
"Sebenarnya dulu mama juga tidak suka loh waktu Alzam jadi suaminya Zahra. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Mama selalu membuat hari-harinya seperti di neraka. Tapi kalau didepan Alzam, mama selalu memperlakukan dia seramah dan se perhatian mungkin! Bak di surga dunia."
Amel terkejut sekali saat mama Linda menuturkan perihal kelakuan busuknya kepada Zahra dulu. Apalagi Adiva yang diam-diam sedang mendengarkan omongan mama Linda dari balik tembok. Rasanya Adiva ingin mencabik mama mertua saat ini juga.
"Mama, aku benar-benar nggak nyangka nih. Itu benar? Kalau mama dulu memperlakukan tuh orang udah mati dengan busuk dibelakang mas Alzam? Tapi... bukannya Zahra itu adalah perempuan yang sifatnya nggak separah Adiva itu? Ya meski dia adalah orang yang miskin juga, tapi aku kaget ma, tapi mama lakuin apa aja sama dia dulu?"
"Mama terkadang menjambak rambut dia, menamparnya, mendorongnya ke lantai. Mama juga menyuruh dia mengerjakan separuh kerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan sama para ART, hahahaha... Lumayan! Mama jadi punya babu gratis dan waktu itu mama jadi cuma membayar para ART dengan separuh gaji. Ya karena itu, sebagian tugas udah dikerjakan sama si menantu yang tidak berguna itu. Hahahahaha."
"Ya ampun... Mama ini lumayan kejam juga ya. Tapi mama pinter juga sih bisa manfaatin orang yang nggak berguna dan pastinya mama nggak akan memperlakukan aku seperti itu kan?"
"Nggak dong sayang, mana mungkin mama menyiksa dan memperlakukan kamu seperti itu. Kamu kan wanita anggun terhormat menantuku, kesayangan mama nak. Mama akan selalu manjain dan sayang ke kamu, perawatan dan belanjain kamu baju-baju baru setiap hari, yuhuuu."
"Uuh, mama mertua kebanggaan kesayangannya siapa dulu nih, Amel..." manja Amel sembari memeluk mama mertuanya itu.
Adiva sudah tidak terlalu heran lagi kalau dulu mama Linda perlakuin kakaknya dengan tidak baik. Rasa dendam pun muncul dalam diri Adiva, jadi benar kalau apa yang dibilang sama bi Sri itu. Adiva akan mencari dimana letak diary kakaknya disembunyikan oleh mama Linda. Adiva akan memperjuangkan keadilan untuk almarhumah kakaknya dan juga keadilan untuknya sendiri. Adiva ingin mama mertua sialan itu mendapat balasan yang setimpal.
Usai nguping diam-diam, Adiva menyelinap masuk kedalam kamar mama Linda, mumpung mama Linda sedang ngobrol manja berdua bersama dengan Amel diruang santai. Adiva tidak akan menyia-nyiakan momen yang pas ini, dengan perlahan sekali ia membuka pintu kamar mama mertua lalu menutup nya kembali dengan perlahan juga, supaya tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Siapa tahu diary itu dia sembunyikan disini?
Adiva mengendap-endap agar suara langkah kakinya tidak terlalu kedengaran. Adiva mulai mencari diary dengan membuka lemari mama Linda yang untung saja tidak kekunci. Adiva mencari dengan teliti dibawah dan dibalik pakaian namun satu persatu barang yang ia temukan hanyalah kotak perhiasan dan dompet.
__ADS_1
Diruang santai, mama Linda ingin kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang terletak diatas meja.
"Sayang, mama ambil HP dulu ya? Penasaran deh sama apa yang kamu bilang barusan, soal belanja baju-baju bagus secara online itu."
Amel mengangguk dengan wajah bahagia karena mereka akan berbelanja pakaian yang bagus dan mahal lagi, namun kali ini mereka akan belanja di olshop.
Mama Linda mulai melangkah menaiki anak tangga dan akan menuju kedalam kamarnya. Sementara itu dengan teliti, Adiva masih mencari di mana letak diary kakaknya itu dibawah bantal, dibalik selimut juga ia cari, dan didalam laci namun tidak ia temukan. Malah sekarang Adiva mendengar suara langkah kaki yang sedang melangkah menuju kamar mama mertuanya.
"Aduh gawat nih! Aku mendengar suara langkah kaki kesini! Aku harus segera bersembunyi, ada orang yang mau masuuuk. Aduhhh tidaaak, ini gimana?" batin Adiva bingung seraya celingukan mencari dimana tempat yang pas buat bersembunyi.
Mama Linda menggerakan gagang pintu, membuka pintu kamarnya lalu mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Mama Linda sebelum keluar kamar lagi ia berhenti sejenak, seperti ada yang berbeda dari kamarnya sewaktu ia tadi sebelum keluar mengobrol dengan Amel. Letak bantal dan selimut yang sedikit berantakan!
"What? Sepertinya ada yang masuk kedalam kamar saya barusan. Perasaan tadi posisi bantalnya agak menyamping deh, tapi kenapa sekarang berubah ya? Apa ada ART yang tadi masuk kedalam kamar saya, tapi ngapain? Kan kamar saya udah diberesin." ucap mama Linda pelan, merasa bingung juga penasaran.
Adiva terlalu ceroboh tadi, tidak menempatkan kembali barang-barang yang ia porak-poranda ke posisi semula.
"Melihat ini jadi udah yakin sih barusan ada yang masuk kedalam kamar saya, tapi untung saja perhiasan-perhiasan ratusan juta milik saya tidak ada yang hilang." gerutu mama Linda penuh penekanan nada, ia sengaja menyindir dengan penekanan nada. Siapa tahu orang yang masuk itu masih ada disini dan mama Linda yakin itu adalah menantu tomboy itu.
Mama Linda menutup lagi lemari pakaiannya kemudian akan mencari ke seisi kamar, siapa tahu ada yang sedang bersembunyi didalam kamarnya. Tempat pertama yang akan ia cek adalah langsung tempat dimana persembunyian Adiva sekarang, mama Linda akan mengecek kolong kamar tidurnya dimana Adiva sedang tengkurap panik dibawahnya.
__ADS_1
Adiva menoleh kearah kiri, ada mama Linda. Sepasang kaki manusia itu sedang berjalan pelan menghampiri kearah kolong kamar tidur tempatnya sedang bersembunyi. Akan berakibat fatal kalau sampai sang mama mertua tahu akan hal itu. Bisa-bisa dirinya akan dimarahi seisi rumah karena ketahuan diam-diam masuk kedalam kamar mama mertua jahatnya dan mengacak-acak barang.
Mama Linda semakin mendekat dan semakin mendekat lagi, sebentar lagi beliau akan mengecek dan melihat kearah kolong tempat tidur namun saat mama Linda akan melakukan itu, Amel mengetuk pintu membuat mama Linda membatalkan sebentar mengecek kolong tempat tidurnya.
"Iya sebentar..." kata mama Linda seraya membuka pintu.
"Amel, kamu nyusulin mama sampai kesini? Maaf ya mama agak lama, habisnya mama lagi curiga kalau barusan ada orang yang diam-diam masuk kedalam kamar mama."
"Apa, siapa kira-kira ya mam? Amel bantuin mama cari orang itu?"
"Ayo sayang, barusan sih mama mau mengecek kolong kamar, mama batalin sejenak karena kamu datang." ucap mama Linda sembari berjalan beriringan bersama dengan Amel. Mereka berdua akan mengecek lagi kolong tempat tidur mama Linda.
Adiva masih bersembunyi dibawah ranjang itu, ia pasrah kalau harus ketahuan dan akan dimarahin sama seisi rumah.
"Satu, dua..." aba-aba mama Linda.
"Ti..."
"Nyonya!!!" teriak bi Turi keras nan heboh.
__ADS_1
Batal lagi deh rencana mama Linda untuk mengecek kolong tempat tidurnya gara-gara bi Turi datang dengan keadaan yang panik dan heboh.
Bersambung...