
Berjemur dibawah sinar mentari pagi memang sangat memanjakan tulang dan juga mata. Manfaat dari sinar mentari pagi sudah tidak diragukan lagi khasiatnya. Apalagi jika berjemur seraya ditemani dengan segelas air lemon yang menyegarkan tubuh dan tak kalah memberikan manfaat yang cukup signifikan juga untuk kesehatan tubuh.
"Alangkah nikmatnya surga dunia. Nggak sia-sia aku merayu mama mertua aku. Aku nggak perlu repot-repot bahkan tidak mengeluarkan uang sepeserpun buat menikmati kemewahan ini, selamanya, hahahaha." Amel berbicara penuh dengan kesenangan.
Amel kepikiran untuk mengundang Alzam dan Adiva ke rumahnya yang baru. Amel ingin membalas mereka dengan mau pamer juga, Amel ingin membuat mereka iri dan merasa kepanasan, setelah kemarin Amel ngerasa mereka berdua sukses membuatnya menjadi iri hati. Padahal Alzam dan Adiva tidak ada niatan sampai kesitu.
Siangnya, Alzam dan Adiva datang kerumah baru Daffa dan Amel dengan menaiki mobil pribadi mereka yang tak kalah mewah dengan mobil baru Amel dan Daffa.
"Wah, ini rumah baru Amel dan Daffa? Jauh lebih mewah dari punya kita ya sayang?" Adiva menatap kagum ke rumah yang tinggi menjulang cakrawala itu.
"Tapi yang saya pikirkan adalah, dapat uang darimana mereka buat mendapatkan rumah semewah ini? Ini pasti harganya diatas sepuluh milyar." sahut Alzam penasaran.
"Udah nggak usah dipikirin terlalu dalam mas, mungkin mereka mendapatkan rumah ini dengan menyicilnya dalam jangka waktu yang panjang. Yaudah, buruan pencet belnya, biar pak satpam segera bukain gerbang buat kita masuk."
Alzam pun melangkah beberapa langkah kedepan buat memencet bel dan tak berselang lama, mereka berdua dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah oleh seorang satpam pribadi.
Adiva mengetuk pintu depan rumah lalu tak berselang lama sang ratu membukakan pintu depan untuk mereka.
"Eh kalian udah datang say, mari silahkan masuk kedalam istana aku yang mewah ini." cakap Amel ramah seraya mengelus perut besarnya.
"Eits tapi sebelum kalian masuk, aku harus menyemprotkan cairan disinfektan ke badan istri kamu dulu ya, biar nggak ada setitik kumanpun yang masuk kedalam istana aku." cegah Amel sementara dengan gaya belagu.
"Ih belagu banget sih! Kaya kamu nggak ada kuman aja? Hei asal kamu tahu ya, kata dosen aku semua orang membawa kuman ya walau cuma setitik aja. Jangan lebay deh jadi manusia, hellouw!" geram Adiva kepada Amel.
"Ih! Suka-suka aku dong! Ini kan rumah aku! Jadi siapapun yang mau bertamu kesini, wajib mengikuti peraturan aku! Paham kan semua?" tutur Amel seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
"Hadeuh dasar tuan rumah yang ribet!" balas Adiva bertambah kesal.
Daripada runyam Adiva pun merelakan dirinya disemprot cairan disinfektan oleh Amel. Setelah itu baru Adiva boleh masuk kedalam rumah bersama dengan Alzam.
Mereka berdua dibuat takjub dengan apa yang ada didalam rumah baru Daffa dan Amel ini. Sofanya adalah sofa yang sangat mewah dan mahal. Harganya jika ditaksir mencapai puluhan juta. Banyak sekali perabotan-perabotan mahal. Adiva melihat semua, ingin sekali rasanya memegang guci unik yang ada didalam rumah ini, namun Amel yang melihat itu malah langsung berteriak kencang, tidak rela kalau guci kesayangannya disentuh oleh Adiva.
Alzam bahkan sampai menutup telinganya karena teriakan dari suara Amel yang begitu kencang dan lebay, memekakkan telinga!
"Apaan sih berisik banget, pakai teriak segala! Aku cuma mau pegang guci ini aja, nggak ada niatan mau mecahin! Lebay gila sumpah."
"Pokoknya aku nggak rela barang-barang kesayangan aku pada disentuh oleh tangan kamu yang jorok dan kotor itu! Lihat boleh pegang jangan! Mengerti!"
"Loh, apa maksud kamu! Bukannya barusan aku udah disemprot cairan disinfektan sama kamu? Apa itu belum cukup buat aku merasa bersih?"
"Udahlah sayang, biarkan dia memberikan peraturan seperti apa, kita cuma sekedar tamu yang harus patuh kepada sang tuan rumah." sahut Alzam menenangkan istrinya yang marah.
"Tapi mas dimana-mana tamu itu adalah raja. Kalau kita diperlakukan seperti ini, artinya si tuan rumah itu sendiri yang nggak punya etika, " kesal Adiva seraya melotot ke wajah Amel.
"Mas sendiri udah bodoamat sama si tuan rumah yang gila ini. Kalau kita ladenin nanti kita jadi ikut-ikutan gila sayang!"
Amel hanya tersenyum sinis sembari merapikan helai rambutnya.
"Tapi jadi tamu itu nggak boleh kurang ajar! Ingat ya kamu, status tamu itu ada dibawah tuan rumah. Tetap tuan rumah lah yang jadi rajanya!" tukas Amel sembari melirik sinis kearah Adiva.
"Yaudah terserah kamu, terus kamu mau nyuruh kita ngapain disini? Duduk aja sepertinya nggak boleh." tanya Adiva wajahnya semakin bete.
__ADS_1
"Jelas tidak boleh dong say! Kamu cuma berhak berdiri aja disini jadi patung gembel, tapi kalau suami kamu, jelas dia boleh melakukan apa saja. Karena aku yakin dia adalah orang yang bersih dan tidak suka jorok," tukas Amel.
Adiva sudah nggak tahan lagi, Adiva kembali mengeluarkan senjata andalannya yaitu upil yang sebesar gapura kota. Adiva mencari upil itu didalam lobang hidungnya lantas ia oleskan upil itu ke salah satu perabotan dirumah Amel.
"Aaaaaaaa!" teriak Amel murka. Kedua tangannya memegang kepala kaget. Melihat ada satu buah upil besar yang menempel diatas meja makan Amel.
"Sialan kamu ya! Dasar cewek jorok gila!"
"Makan tuh upil! Udah ah, mendingan aku pulang aja daripada disini, soalnya stress yang punya rumah!"
Adiva keluar dari dalam rumah Amel duluan sedangkan Alzam masih ada didalam, menatap marah kepada Amel.
"Kapan kamu akan dihargai kalau menghargai orang lain saja kamu tidak bisa! Jangan pernah undang kami kesini kalau pada akhirnya, kami hanya akan diperlakukan tidak mengenakan seperti ini! Setidak penting itukah kami dimatamu? Hargai kami yang udah meluangkan waktu kami buat memenuhi undanganmu kesini! Malam ini kamu akan mendapatkan pelajaran berharga dari suamimu!" ancam Alzam seraya menunjuk nyalang wajah Amel yang semakin nyolot.
Lantas Alzam pergi keluar menyusul istrinya yang sedang marah, diperlakukan dengan tak baik oleh perempuan yang barusan ia tegur. Amel sama sekali tidak takut dengan ancaman dari kakak ipar.
"Apa sih maksud mas Alzam? Nggak ada hubungannya sama suami aku, apaan sih pakai bilang akan mendapatkan pelajaran berharga dari mas Daffa segala! Excuse me, ini tuh rumah bukan sekolahan. Jadi nggak perlu ada pelajaran segala! Cih!" gerutu Amel kemudian membanting pintu depan.
Malamnya, Amel sedang menunggu makanan yang ia pesan dari aplikasi pesan antar online. Tiba-tiba telinganya dikejutkan dengan suara tendangan paksa pintu depan sampai terbuka, seperti didobrak!
"Gila! Siapa sih itu! Kalau sampai pintu mewah aku awas ya! Hello, itu pintu mahal!"
Amel melangkah pelan menuju ruang tamu, bukan orang asing tapi ia lihat suaminya membanting tas ke sofa, sepertinya Daffa sedang marah besar, Amel jadi agak takut melihatnya.
Bersambung...
__ADS_1