MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Bukan Menantu Menye-Menye


__ADS_3

"Nggak mama! Amel gak akan menggunakan tangan Amel buat mukul wajah dia, Amel nggak mau menodai tangan Amel dengan menempelkan itu ke wajah kotornya itu! Muka gembel seperti dia itu kotor dan menjijikkan, penuh dengan kuman! Mendingan kita bawa dia ke kamar mandi saja mama. Bantu Amel pegangin dia! Kita akan bersihkan mukanya yang berminyak itu!" titah Amel, sepertinya akan melakukan sesuatu yang tidak baik kepada Adiva di dalam kamar mandi.


Adiva tak takut dan silahkan saja kalau mau dibawa ke kamar mandi. Tubuh kurusnya dipegang oleh dua wanita kaya raya nan jahat itu dan dibawa masuk kedalam kamar mandi. Sesampainya didalam kamar mandi, Adiva berusaha untuk melepas pegangan dari dua orang jahat itu namun pegangan dari mereka terlalu kuat. Adiva juga tidak mau sih menggunakan kekerasan untuk melawan mereka!


"Mama lepasin aku! Kalian mau apain aku disini sih!?" tanya Adiva dengan wajah panik.


Dengan kejam dan jahat Amel langsung mengisi bathtub dengan banyak air sampai penuh dan setelah penuh, Amel dan mama Linda langsung menenggelamkan kepala Adiva didalam bathtub yang penuh dengan air itu.


Sontak saja aksi kejahatan yang dilakukan kepadanya itu membuat banyak air masuk kedalam hidung dan saluran pernafasan Adiva. Adiva batuk-batuk dan juga didalam saluran hidungnya merasakan perih yang amat mendera. Adiva kembali diperlakukan dengan kasar oleh mama mertuanya dan bahkan dibantu oleh iparnya.


Bukan cuma sekali saja tapi berkali-kali kepala Adiva dibenamkan kedalam air. Amel yang jahat punya ide yang semakin kejam, Amel memasukkan sabun cair kedalam bathtub akan menambah kepedihan mata dan hidung yang Adiva rasakan dengan tragis!


Adiva nggak bisa terus diginiin, Adiva melawan, Adiva memberontak! Adiva menyintas! Adiva mengerahkan tenaganya untuk melepas pegangan mereka dan akhirnya BERHASIL! Adiva mengucek mata sejenak karena matanya terasa sangat perih lalu Adiva menendang kaki Amel dan mendorong Amel masuk kedalam bathtub sampai semua badan Amel menjadi basah.


Adiva juga mendorong mama Linda sampai terjatuh sampai bokongnya mama mertua menghujam lantai kamar mandi.


"Aaaaah! Sialan! Menantu keparat kamu Adiva! Berani sekali kamu mendorong saya sampai seperti ini! Dimana hati kamu!" marah mama Linda tidak terima. Lalu Adiva mengambil sebuah gayung dan menyiram mama Linda menggunakan air sabun, agar mama Linda merasakan apa yang tadi dirinya rasakan.


"Mungkin benar sikap aku kepada mama Linda tidak sopan, tapi mama yang mulai ma! Mama setega itu sama aku, membenamkan kepalaku kedalam air sabun! Tapi satu hal, aku bukan orang yang suka mengadu kepada suami. Aku harap setelah ini kalian mikir-mikir lagi kalau mau siksa aku! AKU GAK LEMAH! CAMKAN ITUH!" lantang Adiva.


Adiva keluar dari dalam kamar mandiĀ  meninggalkan dua perempuan yang baru menyiksanya itu dalam keadaan yang lengket dan basah. Amel sendiri mulai keluar dari dalam bahthub dengan hati kesal, bajunya sangatlah basah dan bau sabun cair.


"Mama, baju aku basah ma?" manja Amel.


"Kamu lihat rambut mama seperti apa? Basah karena air sabun! Mana ada yang masuk ke mata lagi, perih sayang! Huhuhu, menantu bar bar gila emang!" keluh mama Linda seraya mengucek kedua matanya perih.


"Mama, kita harus balas dia!"

__ADS_1


"Udahlah jangan mikir balas-balasan dulu! Bantuin mama berdiri dong sayang!"


Amel pun membantu mama mertuanya berdiri dan beban berat ia rasakan karena bobot mama Linda disaat menariknya bangun.


*


*


*


Detik-detik dalam jarum jam di dinding terus memutar, waktu terus berlalu dan sudah menunjukkan pukul delapan malam WIB. Saatnya bagi keluarga besar mama Linda melakukan kegiatan rutin saat malam bersama, yaitu makan malam bersama dan malam ini, mereka semua para anggota keluarga ada dalam meja makan. Suasana tampak hening setelah kejadian tadi sore tadi. Mama Linda jadi badmood. Adiva lebih badmood lagi.


"Loh kok semua orang pada diem-dieman gini sih?" tegur Daffa memulai obrolan. Daffa bingung kenapa suasana menjadi hening seperti ini saat makan bersama. Biasanya aja selalu ada obrolan meski kadang gak nyambung, padahal keluarga. Ya itu semua juga gara-gara mama Linda yang gak nyambung dan suka menyindir Adiva di meja makan.


"Mama lagi sariawan, lagi malas ngomong." jawab mama Linda sembari mengambil nasi.


"Ouh, kalau istriku? Kamu kenapa diam?" tanya Daffa seraya menoleh lembut ke Amel.


"Kurang enak badan melulu! Amel, mungkin kamu harus mengikuti terapi imunitas." sahut Alzam tiba-tiba.


"Wah, boleh tuh. Kok kamu peduli sama aku sih mas?" tanya Amel speechless juga agak genit. Merasa geer karena diperhatikan Alzam padahal Alzam sendiri kurang menyukai Amel ada disini.


"Karena saya nggak mau punya ipar yang penyakitan!" jawab Alzam membuat hati ceria Amel berubah menjadi hati yang teriris-iris.


"Hust, Alzam! Kamu ga boleh bicara seperti itu sama adik ipar kamu! Minta maaf sama Amel!" titah mama Linda sembari menatap marah kearahnya.


"Iya ma, Amel maafkan kakak iparmu ini ya?" ucap Alzam cuek seperti tidak ikhlas meminta maaf.

__ADS_1


Amel hanya mengangguk dengan senyuman bete. Kalau Alzam mau bersikap seperti apa, Amel gak mau membantah atau menyerangnya. Kemudian semua orang mulai menyantap makanan yang udah diambil masing-masing. Seperti biasa, Adiva seringkali terdiam saat momen makan bersama seperti ini dan Alzam lah yang selalu mengajak Adiva berbicara.


Alzam adalah orang yang sangat perhatian dan peduli kepadanya. Setelah semua makanan habis, tiba-tiba ponsel Adiva didalam saku celananya berdering. Itu adalah panggilan dari ayah Lisa setelah Adiva membaca siapa orang yang menelpon. Tadi siang mereka sudah saling menukar no HP dengan ayah Lisa dan juga Lisa.


"Semuanya, aku bentar yamau angkat telepon dulu ya?" izin Adiva lalu berjalan buru-buru kedepan rumah.


"Iya sayang." sahut Alzam lalu berdiri dan berjalan mengikuti Adiva.


"Lama juga bodo amat deh." gumam mama Linda pelan.


Tiga orang yang tersisa di meja makan, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Adiva mulai mengangkat telepon dari ayah Lisa didepan rumah.


"Halo pak, ada apa ya bapak menelpon saya malam-malam?"


"Adiva, besok kamu bisa datang ke cafe yang saya berikan untukmu? Lumayan loh tempat itu selalu ramai dengan pengunjung, kalau kamu tahu penghasilannya itu bisa buat tambahan kebutuhan sehari-hari kamu bahkan bisa ditabung loh nak."


"Waah, beneran pak?"


"Asal kamu bisa mengelolanya dengan baik, pasti akan selalu ramai."


"Bisa-bisa, besok aku datang ya. Makasih sebelumnya pak? Bapak baik banget sama aku."


"Mau datang kemana kamu?" tanya Alzam dingin tiba-tiba mengejutkan Adiva dari belakang.


Adiva berjingkut kaget mendengar pertanyaan dari suaminya secara tiba-tiba. Apakah dia sudah mendengar semuanya soal pemberian cafe itu?


"Kamu dengar apa yang barusan aku obrolin gak mas?" tanya Adiva lembut sembari mengelus mesra dada suaminya, dengan salah satu tangannya.

__ADS_1


"Gak. Emangnya siapa yang telepon kamu dan kamu mau pergi kemana besok? Ingat ya, kamu kalau mau pergi ke suatu tempat, kamu harus izin dulu sama suamimu!" ucap Alzam seraya memasukkan salah satu tangan kedalam saku celana.


"Untung aja mas Alzam belum dengar, yuhuu, Aku kan mau kasih kejutan sama dia kalau aku ini udah punya dua tempat yang bisa jadi ladang cuan dalam hidupku." Ujar Adiva bermonolog senang dalam hatinya.


__ADS_2