
"Lisa jangan Lis!" cegah Adiva seraya memajukan kedua tangannya mencegah Lisa. Tapi sebenarnya dirinya juga takut akan ditusuk oleh Lisa.
Lisa mengangkat tinggi tangannya bersiap akan menusuk Adiva. Adiva mencegah kuat tangan Lisa yang memegang pisau itu. Kedua sahabat Adiva tentu saja tak akan tinggal diam melihat sahabatnya yang akan dibunuh oleh Lisa. Mereka akan bergerak cepat membantu Adiva!
Mereka berdua langsung berlari mendorong Lisa sampai Lisa terdorong dan terjatuh, serta pisau yang ia pegang direbut oleh Kayla. Kayla langsung mengambil alih memegang pisau tajam itu.
"Aaaa! Dasar kalian semua sialan! Aku benci kalian!" teriak Lisa seperti orang kesetanan.
Anak laki-laki bergegas memegangi Lisa agar tidak membuat masalah lagi. Mereka membawa Lisa kepada ayahnya diruangan ayah Lisa. Nasib baik bagi Adiva punya dua sahabat yang pemberani dan mau membantunya saat sedang dalam bahaya.
"Teman-teman, terimakasih ya kalian udah mau bantuin gue? Kalian pemberani dan ga cuma menonton doang disaat gue mau ditusuk sama cewek stress itu, tapi kalian juga mau bantuin gue meski dia sedang pegang pisau. Huuh, salut sama kalian gengs." haru Adiva lalu memeluk dua sahabatnya itu dan disisi lain secara langsung Adiva telah menyindir anak-anak kampus lain yang penakut dan bisanya cuma menonton saja. Bahkan tadi ada yang merekam buat diviralin.
Lisa dibawa kepada ayahnya diruangan kerjanya. Anak-anak kampus yang membawa Lisa bilang kalau barusan Lisa berniat akan menusuk Adiva. Sontak saja ayah Lisa marah besar dan langsung memukul wajah Lisa kala mendengar niatan keji itu.
"Dasar anak kurang ajar! Apa kamu mau membuat ayah malu punya anak yang akan membunuh orang lain? Mulai sekarang sebaiknya ayah akan kurung kamu, akan isolasi kamu dalam pulau pribadi kita! Kamu harus instrospeksi dan masih untung niat kamu berhasil digagalkan!"
"Ayah kenapa tega sih sama aku! Ayah harusnya bantuin aku buat bunuh cewek sialan itu ayah! Dia udah hancurin hidup aku!"
"Ayah bilang bukan dia yang udah menghancurkan hidup kamu! Tapi kamu sendiri yang menghancurkan hidup kamu! Kamu sendiri yang menantang dia dan meremehkan dia, salah siapa? Salah kamu yang terlalu menganggap remeh orang lain! Jadi kamu kalah kan dalam pertandingan merias melawan dia! Mau tidak mau, ayah terpaksa mendepak kamu dari kampus! Kamu jadi anak kok ga pandai bersyukur! Ayah menyesal udah manjain kamu selama ini!"
"Ayah tega ngomong gitu sama aku! Ayah sekarang udah berubah, udah nggak seperti dulu lagi! Ayah udah nggak sejalan sama Lisa! Aku benci ayah! Kalian lepasin aku! Aku jijik tahu nggak sama kalian! Jangan pegang aku! Tangan kalian penuh kuman!" ronta Lisa berusaha melepaskan pegangan dua anak laki-laki kampus yang terus memeganginya karena takut kalau Lisa dilepasin nanti akan membuat masalah baru lagi.
__ADS_1
"Jangan lepasin dia! Saya akan bawa dia ke rumah, lalu saya akan menghukum dia dengan mengirim dan mengisolasinya di pulau pribadi saya! Pulau terpencil yang sangat angker." titah ayah Lisa. Lisa jelas takut kalau sampai itu terjadi.
"Jangan pak!" sahut suara perempuan tiba-tiba datang kedalam ruangan ayah Lisa. Ternyata perempuan itu adalah Adiva, suaranya juga terdengar mirip seperti suara Adiva.
"Mau apa lo kesini? Mau ketawain hidup gue hah? Puas lo lihat gue sekarang kek gini!" sinis Lisa kesal.
"Kamu jangan suudzon mulu Lisa. Gue kesini karena gue peduli sama lo, gue mau belain lo."
"Halah! Gue ga butuh pembelaan dari lo!"
"Saya mau bilang kepada ayah Lisa yang terhormat, tolong jangan hukum Lisa dengan mengisolasi dia di pulau terpencil. Kasihan pak, pasti dia akan sangat sedih dan menderita. Orang yang terlalu lama hidup dalam kesendirian juga bisa mengalami stress pak dan saya sudah memaafkan Lisa. Apa bapak tidak kasihan sama darah daging bapak sendiri? Izinkan dia untuk kuliah disini lagi ya?"
Ayah Lisa benar-benar tersentuh mendengar permohonan dari orang yang bahkan anaknya sendiri memusuhinya. Sebaik inikah Adiva? Dia akan kehilangan mahasiswi terbaik jika dulu Lisa mengalahkan Adiva.
Ayah Lisa menatap lembut Adiva, seperti tatapan kelembutan dan perhatian dari seorang ayah kepada anaknya.
"Jika kamu adalah anakku, pasti saya adalah ayah yang paling beruntung di dunia. Ayah kamu pasti bangga nak, punya anak yang baik, pemberani, cerdas, dan pemaaf seperti kamu." puji ayah Lisa sembari memeluk Adiva yang akan ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Kamu sungguh anak yang baik. Seandainya anak saya seperti kamu, pasti saya akan sangat menyayanginya, menjaganya selalu, dan pasti istri saya di alam sana akan merasa tenang punya anak yang baik dan punya jiwa yang pemaaf, peduli seperti kamu Adiva." lanjut ayah Lisa merasa terharu.
Setelah itu ayah Lisa melepaskan pelukannya. Rencananya, ayah Lisa akan memberikan apresiasi untuk Adiva berupa satu cafe yang bisa ia kelola untuk penghasilan tambahan. Dan Lisa sendiri sekarang udah sadar kalau ternyata Adiva adalah orang yang sebaik dan se pemaaf itu.
__ADS_1
Lisa memeluk Adiva, menganggapnya sebagai sahabat terbaiknya. Lisa senang karena Lisa akan kembali berkuliah di kampus kepunyaan ayahnya. Teman-temannya ada disini. Lisa sendiri punya trauma akan perundungan yang dulu ia alami semasa SMA. Lisa takut itu akan kembali terulang di kampus yang baru dan dirinya udah nyaman kuliah disini.
Jam istirahat kuliah, Lisa dan Adiva mengobrol berdua di kampus. Kalau sebelumnya mereka tidak dekat dan bahkan bermusuhan, tapi sekarang mereka udah lengket seperti perangko.
"Div, kamu baik banget sama aku. Padahal selama ini aku udah jahat dan sombong sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf ya? "
"Iya Lisa, aku udah maafin kamu dengan setulus hati aku."
"Unch, sahabat baik aku." manja Lisa lalu memeluk erat Adiva.
"Mulai sekarang kita adalah sahabat. Kamu kalau ada masalah apa nanti curhatin ke aku ya Div?"
"Iya Lisa. Aku bahagia banget hari ini karena akhirnya kita bisa berdamai. Udah ya habis ini jangan ada peperangan lagi antara kita."
"Iya Div."
Kayla, Shireen, dan dua anggota geng Lisa yaitu Adel dan Kinta tiba-tiba datang berteriak dan mengagetkan mereka berdua yang sedang duduk ngobrol di kursi taman belakang kampus, dibawah pohon yang rindang.
"Ciee yang sekarang udah baikan. Jadi sekarang kita semua adalah sahabat dong?" tanya Kinta semangat.
"Ya iya dong, kan bos kita udah damai sama Adiva. Jadi kita nggak usah berantem lagi ya guys. Jangan pukul-pukulan lagi, hehehe." sahut Adel.
__ADS_1
Lalu mereka berenam berpelukan manja seperti teletubbies. Mereka semua kini menjadi sahabat, bukan menjadi lawan. Lagi-lagi kebahagiaan Adiva dapat setelah sekian lama ia hidup dalam penderitaan.