MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Berdebat Dengan Mantan Pacar Jahat


__ADS_3

"Menu masakan bi Sri pagi ini kreatif sekali. Ada nasi uduk, orek kering tempe, udang tepung rambutan, dan juga acar bengkoang. Mas Alzam pasti makin semangat sarapan kalau lauknya seperti ini."


"Sayang, gosip yuk?"


Tiba-tiba Alzam berbicara mengagetkan Adiva dari belakang. Sebelum duduk dan menikmati sarapan lezat itu, Alzam lebih dulu menghirup aromanya dari asap makanan yang mengepul di udara, itu sangat menggungah selera makannya. Makanan ini masih panas.


"Gosip apaan mas? Aku bukan ratu gosip mas. Aku dari dulu males kalau temen-temen lagi padabgosip. Kalau nggak penting-pentinh amat ya skip, hehehe."


"Ah kamu, kita bahas istrinya Daffa."


"Dia kenapa lagi?"


Alzam dan Adiva sama-sama duduk di kursi, lantas Adiva mengambil kan beberapa centong nasi kuning untuk sang suami.


"Ternyata bayinya yang baru lahir beberapa bulan itu bukan anak kandung dari suaminya,"


"Maksudnya apa mas? Baby D bukan anak kandung Daffa? Itu artinya Amel hamil sama laki-laki lain dong mas?"


"Tepat sayang. Aku semakin nggak respect sama dia. Untung saja dulu aku gak jadi menikah sama dia. Dia hamil beberapa minggu sebelum hari pernikahannya dengan Daffa."


"Dia hamil sama siapa? Apa sama mantan pacarnya yang jahat itu? Yang dulu pernah bikin preman-preman datang buat mengacau didepan rumah mama?"


"Kamu tepat sayang. Iya dia orangnya. Sekarang pasti Daffa sedang marah besar. Aku nggak tahu apa yang sedang terjadi di rumah mereka, tapi apa kamu mau hari ini kita datang ke rumah mereka?"


"Tapi kita tidak diundang mas. Dan kamu tahu kan dulu gimana kelakukan Amel sama kita waktu dia mengundang kita buat dateng ke rumahnya? Dia ngerjain kita. Males ah, mending dirumah aja."


"Gapapa sayang. Itu rumah Daffa juga, kita bebas dateng kapanpun kita mau. Ini rumah aku juga, mereka juga berhak datang kesini kapanpun yang mereka mau."

__ADS_1


"Hmm, iya deh iya. Nanti sore kita kesana mas."


***


Amel melangkah sembari mengemban bayinya dijalanan sepi area komplek rumahnya. Amel berjalan dengan lesu, walau ia sudah sarapan banyak tadi. Amel disuruh Daffa buat mengajak bayinya jalan-jalan pagi, tapi tanpa mengendari kendaraan apapun. Amel harus jalan kaki selama tiga puluh menit bersama bayinya. Daffa bilang kalau dirinya tidak mau untuk ikut menemani.


Amel flashback waktu disuruh oleh Daffa.


"Kamu jalan kaki keliling komplek,"


"Jangan kembali sebelum pukul delapan."


"Meski dia bukan anak kandungku, tapi kasih sayangku kepada dia akan tetap tercurahkan."


"Awas kalau sampai terjadi sesuatu kepada Dilla, itu artinya kamu bukan ibu yang becus menjaga anak kamu!"


"Oh, jadi ternyata ini ya perempuan yang hamil diluar nikah itu?" bisik seorang ibu-ibu bermuka judes tiba-tiba di samping Amel. Ibu-ibu itu kebetulan sedang melintas joging pagi bersama temannya juga, dua ibu-ibu yang lain. Mereka bertiga berhenti berlari kemudian mengamati Amel dengan tatapan nyalang. Pasti mereka akan nyinyirin Amel, pikir Amel.


"Gosip menyebar dengan begitu cepat. Tapi darimana mereka tahu masa lalu aku?"


Amel buru-buru berjalan cepat meninggalkan tiga ibu-ibu itu. Dirinya takut mendengar hujatan yang lebih nyelekit lagi.


"Huuuuu! Dasar perempuan nggak bener!" sorak mereka bertiga. Amel memejamkan mata sedih, air matanya tumpah membasahi wajah cantiknya.


Amel terus melangkah kesal bercampur sedih melewati jalanan di komplek yang amat luas itu, lalu dirinya menemukan sebuah danau yang indah. Amel baru tahu kalah ada danau ini didekat komplek. Pasti danau ini adalah danau buatan pikirnya.


Amel duduk menyendiri ditepi danau itu bersama dengan bayi mungilnya. Amel tidak membawa ponsel, kalau ia bawa ponsel sudah jelas ia akan melabrak Alex via telepon.

__ADS_1


"Alex, aku emang punya masa lalu sama kamu. Tapi apa kamu nggak masa lalu kamu juga ketahuan orang? Kamu nggak malu ya membongkar aibmu sendiri? Oh iya aku lupa, kamu kan laki-laki Lex. Kalau aib itu ketahuan mungkin tidak akan terlalu berdampak sama kamu. Kamu mungkin tidak akan semalu aku. Aku yakin kamu yang melakukan ini semua, kamu viralin masa lalu kita sendiri?" gumam Amel dengan tatapan sedih.


"Lagian nggak mungkin yang viralin ini mas Daffa. Dia orang yang baik dan berkelas."


Orang yang sedang Amel bahas itu diam-diam tengah mengamati Amel dari belakang. Alex lantas bersiul mengejutkan Amel. Amel menoleh ke belakang, langsung terhenyak saat melihat laki-laki bajingan itu ada disini juga.


"Nggak usah malu. Kita hadapi ini sama-sama sayang?" seru Alex.


Amel semakin malas lalu kembali menghadap depan. Menatap indahnya air di danau itu jauh lebih baik daripada melihat ke belakang. Beberapa menit kemudian, Alex duduk disamping Amel. Alex tersenyum manis kepada Amel tetapi Amel membalasnya dengan tatapan yang sinis.


"Asal kamu tahu kalau tadi aku dinyinyirin sama ibu-ibu komplek. Soal aib aku sama kamu. Kenapa sih kamu tega banget sama aku! Pasti kamu kan yang sebarin aib aku itu! Jahat! Sia-sia deh pernikahan aku sama mas Daffa."


"Jadi kamu menikah sama Daffa karena kamu ingin menjadikan dia sebagai tameng kamu? Sayang, baby D ini adalah anak aku. Aku ayah biologis dia. Kembali menjalin hubungan sama aku yuk? Buruan kamu minta cerai sama Daffa, lalu menikahlah denganku? Kita urus anak ini bersama-sama daripada kamu tertekan hidup sama Daffa kan?"


"Iya aku tertekan sih sekarang. Tapi mendingan aku hidup sama mas Daffa, jadi istrinya mas Daffa aja daripada menikah sama calon tahanan penjara seperti kamu. Aku nggak mau ya masa depan anak aku jadi hancur. Kamu kan mafia mas dan aku tahu itu! Bisnis kamu itu ilegailegal dan bikin aku khawatir banget. Kamu selalu menghalalkan segala cara dan juga licik jadi manusia! Kamu lupa ya kalau aku memegang kartu mati kamu? Aku memegangnya sayang! Jangan berani macam-macam lagi sama aku!" ancam Amel karena selama ini Amel tahu rahasia gelap apa yang Alex sembunyikan.


"Pergi kamu dari sini! Aku nggak mau deket-deket sama orang seperti kamu. Jijik!" usir Amel.


Bukannya pergi Alex malah semakin mendekatkan jarak duduknya, sekarang Alex berdempetan dengan Amel, Amel merasa semakin risih dan juga bete. Alex tersenyum menyeringai menatap wanita cantik itu dengan pandangan yang lembut.


"Jangan deket-deket! Atau kamu mau aku tendang pakai kaki aku hah?"


Secepat kilat tangan Alex langsung menjambak rambut Amel. Amel terkejut lalu merintih kesakitan kala mahkotanya dijambak lagi sama Alex.


"Sampai kapanpun aku nggak akan lepasin kamu! Apalagi anak aku ada sama kamu! Ngerti! Jangan berani kamu spill rahasia gelapku itu atau keluarga kamu taruhannya! Ngerti!" desis Alex sembari melotot kemudian melepaskan jambakan tangannya.


Alex pergi meninggalkan Amel, membuat Amel merasa lega karena orang jahat yang suka menyiksanya itu pergi. Amel melihat kearah jam tangannya, ternyata sudah lebih dari tiga puluh menit ia jalan-jalan bersama baby D. Amel bangkit lalu bergegas pulang ke rumah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2