil memikirkan soal diary yang tadi pagi mereka bahas dalam mobil.


"Apa benar selama menikah dengan saya hidup Zahra malah tertekan? Siapa orang yang udah menembak mati istri saya sampai sekarang pelakunya belum juga terungkap!"


Daffa datang lalu duduk disamping kakaknya. Melihat kehadiran Daffa, Alzam malah membuang muka kesamping. Daffa menarik nafas lalu berkata.


"Apa yang akan kakak lakukan jika kakak sudah tahu siapa orang yang menembak istri kakak?"


"Kakak jelas akan menuntut keadilan, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa juga! Kakak akan meminta pelakunya dihukum mati, siapapun dia."


Daffa merasa tegang saat mendapati jawaban itu.


"Termasuk mama kalau seandainya dia yang menembak istri kakak?"


"Mana mungkin mama yang menembak, orang saat kejadian mama lagi berjibaku dengan tikus sialan didalam kamarnya."


"Iya, hati-hati dengan omongan kakak. Aku cuma nggak mau kakak ingin melihat kematian orang yang menembak mati istrimu dulu. Gimana kalau orang yang menembak itu ternyata adalah keluarga kita sendiri kan kakak sama saja mau kehilangan anggota keluarga kakak."


"Kamu sungguh aneh Daffa, atau jangan-jangan...."


Netra Alzam menatap penuh tanya dan tajam kearah Daffa.


Bersambung...


Hai guys

__ADS_1


hadir lagi dengan episode baru nih.


oh iya, jadwal up episode setiap kamis-sabtu ya. see you next episode.


__ADS_2