
"Ini mas kopi susunya, aku bikin kopi ini dengan rasa cinta yang menggelora loh,"
"Memangnya ada ya sayang, kopi rasa cinta?"
"Ada dong mas, kamu rasain kopi susu bikinan aku, rasanya ga cuma manis dan pahit, tapi ada sesuatu yang spesial di kopi itu,"
"Sesuatu yang spesial apaan sayang, racun?"
"Hm, aku gak segila itu mas,"
"Bayi kita Wildan, lagi ngapain sayang?"
"Yang namanya bayi merah dimana-mana ya hanya bisa baring lah mas,"
Suara obrolan hangat sepasang kekasih terdengar dari halaman samping rumah. Jendela kaca di kamar mereka dibuka oleh sang istri, membiarkan udara yang segar alami masuk kedalam. Oksigen dibutuhkan untuk kesegeran nafas dan juga ruangan.
Adiva tersenyum menatap indahnya area perbukitan di sekeliling rumah mereka. Bunga-bunga yang ia rawat juga semakin bermekaran dengan indah di taman rumah mereka. Sore ini, Adiva ingin sekali membawa Wildan dan Alzam jalan-jalan bareng keatas perbukitan itu.
"Sore ini kita ke perbukitan lagi ya mas?"
"Hm,"
Alzam mengiyakan dengan kata "Hm" seraya menatap layar komputer dengan serius. Alzam menghandle semua pekerjaannya dari rumah, karena prioritas utamanya selain bekerja sekarang adalah menjaga istri dan bayi kecilnya.
Adiva bernafas lega. Orang-orang yang dulu menjahatinya sekarang semuanya sedang mempertanggungjawabkan perbuatan keji mereka di balik jeruji besi. Setelah satu minggu kelahiran baby Wildan, Adiva merasa tenang sampai sekarang.
Namun tiba-tiba rasa lega Adiva berubah menjadi cemas ketika Adiva mendengar suara presenter berita di televisi yang memberitakan bahwa ada tiga tahanan yang kabur dari penjara, dimana ketiga tahanan itu, dua diantaranya adalah orang yang Adiva kenali.
Alzam dan Adiva sama-sama menatap ke layar televisi di dalam kamar mereka. Wajah Adiva terlihat terkejut bercampur panik ketika mengetahui berita ketiga tahanan yang kabur itu. Adiva kemudian menoleh ke wajah sang lelaki gagah, netra takutnya tidak bisa ia tutupi. Adiva berlari pelan memeluk Alzam.
__ADS_1
Rasa traumanya akibat hampir digauli paksa dan dibunuh pak Nick masih membekas di ingatannya.
"Mas, aku takut? Laki-laki brengsek itu sedang berkeliaran. Aku takut dia kembali menyerang kita mas?"
"Tenang sayang, saya akan segera memperketat keamanan di rumah kita,"
Dan malam pun tiba. Pak Nick dan bang Jaja sedang mengintai kediaman Alzam dan Adiva dari atas pohon diatas perbukitan. Mereka memindai keadaan di sekeliling rumah Alzam dan Adiva.
Begitu banyak laki-laki berseragam hitam nan kekar yang sedang berdiri di semua sudut rumah Alzam dan Adiva. Hampir di semua sudut rumah ada yang menjaganya.
"Gila aja kita maling kesana, lihat, rumah itu dijaga puluhan bodyguard. Mustahil kita bisa menerebos penjagaan mereka yang begitu ketat," urai bang Jaja ragu.
"Iya, padahal waktu dulu saya mau membunuh Adiva, cuma ada beberapa penjaga saja. Tapi sekarang begitu sulit buat masuk. Tapi kita harus punya ide lah biar kita bisa masuk dan mencuri uang mereka?"
"Ah kita mencuri ditempat lain ajalah?" usul bang Jaja ragu.
"Nggak bang! Kita mencuri disana saja, saya masih menyimpan dendam yang sangat besar kepada sepasang suami istri itu!"
"Maksudnya umpan itu gimana bang Jaja?"
"Kamu pancing lah semua bodyguard itu buat mengejar kamu. Bikin mereka curiga sama kamu! Lalu pasti mereka akan mengejar kamu! Berlarilah sekencang mungkin! Bikin mereka pergi dari situ, saat situasi udah pas, aku akan masuk kedalam rumah itu lewat jendela. Nanti akan aku usahakan buat buka jendelanya pakai kawat cadangan."
Pak Nick tampak ragu dengan ide yang dilontarkan oleh Bang Jaja. Masa dirinya harus jadi umpan sih? Kalau sampai ketangkap gimana, kan bakalan kacau urusannya. Pak Nick ogah mendekam di penjara lagi apalagi kalau sampai puluhan bodyguard itu mengeroyoknya.
"Gimana Nick? Kenapa bengong? Kamu gak berani menjadi umpan buat rencana mencuri kita?"
"Baiklah, aku akan menjadi umpan. Tapi kalau aku tertangkap lagi, kamu janji ya bang Jaja, bantuin aku buat bisa kabur lagi dari penjara nanti,"
"Sip Nick!"
__ADS_1
Kemudian mereka berdua turun dari atas pohon itu dan mulai melangkah menuju kediaman Alzam dan Adiva. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di kamar Wildan, Adiva sedang menidurkan baby W dengan tidur di samping baby W.
Ini semua seperti mimpi yang indah baginya. Menjadi istri dari laki-laki tampan kaya, dan sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu muda. Meski rasa ketakutan akan kabar kaburnya mama Linda dan pak Nick dari penjara sedang ia rasa, namun Adiva tetap berusaha untuk tenang dan menikmati detik demi detik, menit demi menit yang berlalu.
Adiva menatap kearah jendela kaca, tirai itu belum ia tutup, Adiva bergegas bangkit kemudian melangkah ke dekat jendela kaca buat menutup tirai yang belum ia tutup. Sebelum Adiva tutup terlebih dulu Adiva mengecek apa jendela kaca ini sudah dikunci atau belum, ternyata jendela kaca ini sudah dikunci jadi Adiva merasa tenang dan kemudian keluar dari kamar baby J.
Adiva menitahkan seorang baby sitter buat menemani baby J di dalam kamarnya. Kemudian Adiva melangkah menuruni anak tangga berwarna coklat, tiba-tiba, telinganya menangkap suara ribut secara tiba-tiba yang terjadi di area halaman rumah.
Terdengar para bodyguard yang berjaga di sekeliling rumah sedang ribut berlarian mengejar sesuatu. Adiva bergegas berlari menuruni anak tangga untuk melihat kejadian apa yang sedang terjadi di halaman rumah.
Adiva melihat dari balik kaca, semua bodyguard mengejar seorang laki-laki bertopeng maling yang sedang berlari menuju area perbukitan. Berkat bantuan cahaya lampu taman Adiva bisa melihat dengan cukup jelas aksi kejar-kejaran itu.
"Siapa ya dia? Pasti mau maling disini tapi kepergok. Lagian udah tahu disini banyak yang jaga masih nekat aja," ucap Adiva bingung.
Adiva kemudian berbalik badan, tidak mau ikut campur masalah yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab para bodyguard. Namun saat Adiva berbalik badan, bang Jaja sudah berdiri di belakangnya dengan memakai topeng khas pencuri. Hanya kedua mata, hidung, dan bibir saja yang kelihatan.
"Siapa kamu!" tanya Adiva lantang.
Bang Jaja diam saja lalu mengeluarkan sebilah pisau dari balik saku jaketnya. Kemudian, dengan gaya cepat bang Jaja langsung mengacungkan pisau itu kearah Adiva. Adiva menatap nanar pisau itu kemudian berjalan mundur perlahan, menghindari pisau yang sedang diarahkan kepadanya.
"Kamu siapa sih! Mau maling disini silahkan, tapi jangan berani-beraninya menyakiti aku!" pekik Adiva mengusir orang yang ia kira maling itu.
Bang Jaja diam saja, malah semakin berjalan mendekati Adiva. Adiva terus melangkah mundur lalu Adiva berteriak memanggil Alzam yang sedang bekerja di kamar.
"Mas Alzam! Tolong!" teriak Adiva kencang. Telinga sang suami langsung menangkap suara minta pertolongan dari istrinya.
Sontak bang Jaja jadi panik karena Adiva berteriak, kemudian bang Jaja nekat menggores lengan Adiva menggunakan pisau yang ia pegang.
Bang Jaja sendiri juga sudah berhasil membobol brankas di dalam rumah ini. Brankas yang ada di kamar rahasia. Di tangannya Bang Jaja memegang karung kecil berisi gepokan uang. Bang Jaja bukanlah pencuri sembarangan.
__ADS_1
Terkena goresan tajam, Adiva jadi merintih sembari melihat lengannya yang berkucuran darah. Sementara itu Alzam tengah berlari menuruni anak tangga, khawatir terjadi sesuatu setelah mendengar Adiva berteriak barusan.
Bersambung...