
"Mama lagi? Mama mau marah lagi sama aku?"
"Ya! Tentu saja saya akan memarahi kamu setiap hari sampai kamu mau pergi dari rumah mewah saya ini! Itu kamu kenapa kotor lagi pakaiannya? Dasar jorok, pasti kamu habis bermain di got ya rok?"
"Rok?"
"Jorok!"
"Iya dong mam, aku kan ratu jorok. Barusan aku habis main bareng tikus got, seru tahu nggak mam!"
"Dasar menantu gila! Hahahahah. Main kok sama tikus, malam ini kamu tidur aja di got! Daripada tidur diatas kasur yang empuk, bareng anak saya yang wangi dan bersih!"
"Mama, lebih mending dan lebih baik main bareng tikus di got daripada marah-marahin menantu baik hati yang gak bersalah, hehehe."
"Iih kurang ajar kamu ya! Selalu saja berani melawan saya! Saya ini penguasa tahu, disini!"
Mama Linda mencopot sepatu hak tingginya lalu ia lemparkan dengan marah kearah Adiva, namun Adiva menghindar dan sepatu itu malah kena ke Amel yang sedang melangkah menghampiri Adiva.
"Aww, mama?" ucap Amel merasa kesakitan karena sepatu itu tepat mengenai area dahinya.
"Ya ampun, Amel! Maafkan mama nak, niat mama kan mau melempar sepatu itu ke menantu gila jorok itu!"
Adiva berlari dengan menjinjit kaki seraya tersenyum kecil menuju kamar mandi. Mama Linda terus melotot memandangi Adiva yang sedang berlari manja itu lalu ia berjalan menghampiri Amel.
"Sakit tahu mam, barusan aku mau tampar dia tapi aku malah keburu kena sepatu mama!"
__ADS_1
"Niat kamu bagus sayang, tapi mama nggak lihat kalau ada kamu yang mau menampar dia. Aduh, sakit ya sayang? Maafin mama ya sekali lagi, uuh mantuku,"
"Sakit banget mam, jadi pusing deh kepalaku,"
"Ya ampun, mama benar-benar minta maaf. Sebagai bentuk permintaan maaf mama, besok kita belanja baju lagi ya?"
"Nah, ini baru deh pusingnya hilang seketika, makasih ya mam, uuuh." manja Amel lantas memeluk mama mertuanya.
" Iya, mama kan paling mengerti apa yang kamu suka. Uuuh, menantu kesayangan mama, jaga terus ya calon cucu mama. Kamu harus selalu semangat dan bahagia,"
"Yoi mama."
Waktu terus berlalu, dua jam kemudian, Alzam dan Adiva sedang duduk berdua diatas ranjang. Adiva bersandar dengan penuh kemanjaan di bahu kekar Alzam. Kehangatan inilah salah satu hal menyenangkan yang Adiva suka. Berdua bersama dengan suami tercinta adalah kebahagiaan yang sangat besar dan berarti.
Adiva ingin cerita soal dirinya yang tadi sore akan dihabisi oleh seorang psikopat.
"Sopir siapa itu? Bukannya sopir yang mengantar jemput kamu cuma pak Rusdi?"
"Iya mas, tapi pak Rusdy katanya kejebak macet. Terus dia mengabari kamu kalau dia lagi kejebak macet dan kamu setelah mendapat kabar dari dia, kamu buru-buru mengirim sopir lain buat jemput aku. Itu benar gak sih mas?"
"Nggak. Saya mana mungkin mengirim sopir yang nggak jelas dia siapa. Tentu saja sopir harus terdaftar resmi bekerja kepada keluarga kita. Itu berarti, ada orang jahat yang berniat mencelakaimu istriku."
"Apa jangan-jangan sopir dan psikopat berjubah kuning tadi bekerja sama buat habisi nyawa aku ya mas? Ya ampun, serem banget. Tapi aku salah apa emangnya?"
"Bandi kemana? Apa dia ga nolongin kamu tadi sore?"
__ADS_1
"Bandi nolongin aku mas, dia menemukan aku sedang kehujanan ditepi jalan setelah lolos dari kejaran psikopat itu."
"Pasti ada orang jahat yang mau mencelakai kamu. Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati lagi dan saya akan menambah dua bodyguard lagi buat jagain kamu,"
"Apa? Dua bodyguard lagi? Mas, satu bodyguard aja aku udah eneg. Masa mau tambah dua lagi, ntar yang ada aku dikira lebay mas pakai dijaga bodyguard sebanyak itu!"
"Nggak apa-apa. Mas cuma nggak mau kehilangan istri mas untuk yang kedua kalinya. Ngapain kamu dengarin apa tanggapan orang, yang penting nyawa kamu aman. Hidup kamu aman, apa salah kalau kamu kemana-mana dijaga banyak bodyguard. Hidup kalau dengerin omongan orang lain tuh cuma bikin kamu jadi merasa nggak nyaman tahu nggak sih sayang. Banyak tuh orang-orang kaya yang kemana-mana dijaga oleh banyak bodyguard. Bahkan ada satu orang yang dijaga lebih dari sepuluh bodyguard sekaligus,"
"Nggak mas, aku nggak mauuu. Justru aku akan merasa malu mas kalau kemana-mana diikutin sama banyak bodyguard. Aku mohon mas, batalin niat kamu itu?"
"Nggak akan mas batalin niat mas. Mas peduli sama keselamatan nyawa istri mas. Apa kamu ga bahagia kalau saya begitu peduli kepadamu sayang?" tanya Alzam lembut seraya mengusap rambut Adiva.
"Siapa sih yang gak senang kalau dipeduliin sama pasangannya, tapi kepedulian kamu itu terlalu lebay mas. Justru kamu membuatku jadi nggak nyaman dengan niat kamu yang seperti itu mas. Aku bakalan jadi bahan tertawaan teman-teman kampus aku!"
Alzam memegang halus nan lembut dagu Adiva, lalu Alzam mendekatkan wajahnya ke wajah Adiva. Mereka berdua saling bertatapan, namun Adiva masih saja suka membalas tatapan Alzam dengan tatapan wajah yang cukup tegang.
"Kalau mereka tertawa maka kamu tertawalah balik. Tampakkan wajah yang ceria seperti tidak ada masalah yang sedang terjadi. Maka lama kamu akan merasa biasa dijaga sama tiga bodyguard,"
"Gitu ya?" Adiva terus saja tegang saat Alzam mendekatkan wajah tampannya didepan wajahnya. Apakah Alzam akan mengecupnya? Sudah jelas iya. Dan malam ini, mereka berdua kembali melakukannya hubungan yang sudah sepantasnya mereka lakukan.
***
Keesokan harinya, mereka semua melakukan rutinitas yang biasanya mereka lakukan kala pagi yaitu sarapan bersama keluarga besar.
Mama Linda kembali menyinggung soal masalah kasta. Tidak pernah lelah ia bahas sampai Adiva merasa ia kalah, menyerah, dan meminta diceraikan oleh Alzam.
__ADS_1
"Kaya dan miskin, suatu hal yang sudah umum terjadi di dunia. Bagi mama, orang kaya ya harus menikah dengan orang yang kaya juga. Begitu pula sebaliknya, orang miskin ya harus menikah sama yang satu kasta juga, sadar diri lah jadi orang." sindir mama Linda sembari menyendok nasi goreng.
"Mama lagi bahas apaan sih, ngelantur mulu deh. Bukankah semua orang yang ada dirumah ini adalah orang kaya mam? Bahkan ART-ART kita juga orang kaya loh. Lama-lama uang mereka numpuk kalau mereka tabung gaji bulanan yang kita berikan kepada mereka." sahut Daffa dan secara tidak langsung ia membela orang yang disindir sama mamanya.