
"Aduh, celana aku bau pesing lagi karena ngompol diatas kasur tadi. Ini semua begini gara-gara laki-laki bajingan itu! Kalau aku cari angkutan umum, ntar yang ada aku bakal diketawain sama banyak orang! Tapi kalau jalan kaki menuju rumah mas Daffa, kayaknya masih jauh sekali." keluh Amel kebingungan.
Amel baru sadar kalau ia berada di dekat pasar dan ia melihat ada seorang emak-emak yang menjajakan banyak daster-daster yang biasa dipakai emak-emak atau ibu-ibu hamil.
"Daster, daster? Dasternya bu, murah-murah nih!" teriak ibu itu mempromosikan dagangannya.
Amel punya ide untuk berhutang salah satu dari daster yang dijual itu. Tasnya yang berisi banyak uang tertinggal di rumah Alex sehingga ia terpaksa akan berhutang daster. Amel berjalan menghampiri penjual yang tampaknya sih kalau dari wajahnya kelihatan galak itu.
"Permisi bu, daster ibu bagus-bagus banget deh,"
"Alah bohong! Orang kaya seperti kamu biasanya gak level tuh sama daster-daster biasa yang saya jual! Mereka sukanya beli gaun mahal dibutik-butik mewah!"
"Tahu darimana ibu, kalau saya adalah orang kaya?"
"Ya saya tahu dari rambut kamu, muka kamu mulus, baju kamu bagus, tapi sebentar deh, saya mencium ada aroma ompol, apa anak saya tadi ngompol ya disini?" tanya ibu-ibu penjual daster itu seraya menghirup aroma pesing yang entah datang darimana. Takut kalau dirinya ketahuan telah mengompol, Amel buru-buru bilang kalau dirinya menginginkan daster yang dijajakan oleh ibu ini.
"Ibu, stop cari tahu bau pesing yang gajelas itu. Mending ibu fokus sama saya, saya ingin beli daster ibu. Yang warna merah maroon itu saya suka banget. Apalagi sama motif kembangnya,"
"Hahahaha, akhirnya ada yang mau beli daster rombengan saya ini. Udah neng lima puluh ribu aja saya kasih!"
"Tapi saya hutang ya bu?"
Netra ibu-ibu itu langsung mendelik sinis kepada Amel.
"Hutang apaan! Masa beli daster hutang sih! Ah, saya tarik kata-kata saya! Pasti kamu orang kere kan, mana ngaku-ngaku jadi orang kaya lagi! Cuih!"
__ADS_1
"Ibu, saya ini beneran orang kaya kok, tapi uang saya ketinggalan di rumah. Bu saya mohon? Tas saya ketinggalan uangnya ada didalam tas dan saya sekarang butuh banget daster itu."
"Halah! Kalau hutang saya ga akan kasih! Tapi kalau mau bayar kredit juga gak apa-apa, bunganya lima persen dan kamu wajib setor uang mukanya dua puluh ribu sekarang juga!"
"Yaelah bu, orang daster rombengan lima puluh ribuan aja pakai harga kredit. Kalau saya mau, bahkan saya bisa beli semua daster jelek itu dengan harga tiga kali lipat! Tapi masalahnya tas saya ketinggalan bu dirumah teman saya. Saya mohon? Saya butuh banget daster itu, buat ganti baju saya. " lirih Amel terus berusaha agar dia mendapatkan daster buat ganti pakaiannya yang bau pesing.
"Berani sekali kamu bilang daster yang saya jual ini jelek hah! Kalau orang lain dengar apa kamu mau ganti rugi! Nggak saya kasih! Mendingan kamu cari tempat lain aja sana!"
"Please, ibu yang baik hati? Saya mohon tolong kasih daster itu kepada saya. Saya pasti akan segera bayar nanti sore saya kesini lagi, buat bayar daster itu dengan harga tiga kali lipat, bu?" lirih Amel sembari memegangi tangan ibu-ibu penjual yang galak itu.
Ibu galak itu malah menepis tangan Amel dengan kasar, lalu mendorong Amel sampai Amel jatuh ke tanah yang berdebu. Celana Amel sekarang udah bau pesing, ditambah dengan tempelan debu yang membuatnya bertambah kotor. Lengkap sudah penderitaan Amel di pagi hari yang langitnya terlihat mendung ini. Dimarahin dan dipermalukan oleh ibu-ibu galak juga didepan banyak orang, membuat Amel semakin benci kepada Alex.
Tekadnya menggugurkan kandungan hasil cinta terlarang dengan Alex semakin bulat. Dia tidak mau anak dari laki-laki yang sangat ia musuhi itu terlahir ke dunia.
"Ternyata bau pesing yang sedari tadi saya rasain itu dari kamu ya? Hahaha, udah tua kok masih ngompol. Kaya bocah aja deh, hahahaha." ledek ibu-ibu penjual daster.
"Kamu orang sok kaya berani hah mengancam saya! Daster satu aja mau ngutang kok dasar gembel!" nyalang ibu penjual daster itu dan akan memukul Amel namun ada suara laki-laki yang buru-buru berteriak mencegahnya.
"STOP!"
Ternyata laki-laki yang berteriak mencegah ibu itu bertindak kekerasan adalah suami Amel sendiri, Daffa. Kebetulan mobilnya melintas di sekitaran pasar dan ia langsung turun kala melihat istrinya sedang dipermalukan didepan umum dan menjadi tontonan orang-orang di pasar.
"Sayang, kamu gapapa?" lembut Daffa seraya membantu Amel bangun.
"Gapapa mas, ibu gila ini jahat banget sama aku. Masa aku didorong, dipermalukan kaya gini. Dasar gak punya hati!" tukas Amel mengadu.
__ADS_1
Daffa menolehkan wajahnya kepada ibu itu. Adapun ibu itu tak merasa takut sekalipun mereka berdua adalah benaran orang kaya.
"Istri saya memangnya berbuat apa sehingga ibu tega mempermalukannya?"
"Dia itu belagu! Mana pakai bilang barang dagangan yang saya jual jelek segala! Siapa yang ga marah coba!"
"Yaudah, maafin istri saya. Ibu juga harus minta maaf sama istri saya atas apa yang ibu lakukan barusan?"
"Cuih! Tak sudi saya minta maaf sama perempuan sombong tukang ngompol ini! Hahahaha, mendingan situ urusin gih istri situ yang sombong dan tukang ngompol itu, hahahaha." kata ibu itu kembali meledek Amel.
"Iih! Sini aku rompes tuh mulut lancip ibu!" geram Amel, rasanya sudah gatal itu tangan.
"Sudahlah sayang, lebih baik kita pulang saja ke rumah yuk? Tenang saja, sekarang udah ada mas yang akan selalu siap belain dan jagain kamu." ajak Daffa kemudian membawa Amel kedalam mobilnya.
"Huh! Dasar perempuan sombong! Berani sekali menghina barang dagangan saya! Cuih!" pekik ibu penjual daster itu masih sangat jengkel kepada Amel.
Mobil Daffa melaju melintasi area jalan raya menuju kediamannya selama ini, yaitu rumah megah mama Linda. Amel terus merengek menyuruh Daffa untuk ngebut, dirinya sudah tidak sabar lagi mandi dan berganti pakaian.
Daffa sendiri juga terheran, kenapa istrinya sampai bisa ngompol seperti itu? Apakah istrinya mengompol karena menahan pipis?
"Sayang, kamu kok bisa ngompol sih?"
"Udah deh mas, gausah dibahas! Yang penting sekarang aku udah ditemuin kan? Aku diculik semalam,"
"Sayang, kamu diculik sama siapa? Bilang sama mas, biar mas segera laporkan penculik itu ke polisi?!"
__ADS_1
"Aku nggak tahu, tapi yang penting aku udah berhasil kabur kan mas. Udah gak usah diperpanjang deh,"
Bersambung...