
"Huuuh, empuk banget kasurnya. Bikin gue merasa nyaman bak seorang ratu di kerajaan termegah. Pasti dulu kak Zahra juga senyaman ini deh," pikir Adiva lalu memejamkan matanya.
Keesokan paginya, Alzam sudah rapi memakai setelan pakaian CEO. Dirinya sudah bersiap akan berangkat ke kantor namun harus sarapan dulu. Sedangkan Adiva penampilannya masih acak acakan. Rambutnya masih acak adut seperti orang gila dipinggir jalan.
"Kamu mandi gih cebar, terus kita sarapan bareng," titah Alzam.
Adiva tidak tahu letak kamar mandi dimana kemudian bertanya kepada suaminya.
"Dimana letak kamar mandinya kak? Gue nggak tahu nih," sambil garuk kepala.
Alzam selesai merapikan dasi di depan cermin kemudian menunjuk sebuah pintu didalam kamar.
"Disitu kamar mandinya? Masa iya sih ada kamar mandi didalam kamar? Aneh banget deh,"
"Kamu yang aneh, kaya gitu aja emang belum pernah lihat? Buruan mandi! Saya tunggu kamu di meja makan ya."
"Iya kak,"
Adiva bergegas melangkahkan kaki menuju kamar mandi namun Alzam mencegat Adiva sejenak, memegang erat tangan kecil Adiva namun kuat. Adiva sudah sering sekali menggunakan tangan kecilnya untuk berkelahi dan memukuli orang.
"Ingat ya, nanti di meja makan manggil saya mas, jangan kakak? Okey,"
Adiva mengangguk diselingi senyuman yang malas kemudian lanjut melangkah kedalam kamar mandi. Pergi ke meja makan duluan, itulah yang dilakukan oleh Alzam setelahnya. Alzam mengambil kursi untuk duduk dan sudah ada Daffa yang sedang nikmat menyeruput kopi disana.
__ADS_1
"Mama kita masih dikamar? Kenapa sih dia masih seperti anak perawan yang sedang murung," heran Alzam.
"Kakak pakai nanya lagi, ya gara-gara kakak lah menikah dengan perempuan miskin dan blangsak itu. Mama jadi sedih dan juga marah," jawab Daffa malas.
Dua asisten rumah tangga yang selalu siap sedia bekerja dengan baik untuk majikan mereka membawa banyak nampan ke meja makan yang berisi banyak makanan lezat untuk mereka sarapan pagi. Mereka menyajikan makanan-makanan lezat didepan dua majikan tampan mereka.
"Selamat menikmati tuan-tuan muda yang tampan," ucap bi Turi ramah.
Alzam tidak mengucapkan terimakasih karena itu sudah menjadi tugas mereka sebagai asisten rumah tangga.
Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng, udang goreng rambutan, nugget, sosis bakar, omelette, dan juga salad sayur sebagai makanan pencuci mulut. Daffa yang sudah merasa keroncongan buru-buru ingin mengambil porsinya namun langsung dicegah oleh kakak bijaknya.
"Ngapain sih kak, larang Daffa buat ngambil porsi makan Daffa sekarang? Kan mama juga lagi nggak mau makan bareng-bareng kita disini? Tenang aja nanti bi Inem yang mengantarkan makanan ke kamar mama,"
Alzam menatap nyalang adiknya lalu berkata
Daffa menghela nafas malas kemudian bersender di kursinya, menunggu kedatangan Adiva ke meja makan. Tak butuh waktu lama buat Adiva mandi, lima menit saja sudah selesai. Alzam sampai dibuat heran tatkala Adiva sudah selesai mandi dan sedang berjalan kearah meja makan.
Adiva mengenakan kaos oblong dan celana robek biasa yang ia kenakan saat ke kampus buat kuliah.
"Woy, itu celana kamu kemakan tikus? Kok robek-robek begitu?" tanya Daffa heran.
Alzam juga kembali menatap heran saat melihat penampilan kacau istrinya. Masa iya sih istri dari seorang CEO gagah elegan penampilannya absurd seperti itu? Tapi Alzam sendiri sudah berjanji tidak akan mengganggu gugat style berpakaian kesukaan Adiva, makannya Alzam memutuskan untuk diam saja lalu menyeruput kopi tanpa gula pasir.
__ADS_1
Adiva duduk di samping suaminya, perutnya yang sedari tadi keroncongan bertambah keronconganmelihat deretan makanan enak yang sudah tersaji lezat, asap mengepul wangi menghiasi udara, beraroma enak menusuk nikmat kedalam lubang hidung Adiva, buru-buru Adiva mengambil porsi makannya.
Tiga centong nasi goreng, tiga udang goreng rambutan, dua nugget crispy, dan tiga sosis bakar berkumpul menjadi dalam satu piring besar siap disantap oleh Adiva. Kakak beradik yang satu meja makan dengan Adiva tampak shock melihat porsi makan Adiva yang begitu banyak. Wanita makan sebanyak itu? Tapi herannya, badan Adiva tetap saja kurus dan masih langsing.
"Sepertinya kelamaan saya bakalan punya istri yang gembrot nggak sih," ucap Alzam sembari mengambil nasi goreng.
"Siap-siap aja kak, semua makanan dalam kulkas kita akan habis hanya dalam waktu satu hari," sahut Daffa menyindir Adiva.
Adiva sama sekali tidak peduli dan hanya sibuk mengunyah makanan saja, menikmati lezatnya masakan buatan para bibi. Untung saja mama Linda tidak ikut makan pagi sekarang, kalau ikut bisa-bisa mama Linda muntah karena tidak kuat menahan dan melihat gaya makan Adiva yang tampak seperti tidak sopan.
Usai sarapan, Alzam mengajak Adiva untuk segera masuk ke mobil. Alzam akan mengantarkan istri kucelnya menuju kampus, rutinitas penting yang selalu dilakukan Adiva hampir setiap hari. Alzam lihat bahkan memakai make up saja Adiva tidak lakuin. Tapi biarpun begitu, wajah cantik natural Adiva masih terpancar, meski tidak cantik-cantik amat.
Setidaknya Adiva adalah orang yang sudah membantunya keluar dari sebuah masalah, yaitu perjodohan dengan wanita ular seperti Amel.
Didalam mobil sebelum berangkat pergi, Alzam sedang sibuk menasehati Adiva.
"Kamu kuliah yang pintar ya? Saya janji saya akan membiayai semua biaya kuliah kamu, kamu mulai sekarang gausah kerja di restoran dan kebun kopi lagi. Kamu harus menjadi lulusan kuliah dengan IQ tertinggi, saya akan langsung memberikan kamu jabatan yang bagus di perusahaan saya nanti, kalau kamu berhasil mendapatkan IQ yang tinggi aja tapi." ucap Alzam.
"Wah, makasih kak? Lo baik banget sih sama gue. Dengan ini gue pasti bakal makin lebih semangat lagi dalam menjalani hari-hari gue sebagai mahasiswi, semangat belajar, semangat menghafal, semangat menyusun skripsi juga, yaaaiy!"
Alzam tersenyum senang melihat semangat istrinya yang blangsak ini, sangat suka melihat karakter orang-orang seperti Adiva, penuh dengan semangat. Rencananya nanti sore Alzam mau membawa Adiva pergi ke tempat anak-anak jalanan berada. Kira-kira Adiva bakalan seperti Amel tidak, pikirnya.
Singkat waktu Alzam mengantar Adiva sampai kampus, para anak kuliahan yang sedang berkumpul di depan kampus tampak takjub saat melihat sebuah mobil Porsche dan CEO keren yang turun dengan gagah dari dalam mobil.
__ADS_1
Cewek-cewek banyak yang melotot kagum lalu iri melihat keberuntungan Adiva dipersunting oleh seorang CEO tampan, padahal selama ini Adiva selalu jadi bahan ejekan mereka. Terutama jadi bahan ejekan geng cewek famous di kampus, geng madur namanya (Mawar Berdiri). Beranggotakan tiga cewek-cewek sok cantik dan sombong yaitu Lisa, Adel, dan Kinta. Mereka bertiga selalu mengejek Adiva setiap hari namun Adiva bodo amat alias cuek saja sama mereka.
Sekarang adalah saat yang tepat bagi Adiva untuk membalas perbuatan mereka bertiga dari dulu. Adiva sejatinya tidak terima dihina dan diolok-olek setiap hari oleh geng Rose. Hari ini adalah saat yang tepat untuk membalasnya, di pagi hari yang hangat nan cerah ini, Adiva akan membalas perbuatan-perbuatan sombong mereka dulu!