MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Tahanan Yang Menyebalkan


__ADS_3

"Aaaaaaaaaa aku benci semua ini!" pekik mama Linda sembari berteriak nyaring.


Berbeda dengan suasana makan malam dirumah mama Linda. Adiva dan Alzam sedang dinner berdua di taman belakang rumah. Mereka berdua ingin menikmati malam yang indah ini bersama, menikmati makanan lezat buatan para bibi dirumah. Nuansa yang sangat anggun dikelilingi bunga-bunga di taman yang begitu indah dan aesthetic.


Adiva merasakan kesenangan dan kebahagiaan di rumah ini, tidak seperti hari-hari biasa yang selalu merasa terganggu dengan sindiran tajam mama Linda.


Apakah dia jahat kalau suka melihat mama mertuanya sendiri dipenjara? Entahlah, yang pasti Adiva merasa dengan dipenjaranya mama Linda, sudah cukup adil atas pembalasan kematian kakak kesayangannya.


Alzam menghentikan makan sejenak, teringat dengan mamanya yang kini mendekam dibalik jeruji besi. Alzam berpikir apakah mamanya sudah makan malam atau belum. Apakah dia mendapatkan selimut untuk kehangatan tubuh saat tidur? Yang jelas Alzam ingin selalu menjadi anak yang baik dan berbakti kepada mamanya. Sejahat apapun mamanya.


"Sayang, besok aku bakalan jenguk mama aku dipenjara. Aku mau bawain dia banyak makanan enak dan juga selimut yang super hangat buat mama."


"Ya terserah kamu lah sayang, tapi kalau kamu mau ngajak aku juga, jelas aku akan menolaknya. Jangan ajak aku ya? Aku masih malas."


"Nggak akan sayang. Besok aku akan datang ke tahanan bersama dengan Daffa saja. Baru satu hari saja kami sudah merindukan mama."


"Yakin kamu mau ngajak adik kamu juga? Bukannya dia udah jadi perkedel hidup ya, gara-gara ratusan pukulan yang kamu berikan kepadanya tadi sore, hehehe. Pasti dia merasa malu kalau keluar rumah dengan luka bonyoknya itu."


"Ya salah dia sendiri mancing-mancing emosi kakaknya. Masih untung cuma dibonyokin."


Amel tiba-tiba datang membawa segelas air panas, lalu ia guyurkan air yang baru diambil dari termos itu ke kaki Adiva. Jelas terasa panas dan perih akibat guyuran air panas itu.


"Aaaaa, panaas! Amel kenapa kamu lakuin ini sih sqama aku? Jahat banget sih kamu!" rintih Adiva seraya menatap ke kakinya yang kena bekas guyuran.


Alzam jelas marah kemudian menggebrak mejanya. Hampir saja Alzam memegang bahu Amel dan akan mendorong Amel namun Alzam teringat ada nyawa lain yang berada dalam perut Amel.

__ADS_1


"Ups, kok gajadi dorong aku? Kalau anak aku mati, nanti kamu nyusul mama kamu loh dipenjara. Eh tapi, nggak deh. Kamu dorong aja aku sampai kandungan aku kenapa-kenapa. Aku ga bakalan laporin kamu, beda sama istri kamu yang tega laporin mama mertuanya kepada polisi!"


Alzam menarik nafas sabar lalu mengecek kondisi kaki Adiva yang barusan kena siram air panas. Warna kaki Adiva mulai berubah menjadi memerah.


"Ayo sayang, sebaiknya kita masuk saja kedalam kamar. Kita obati luka kamu. Entah kenapa hawa disini tiba-tiba menjadi panas? Aura neraka tiba-tiba datang, padahal ini kan malam, yang harusnya berhawa sejuk." sindir Alzam tajam.


"Ih kurang ajar banget sih kamu mas Alzam! Masa kamu ngomong begitu. Maksudnya apa ya!" tanya Amel kesal.


Alzam diam saja tidak menggubris pertanyaan dari Amel, lalu bersama dengan Adiva mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Amel sendirian di taman belakang rumah. Karena lagi emosi Amel ambil saja sepotong roti bakar yang berada diatas meja taman itu, lalu Amel lahap rotinya sembari menatap sinis kepada Alzam dan Adiva yang sedang melangkah kedalam rumah lewat pintu belakang.


"Dasar pasutri nyebelin! Lihat saja nanti! Aku akan merebut mas Alzam dari kamu istri belagu! Cih!" batin Amel seraya mengunyah roti.


Keesokan harinya di penjara, semua tahanan melakukan rutinitas pagi yang biasanya selalu dilakuin sama mereka yaitu olahraga pagi dan habis itu bekerja. Para tahanan harus melakukan sesuatu agar hari-hari mereka menjadi lebih berguna.


Selain bekerja mereka juga selalu dapat siraman rohani dan juga bimbingan untuk kelak mereka nanti saat sudah keluar dari penjara.


Seorang sipir perempuan yang melihat mama Linda asyik berleha-leha saja pun menegurnya.


"Ibu tolong ikut teman-teman ibu menyiram tanaman dong, menyapu halaman, atau membantu menanam kentang. Jangan malah asyik-asyikan disini ibu ini bukan tempat wisata!"


"Maaf aja ya tapi saya kan sakit-sakitan mbak sipir. Saya tidak mau penyakit saya kambuh gara-gara capek bekerja. Apalagi saya juga belum sarapan dari tadi!"


"Ibu bicara apa? Tadi kan ibu sudah dapat jatah sarapan. Tapi ibu sendiri yang nggak mau makan. Jangan salahin kami dong kalau ibu merasa lemas!"


"Tapi makanannya ga manusiawi mbak. Masa iya saya makan nasi yang teksturnya sekeras kerikil? Saya ga biasa, saya maunya makan pizza, donat, kenapa disini gak ada makanan enak?"

__ADS_1


"Bu Linda, ada dua orang yang sedang menunggu ibu di ruang jenguk tahanan." datang seorang polisi wanita mengabari mama Linda.


"Hah, siapa mereka mbak? Apakah mereka adalah kedua anak saya?"


"Iya bu, mereka ingin sekali berjumpa denganmu. Silahkan temui mereka, tapi ingat ya, jam besuk tidaklah lama."


"Yuhuu, baik mbak."


Mama Linda berdiri dengan ceria lalu melangkah bersama dengan polisi ke ruang jenguk tahanan. Pentolan napi dan napi lain ngomongin mama Linda yang pemalas dan manja itu.


"Itu emak-emak bahagia amat dah. Coba kalau kita yang kaya gitu udah pasti dimarahin mulu sama si sipir."


"Iya, gimana kalau nanti sore kita kerjain aja mak lampir itu? Biar dia nggak sok berkuasa didalam sel kita. Enak aja, tahanan baru tapi mau berkuasa diatas kita. Meski dia emak-emak, tapi kita juga nggak apa-apa kali kalau beri dia pelajaran?"


"Iya, tapi kita enaknya apain ya itu emak-emak manja nanti?"


Si teman pentolan napi membisikkan suatu ide buat ngerjain mama Linda nanti sore.


"Ya ampun, anak-anak mama dataang." ceria mama Linda seraya memeluk mereka berdua.


"Loh sayang, Daffa apa yang terjadi sama kamu nak? Kenapa wajah kamu babak belur kaya gini?" tanya mama Linda kaget sembari mengecek kondisi wajah Daffa yang bonyok abis.


"Anu ma, biasa salah paham sama kakak. Jadi gini deh resikonya, tangannya kasar banget sama adiknya, hehehe." jawab Daffa takut.


Tamparan keras pun mendarat di wajah Alzam. Mama Linda marah besar karena lagi-lagi Alzam menghajar adiknya sendiri. Mama Linda tidak suka melihat Daffa terus mendapatkan tindak kekerasan dari kakaknya.

__ADS_1


"Jangan mentang-mentang kamu seorang kakak, kamu bisa hajar adik kamu seenaknya! Mama nggak suka ya, melihat kamu pukuli anak kesayangan mama. Cuma Daffa yang paling bisa ngertiin mama, nggak kaya kamu yang dimana otak kamu itu udah didoktrin sama istri kamu yang berhati iblis itu!" urai kesal mama Linda seraya menatap nyalang kearah Alzam yang sedang duduk.


Bersambung...


__ADS_2