
"Oh, makasih banyak ya kamu udah mau selamatin aku?"
"Kalau aku gak nyelamatin kamu nanti aku berdosa karena udah biarin cewek rese jatuh ke jurang."
"Kok kamu bilang aku rese sih!"
"Ya emang gitu faktanya!"
Kemudian, mereka berdua pun bangkit. Tiba-tiba terdengar suara serigala hutan yang menyalak dengan nyaringnya. Sontak mereka berdua menjadi ketakutan.
"Masih mau disini? Masih mau lanjut jelajah alam di hutan terpencil ini?"
"Ya masih lah! Aku tuh pecinta alam! Gak puas kalau cuma bentar doang! Ayo temani aku!" pekik Lisa kesal, seraya mencubit lengan Bandi yang kekar itu.
"Tapi kamu gak bayar aku. Aku gak mau menemani kamu, pergi sendiri sana!"
"Tega ya sama aku! Minta bayaran berapa! Puluhan juta pun pasti aku kasih!"
"Eh nggak, cuma bercanda."
"Huh ngeselin abang bodyguard yang satu ini!"
Lisa mencubit manja lengan Bandi.
"Cieee sukanya main cubit-cubitan nih sekarang?" goda Bandi.
"Paan sih, pokoknya aku mau lanjut mencari rusa itu di hutan ini, aku nggak takut sama serigala!" ujar Lisa lanjut melangkah. Namun Bandi memanggilnya dari belakang.
"Lisa, lu yakin mau lanjut? Lu yakin nggak takut sama binatang buas itu? Kalau gue sih takut ya. Gue cuma mau temani lo sampai sini. Kalau didalam sana, kalau lo melangkah semakin dalam dan di dalam sana ada apa-apa, misalnya binatang buas, hantu, gue ga tanggungjawab buat bantuin lo. Bayangin aja kalau lu digigit sama serigala dan kaki lo buntung, gimana lo..."
Lisa langsung memotong ucapan Bandi yang menakut-nakuti dirinya.
"Go, go to cabin," ajak Lisa melangkah kepada Bandi kemudian merangkul tangan Bandi karena ketakutan.
"Sekarang main *****-***** tangan, lu maunya apa sih!"
"Bawel banget sih lo, Bandi!"
"Bawel gini nanti kangen,"
__ADS_1
"Diem lo, buruan pulang!"
Di dalam kamar, Adiva tengah video call bersama suami tercinta sembari membopong manja Juna. Anna si babysitter tengah bikin bubur lembut untuk si bayi mungil itu, di dalam dapur cabin.
"Gimana sayang tinggal disitu? Nyaman gak? Banyak nyamuk gak?"
"Banyak mas, untung bawa alat pengusir nyamuk. Aku malah betah banget disini mas, pengin lama disini, hehehe boleh gak?"
"Apa yang gak buat kamu permaisuri hatiku. Minggu depan mas baru nyusul kesitu. Mas mau selesaikan dulu berbagai macam urusan perusahaan yang terkendala banyak hal. Semua, harus mas selesaikan dalam waktu singkat itu target mas. Biar mas bisa berduaan dengan istri mas disana, mas gak sabar."
"Iya mas, fokus dulu sama kerjaan kamu. Udah dulu ya mas, aku mau suapin baby J dulu?"
Alzam mengangguk senang.
"Hai baby J, tunggu papa ya?" ucap Alzam di kamera dengan wajah ceria kemudian melambaikan tangan kepada baby J. Baby J membalasnya dengan tawa ceria ala bayi.
Lalu Alzam pun menutup VCnya dengan Adiva. Anna membawa mangkok berisi bubur lembut untuk baby J.
"Makasih Anna,"
"Sama-sama nyonya,"
"Suasana aman kan? Kalian semua udah pada makan siang?"
"Kalian istirahat makan siang dulu ya. Semua bahan masakan ada di dalam ruang penyimpanan di belakang cabin ini."
"Baik nyonya, permisi."
Tak berselang lama ketika Adiva sedang sibuk suapin bubur kepada bayinya, Anna datang lagi ke kamar Adiva dengan wajah tergesa-gesa.
"Ada apa Anna? Muka kamu?"
"Sepertinya stok bahan masakan kita di dalam ruangan itu berkurang nyonya. Seperti ada yang mencurinya, kata Nani dan Tini."
"Masa sih disekitar sini ada pencuri? Apa jangan-jangan dicuri monyet ya? Soalnya tadi waktu aku sedang berdiri di depan cabin, ada yang lemparin kerikil ke kepala aku."
"Monyet kan suka usil ya nyah? Yaudah, nyonya tenang saja. Tapi stok makanan kita masih sangat banyak kok. Pencuri itu cuma mengambil sedikit saja. Ya mungkin disekitar sini ada orang tanpa sepengetahuan kita dan dia sedang kelaparan sehingga terpaksa mencuri stok makanan kita."
"Keamanan harus diperketat lagi ya Anna. Aku nggak mau lagi ada orang asing bisa masuk ke dalam kabin kita. Kunci semua pintu dan jendela baik pada malam maupun siang,"
__ADS_1
Anna mengangguk lalu keluar dari dalam kamar Adiva. Dan malam pun tiba. Adiva sedang berdiri sendirian di dalam ruangan penyimpanan bahan masakan di dalam kabin.
Adiva mengamati satu persatu dari bahan masakan yang ada baik beras, minyak, bumbu, mie, telur, tepung-tepungan, susu, kacang-kacangan, sedangkan daging, buah, dan sayur mayur di simpan dengan aman di dalam lima kulkas yang ada di dalam kabin ini. Cukup untuk stok makanan selama seminggu kedepan sebelum Alzam menyiapkan stok makanan yang baru lagi.
"Ini aneh, di kabin dengan penjagaan yang ketat pun masih aja ada orang asing yang bisa masuk. Mana mungkin bodyguard dan pembantu yang mencuri stok bahan makanan disini. Kabari mas Alzam gak ya? Ah sebaiknya kaga. Aku gak mau bikin mas Alzam nambah pikiran disaat dia sedang berjuang menyelamatkan perusahaannya," ucap Adiva meski hatinya mulai agak cemas.
Tampak seseorang sedang melangkah di belakang Adiva, siapakah orang misterius itu? Apakah dia adalah mama Linda yang bersiap menikamnya dari arah belakang?
"Dor!" kaget orang itu menepuk pundak Adiva.
Adiva berjingkut kaget saat Lisa mengagetkan dirinya.
"Ih Lisa apaan sih? Kalau aku jantungan gimana?"
"Masih muda udah jantungan jangan lebay deh beb. Kamu ngapain sih disini sendiri? Nggak takut ada hantu?"
"Nggak lah ngapain takut sama gituan. Justru mereka yang sebenarnya takut sama kita. Aku yakin kabin besar ini ga angker kok. Eh gimana tadi siang?"
"Gimana apanya?"
"Kan aku nyuruh Bandi buat nemenin kamu beb."
"Oh itu, ngeselin sih beb, tapi kalau gak ada dia, mungkin aku udah nggak ada lagi di dunia ini."
"Ya Allah, apa yang terjadi di hutan?"
"Itu beb kakiku kepleset dan aku hampir jatuh ke jurang, untung ada Bandi yang datang selamatin aku. Ya habis itu aku malah saling sewot-sewotan sama dia. Habisnya dia ngeselin banget sih beb."
"Duh, jangan saling benci gitu nanti lama-lama suka loh."
"Ih, jangan bahas itu lagi ah. Ayo kita makan malam beb?"
"Ayo beb,"
Adiva dan Lisa saling bergandengan tangan menuju ruangan santai di dalam kabin. Adiva selalu mengingat, dahulu mereka seperti tom dan jerry, tapi sekarang mereka lengket seperti perangko.
Saat malam tiba semua orang berkumpul di ruangan santai, tapi ada beberapa yang sedang beristirahat di dalam kamar. Semua pintu dan jendela sudah terkunci rapat. Adiva menyetel televisi yang sedang menayangkan acara berita.
Kebetulan acara berita itu sedang membahas buronan yang belum tertangkap kepolisian, yaitu mama Linda.
__ADS_1
"Seorang buronan yang bernama Linda dikabarkan belum tertangkap sampai sekarang. Bahkan berkeliarannya buronan tersebut telah memakan satu korban bernama Amel. Pihak kepolisian masih berusaha mati-matian menangkap buronan tersebut." urai sang pembawa acara berita.
Bersambung...