MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Perdebatan Mertua dan Menantu


__ADS_3

"Kenapa aku bisa ada disini? Woy, Alex keluar kamu! Ini penculikan ya! " panggil Amel marah.


"Lepasin ikatan aku! Bisa-bisanya kamu melakukan ini sama aku! Apa kamu mau aku laporin ke polisi hah! Sekalian aku spill semua bisnis-bisnis gelap kamu itu!" lantang Amel sembari berusaha melepaskan tali dengan cara menarik kuat, namun tak mungkin bisa terlepas. Justru tangannya lah yang terluka, membentuk bulatan merah kalau ia berusaha untuk melepaskan dirinya terus.


Tak lama berselang kenop pintu kamar bergerak dan Alex pun datang masuk kedalam. Tatapan Alex saat menatap Amel tidak menampilkan kesan ramah sama sekali, malah kebalikannya. Alex datang dengan membawa segelas air putih, Amel pikir air putih akan diberikan kepadanya untuk diminum, namun faktanya Alex menyiramkan air itu dengan kasar ke wajah Amel sampai ada air yang masuk kedalam hidung Amel sehingga menimbulkan rasa perih yang amat sangat didalam saluran pernafasan Amel.


"Ah! Perih tahu! Jahat banget kamu!" kesal Amel seraya menyerap air dalam hidung seperti orang yang sedang flu.


Lalu Alex dengan tega menampar wajah Amel berkali-kali sampai menimbulkan bekas luka memerah dikedua pipi Amel. Amel pasrah kalau Alex akan membunuhnya sekarang juga, justru itu yang ia harapkan.


"Teruslah siksa aku sampai aku mati! Itu yang aku harapkan, bajingan!"


Namun setelah Amel berbicara itu Alex malah berhenti menyiksa Amel, sekejap sifatnya berubah menjadi manis, Alex mengelus mesra rambut Amel. Alex juga mengelus mesra area perut Amel dimana didalamnya ada calon darah dagingnya.


"Hei! Kenapa kamu malah memperlakukan aku dengan lembut begini! Justru yang seperti ini jauh lebih sakit daripada kamu menyiksa aku! Pukul aku lagi bajingan!" teriak Amel geram berusaha lagi melepas ikatan tangan.


Alex membekap mulut Amel menggunakan sebuah kaos kaki bau agar tidak menimbulkan suara yang heboh. Karena ini didalam rumah Alex dan ia punya beberapa tetangga. Alex tidak ingin ada tetangga berdatangan dan melihat apa yang sedang terjadi kalo dirinya sedang melakukan penyekapan seorang wanita.


"Kamu akan disini terus sampai kamu berubah pikiran, tidak akan membunuh anak saya! Mengerti!" ancam Alex lalu ia keluar kamar meninggalkan Amel sendirian.

__ADS_1


"Dasar bajingan keparat! Lihat aja, aku akan membalas kamu! Tidak akan aku biarkan anak ini lahir ke dunia! Duh... gimana ini? Gimana caranya aku bisa bebas dari sini." batin Amel panik.


Sudah pukul sebelas malam. Petir tampak terlihat menyambar di cakrawala. Berkali-kali petir itu menampakkan dirinya menyapa orang-orang yang masih membuka matanya dan sedang berada di luar rumah. Salah satunya adalah Daffa yang masih berada dalam mobilnya. Tepat di pinggir jalan ia parkir, resah mencari keberadaan istrinya yang entah ada dimana.


"Dimana kamu sayang?" tanya Daffa bingung sembari memijit dahinya yang terasa sakit. Kepalanya terasa sakit karena ia butuh tidur. Hingga pada akhirnya Daffa ketiduran didalam mobilnya karena saking ngantuknya. Bangun-bangun, sinar matahari sudah datang dengan cerahnya. Daffa terbangun, menguap sembari menutupnya dengan tapak tangan, lalu baru tersadar kalau ia ketiduran didalam mobil.


"Aku ketiduran. Aku harus lanjut nyari istriku." ucap Daffa mengucek mata lalu mulai menarik pedal gas.


Sementara itu dirumah mama Linda, mama Linda sedang panik sekali di taman rumahnya karena nggak ada Daffa maupun Amel pulang ke rumah. Mama Linda merasa bersalah sekali karena pagi kemarin dia telah memarahi menantu kesayangannya itu hanya untuk caper didepan Alzam. Hanya untuk mendapat perhatian dari Alzam, padahal semalam ia malah dibuat malu oleh Alzam karena kesalahannya kepada Adiva.


"Maafin mama? Mama benar-benar menyesal karena udah ikut memarahi kamu Amel. Amel, pasti kamu kecewa banget sama mama, duuh." kata mama Linda sembari *******-***** jari jemari ditangannya. Penyesalan dan penyesalan ia tunjukkan.


Daun-daun hijau begitu memanjakan pandangan. Bunga-bunga indah ditaman, mereka semua tampak takut melihat mama Linda. Alzam dan Adiva, pagi ini mereka sedang dengan aktifitas masing-masing. Sepertinya rumah yang besar ini butuh lebih banyak ART untuk mengurusnya.


Bunga-bunga yang berada di taman adalah bunga-bunga mahal yang baru mama Linda beli, setelah beberapa saat yang lalu hampir semua bunga kesayangan mama Linda dihancurkan oleh preman-preman tega suruhan mantan pacar Amel.


Adiva menyirami bunga-bunga wangi nan cantik itu, aktifitas yang selama ini jarang sekali ia lakukan. Karena Adiva bukan tipikal perempuan yang peduli sama nasib bunga. Adiva mulai sekarang ingin sering meluangkan waktu buat merawat bunga.


Mendengar ada suara kucuran air dari arah belakangnya berdiri, mama Linda bergegas menoleh ke belakang. Nanap saat melihat menantu yang ia benci sedang mengurus bunga-bunga cantiknya. Malah sesekali Adiva bersin diatas bunga-bunga.

__ADS_1


"Hei! Sedang apa kamu! Bunga-bunga saya tidak mau dirawat sama perempuan jorok seperti kamu! Lihat saja! Kamu menyiram bunga sambil bersin-bersin kepada bunga saya! Kamu menebarkan virus kepada bunga-bunga saya! Pasti setelah ini bunga-bunga saya akan jatuh sakit!" ujar mama Linda seraya berjalan menghampiri Adiva.


"Bunga sakit kalau gak disiram ma,"


Adiva memang tidak tahan sama hawa dingin hingga seringkali membuatnya bersin, tapi niatnya kan baik, mau membantu merawat bunga-bunga indah disela ketidaksibukannya.


"Niat aku baik loh mama. Tapi kenapa mama ga pernah bisa menghargai aku, palingan cuma saat lagi ngedrama doang, mama pura-pura menghargai aku, ups!"


"Ya iya dong! Ngapain saya benaran baik sama kamu dan asal kamu tahu, saya sangat tidak suka dipanggil mama sama kamu! Saya nggak sudi ya punya menantu seperti kamu! Udah miskin, urakan, dan jorok, hidup lagi!"


"Hah! Yang penting aku tidak sejahat mama, tidak kaya Amel menantu mama yang nggak pulang itu. Kemana dia? Dia terlalu baperan, baru dimarahin dikit aja dia kabur. Huuh, mentalnya belum terlatih. Belum punya mental baja seperti Adiva yang setiap hari dijahatin mulu sama mama, tapi Adiva tetap betah aja tuh disini! "


"Diam kamu bibir lancip! Kamu betah di rumah saya karena kamu nyaman kan! Kamu ga pernah tinggal dirumah yang semewah ini! Sampai matipun kamu pasti akan betah disini walau saya omelin kamu tiap hari!"


"Cih, bibir mama jauh lebih lancip dan lebih pedes!"


"Cih! Emangnya bibir saya cabe rawit apa! Kenapa saya harus punya menantu menyebalkan seperti dia sih? Berani sekali kamu melawan saya ya! Tunggu aja waktunya! Lama-lama saya bisa mati jantungan kalau terus berdebat sama kamu!"


Hati mama Linda sangat mendidih punya menantu yang jauh beda dengan Zahra dan Amel. Kalau Zahra dulu masih bisa ia atur, tapi menantu yang satu ini betul-betul mimpi buruk baginya. Mama Linda pergi meninggalkan Adiva menuju kedalam rumahnya, lalu membanting pintu depan dengan kencang.

__ADS_1


Adiva hanya ketawa cantik saja lalu lanjut menyirami bunga. Hidup itu seringkali tidak mudah menjadi seorang menantu yang kehadirannya ditepis oleh sang mertua. Namun Adiva akan berusaha bersahabat dengan rasa sakit hati itu, akan selalu berusaha menjadi menantu yang baik dan juga pemberani. Sungguh semangat yang keren, Adiva.


Bersambung...


__ADS_2