
"Idih! Lulusan universitas terbaik sepertiku, kamu menyuruhku untuk kembali kembali bersekolah? Maaf ya, aku nggak sudi, karena aku merasa, bekal ilmuku udah sangat cukup! Yang harus sekolah tata krama itu adalah istrimu Zam, bukan aku."
"Jangan beraninya kamu melawan orang seperti saya! Kamu tidak tahu kah kalau saya bisa saja membuat harga saham perusahaan orang tua kamu jadi merosot drastis dalam sekejap mata?"
Lantaran Alzam ngomong seperti itu Amel jadi terdiam, seraya menatap takut kearah CEO serbabisa itu.
"Oh mas Alzam, seandainya kamu yang jadi suamiku, pasti aku akan sangat merasa bahagia dan beruntung. Punya suami yang perfectly dan disegani semua orang sepertimu. Sayang sekali adikmu terlalu klemar-klemer jadi laki." batin Amel sembari melirik kearah Daffa.
"Maap aja ya kalau suatu saat, aku menyakiti perasaan adikmu. Adikmu juga orang yang baik sih, tapi bukan tipe Amel banget, uhhg." batin Amel berbicara, seraya senyum-senyum sendiri.
Suasana di komplek tempat tinggal keluarga Alzam Pradpita sore hari ini cukup mendung, menandakan hujan yang akan turun meski belum tentu hujan itu akan datang mengguyur. Aktifitas orang-orang masih cukup padat terlihat. Lalu lintas selalu padat, karena kendaraan berbahan bakar menjadi alat perjalanan modern pada zaman yang semakin canggih ini.
Adiva sedang beres-beres pakaian didalam lemari karena ia berantakin tadi pagi. Mulai sekarang, Adiva benar-benar akan berusaha menghilangkan kebiasaan jorok dan serampangan yang sulit ia hilangin.
Saat sedang menata pakaian didalam lemari, tiba-tiba pembantu misterius yang punya hati baik itu mengetuk pintu kamar Adiva. Tak menunggu lama Adiva langsung mempersilahkan orang itu masuk kedalam kamarnya.
"Eh, bibi, ada apa bi?" tanya Adiva seraya menutup lemari.
"Ini nyonya, bibi datang kesini membawa apa yang nyonya cari selama ini."
"Apa itu bi? Yang sedang bibi pegangin?"
"Ini adalah diary almarhumah nyonya Zahra, nyonya Adiva."
"Apa? Jadi diary itu udah ketemu? Makasih ya bi, bibi nemu dimana?"
__ADS_1
"Ssssttt, jangan keras-keras ngomongnya nyonya, takut kedengaran orang lain, tadi bibi diam-diam masuk kedalam kamar nyonya Linda, terus bibi mencari diary ini dan Alhamdulillah, ketemu nyonya. Didalam lemarinya."
"Wah, bibi hebat, makasih banget pokoknya bi? Sayang banget sama bibi. Yaudah deh, aku mau langsung membaca diary ini sekarang juga."
Lantas Adiva duduk diatas kasurnya sedangkan bi Sri masih setia berdiri menemani nyonya mudanya. Adiva mulai membaca halaman pertamanya, dan ternyata dilembaran pertama ada foto kecil Alzam dan Zahra yang udah dirobek, sepertinya dirobek sama mama Linda. Jahat betul.
"Air mata..."
Kata pertama dan kedua yang langsung terbaca adalah air mata, dimana air mata adalah simbol sebuah kesedihan.
"Air mataku selalu mengalir setelah aku menikah dengan mas Alzam. Bukan, air mataku bukan mengalir pilu karena sikap suamiku, melainkan mengalir pilu karena sikap ibu mertuaku. Setiap hari, hari-hariku yang seharusnya indah, berubah jadi bencana yang diciptakan oleh mertuaku yang kejam dan pandai memainkan drama itu. Aku diperlakukan lebih dari seorang pembantu. Bahkan seorang pembantu pun masih dibayar, tapi aku tidak sama sekali dihargai kerja kerasku. Aku disuruh menyapu, mengepel, mencuci semua baju-bajunya dengan menggunakan tanganku, bukan menggunakan mesin yang otomatis mencuci sendiri."
Kalimat panjang yang menceritakan penderitaan Almarhumah Zahra terus Adiva baca dengan hati yang teriris-iris. Sampai air matanya kembali mengalir.
Gaya tulisan ini, adalah gaya tulisan yang benar-benar Adiva kenal. Zahra diperlakukan seburuk itu oleh mama mertuanya. Dan ternyata mama Linda jauh lebih kejam kepada kakaknya yang lemah dan tidak berani melawan.
Begitu makjleb saat Adiva membaca curhatan kakaknya saat baris ini, saat kakaknya rela tersiksa dalam penderitaan demi keselamatan nyawanya. Ternyata pengorbanan kakaknya selama ini kepadanya begitu besar, jauh lebih besar dari yang diperkirakan oleh Adiva. Bahkan mungkin Adiva merasa tidak akan bisa membalas pengorbanan kakaknya yang seperti itu.
"Kakak?" ucap Adiva pelan mempertanyakan semua pengorbanan kakaknya.
Bi Sri ikut duduk di samping Adiva, mengelus nyaman bahu Adiva, menenangkan Adiva, lalu Adiva tersimpuh dalam dekapan pembantu yang sudah Adiva anggap seperti ibunya sendiri.
"Bibi, ternyata pengorbanan kakak aku sebesar itu. Dia rela disiksa demi keselamatan aku bi. Kalau dia mengadu, nyawa aku yang akan jadi taruhannya. Kejam banget mama Linda bi." isak Adiva pilu.
"Iya nyonya muda, nyonya Linda memang kejam. Bibi sampai ga bisa berbuat apa-apa. Kalau bibi berani buka suara, nyawa keluarga bibi juga yang akan jadi taruhannya. Tapi akhir-akhir ini bibi berani buka mulut buat bantuin membocorkan kejahatan mama Linda kepada almarhumah nyonya Zahra terkuak. Bibi sudah nggak tahan lagi, apalagi saat melihat mama Linda kembali memperlakukan menantunya dengan tidak baik, yaitu kamu nyonya Adiva. Bibi nggak ingin kebejatan nyonya Linda kembali terulang." balas bi Sri panjang sembari menangis juga.
__ADS_1
Adiva melepas pelukannya dengan bi Sri.
"Keadilan buat kakak aku benar-benar harus ditegakkan bi. Jangan jadikan alasan sakit jantung mama Linda sebagai tameng buat dia ga dipenjara. Apalagi sudah terbukti jelas kalau mama Linda adalah dalang utama dibalik kasus penembakan kakak aku, bi. Kasihan kakak aku."
"Iya nyonya muda, semoga nyonya Linda mendapatkan balasan yang setimpal ya nyonya Adiva, nyonya yang sabar, bibi akan selalu bantuin nyonya Adiva."
"Makasih bi, bibi udah seperti ibu aku sendiri. Aku sayang kamu bi."
Lantas kedua perempuan yang ditindas oleh mama Linda itu kembali berpelukan.
***
Didalam ruangan tempat mama Linda dirawat, mama Linda sudah sadar dan sudah membuka matanya. Sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Alhamdulillah, akhirnya mama sadar.. Mas Alzam, mama udah sadar." ucap Daffa pelan yang sedang duduk di kursi samping ranjang tempat mama Linda berbaring.
"Alzam mana? Bilang sama dia tolong jangan bawa mama ke kantor polisi. Mama nggak mau dipenjara nak, mama takut." lirih mama Linda seraya menangis.
Alzam yang sedang duduk disofa putih dengan jarak yang cukup jauh dengan ranjang mamanya bergegas bangun lalu duduk di kursi samping mamanya berbaring.
"Mama kalau takut di penjara kenapa mama berani melakukan perbuatan kriminal? Bahkan kejahatan mama sudah sampai ke tingkat merenggut nyawa orang lain. Bahkan dia adalah istriku, Zahra. Alzam sendiri belum bisa memaafkan kesalahan mama, apalagi Adiva sebagai adiknya, mam."
"Mama melakukan itu karena mama nggak suka lihat kamu menikah dengan orang miskin. Kamu tahu kan, mama selalu jadi bahan omongan teman-teman sosialita mama. Mama sering di bully sama mereka, katanya mama apa sih nggak level sama mereka karena menantu mama kere. Kamu juga harus ngerti perasaan mama dong nak!"
"Buat apa mama dengerin omongan mereka! Sampai mama tega membunuh istriku. Alzam kecewa sama mama! Sebelumnya, Alzam belum pernah se kecewa ini!"
__ADS_1
Bersambung...