MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mantan Pacar Wanita Ular


__ADS_3

"Jadi karena itu? Mereka semua datang kesini untuk mengacau? Hah, ada apa dengan mantan pacar menantu saya? Apakah dia tidak menerima pernikahan anak saya dengan Amel? Saya harus bicarakan ini dengan Amel." gumam mama Linda dalam hatinya.


Mama Linda berbalik badan lalu mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah namun terhenti sejenak gara-gara bi Sri yang berteriak.


"Nyonya gimana ini!? Apa nyonya nggak kasihan sama nyonya Adiva? Undang dokter nyonya!" harap bi Sri ingin mama Linda mengundangkan dokter buat menangani luka-luka Adiva.


Mama Linda menarik nafas dengan wajah cemberut kemudian kembali melanjutkan langkahnya kedalam rumah mewahnya. Tidak menjawab saran dari bi Sri.


"Udahlah bi, tidak apa-apa. Dari dulu aku sudah terbiasa dengan lebam-lebam seperti ini. Nanti dikompres aja sama minum obat pereda nyeri juga lama-lama sembuh." kata Adiva lemah dalam pelukan bi Sri.


Bi Sri seolah ibu yang memberikan kenyamanan untuknya, yang khawatir saat dirinya sedang lemas dan terluka. Bi Sri begitu peduli dan juga perhatian.


"Tapi kalau tuan muda Alzam sampai tahu gimana? Kan bahaya, nanti bisa-bisa semua orang rumah akan kena imbas kemarahannya gara-gara tidak ada yang sanggup dalam menjaga nya Diva? Nyonya Diva sampai ripuh seperti ini," cakap khawatir bi Sri.


"Nggak, bibi ga usah khawatir. Mas Alzam tidak akan marahin siapa-siapa. Sekarang bawa aku kedalam kamar bi dan nanti tolong kompres luka lebam aku?"


"Iya nyonya. Woy Inem, Turi, ngapain kalian diam saja? Ayo bantuin saya bawa non Adiva kedalam kamar!" ajak bi Sri memandang dua pembantu lain yang hanya diam aja.


"I iya Sri..." jawab Inem yang masih tak percaya melihat Adiva berhasil ngalahin preman-preman itu.


Mereka bertiga membantu Adiva berdiri lalu memapahnya menuju kedalam rumah. Sementara itu mama Linda tengah menggedor-gedor pintu kamar Amel dengan keras.


"AMEL buka!"

__ADS_1


Membuat Amel yang sedang duduk cemas jadi terkaget. Ia segera bangun lalu membukakan pintu untuk mama mertuanya.


"Mama ada apa sih pakai gedor keras pintu kamar Amel segala? Oh iya, preman-preman itu gimana ma?"


"Preman-preman itu sudah kalah semua, sudah dihajar habis-habisan sama si bar bar itu. Dan kamu tahu apa yang membuat mereka pada datang dan mengacau di halaman rumah saya?"


"Memangnya kenapa ma? Apa alasan mereka mencari suami aku? Apakah suami aku punya hutang sama mereka?"


"Amel, jaga bicara kamu! Tidak ada sejarahnya keluarga saya berhutang kepada orang lain! Ini semua terjadi gara-gara mantan pacar kamu! Siapa mantan pacar kamu Amel? Dia tidak terima kamu menikah dengan anak saya! Kalau tahu kamu punya mantan pacar yang sukanya cari masalah dengan orang lain, mungkin dulu saya akan mempertimbangkan perjodohan antara kamu dengan Alzam ataupun Daffa. Saya tidak mau mengundang petaka datang." kesal mama Linda lalu membuang muka. Malas menatap Amel.


Baru kali ini mama Linda membuang mukanya didepan Amel. Biasanya yang selalu menjadi langganan hal demikian adalah Adiva. Amel jadi sedih juga kesal karena mama Linda tidak mau menetra wajahnya.


"Aku nggak tahu ma, mantan pacar Amel kan banyak. Ada tujuh belas maa."


"Astaga! Koleksi mantan pacar kamu jauh lebih banyak dari koleksi tas mama! Kamu pasti dulu gonta-ganti pacar sebulan sekali ya Mel? Benar-benar keterlaluan! Siapakah diantara mereka pacar kamu yang pencemburu atau jahat, Mel?"


Amel tidak mau menjawabnya karena takut mama Linda akan semakin membenci dirinya, namun Amel dilema karena Amel juga harus menjawabnya! Jadi serba salah.


"Jawab Amel!" bentak mama Linda kasar sampai ludahnya sedikit muncrat ke wajah Amel.


"Iya ma, tapi mama jangan marah ya nanti kalau aku jawab?"


"Mama akan marah kalau itu membuat hati mama menjadi kesal! Jawab sekarang atau mama tampar kamu! Ini tidak main-main! Ini juga berkaitan dengan perbuatan kriminal! Coba kalau suami kamu berhasil ditemukan oleh preman-preman sialan itu, bisa jadi mayat dia tuh! Amel!"

__ADS_1


Amel berjingkut kaget saat mama Linda sekarang membentaknya terus.


"Baiklah ma akan aku jawab. Dia bernama Alex ma. Dia itu ketua geng motor yang jahat dan suka berjudi. Entah kenapa dulu Amel pernah jatuh cinta dan mau jadi pacar dia. Pasti dia pakai pelet deh! Iih, amit-amit deh kalau ingat kejadian itu. Berpacaran dengan dia adalah aib bagi aku ma."


"Tuh kan! Ngapain sih kamu dulu pakai pacaran segala sama laki-laki modelan begitu! Bawa-bawa masalah doang tahu nggak! Dia pasti masih mencintai kamu dan cemburu sama anak saya, karena anak saya yang dapatin cintanya kamu. Amel, mama nggak mau tahu! Kamu harus bisa membungkam dia! Batasi gerak dia! Jangan sampai dia menjadi masalah baru dalam keluarga saya! Selama ini mama udah capek sama sikap Alzam yang memilih Adiva, dan sekarang, apakah circle kamu dulu juga mau menambah-nambah masalah! Mama nggak mau kalau sampai anak kedua kesayangan mama itu kenapa-kenapa!"


"Maafin Amel ya mam? Amel mengaku kalau Amel juga salah


udah pernah menerima cinta dari orang jahat seperti dia dulu. Tapi Amel benar-benar nggak tahu bakalan jadi seperti ini mam! Amel kira setelah putus semuanya akan berakhir. Amel mohon, mama jangan benci Amel ya?" isak Amel sembari memegang erat tangan kanan mama mertuanya.


"Sayang, mama tidak akan membenci kamu karena kamu adalah menantu kebanggaan mama. Anak dari teman baik mama pula, tapi mama tidak akan tenang kalau sampai mantan pacar kamu itu terus mengganggu hari-hari keluarga saya nanti! Apalagi Daffa dalam bahaya! Tolong kamu bilangin ke mantan pacar kamu itu ya?" lirih mama Linda sembari mengusap air mata Amel yang terus menetes.


"Makasih mama?" isak Amel lalu memeluk manja mama Linda.


*


*


*


Didalam kamar, Adiva tengah duduk menyandar di sebuah bantal yang didirikan di belakang punggung Adiva. Luka-luka lebam hasil dari aksi heroiknya tadi sedang dikompres oleh bibi yang baik hati. Bi Sri mengkompres luka-luka lebam di wajah Adiva dengan begitu lembut dan peduli. Sesekali Adiva meringis kesakitan saat rasa linu dan perih ia rasa namun bi Sri selalu menenangkan dan menyuruh Adiva untuk bersabar dan menahan prosesnya. Entah kenapa bagi Adiva, bi Sri mengobati kerinduan Adiva kepada almarhumah ibu kandungnya yang sudah lama mati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2