MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Mertua Yang Tak Peduli


__ADS_3

Mereka bertiga para preman mulai menghajar Adiva dengan bengis , tapi Adiva selalu berhasil menghindari serangan dan pukulan dengan lincah. Adiva menendang dengkul salah satu preman kemudian Adiva bersalto dan menendang dua preman sekaligus. Salah satu preman terjatuh diatas pot kembang. Sungguh amazing ilmu beladiri yang telah dikuasai oleh Adiva.


"Ternyata anak ingusan ini tidak bisa dianggap remah! Terpaksa, gua yang terkuat dan gua harus turun tangan! Hyaaaat, ciaaat!" gerutu sang ketua preman lalu mulai menunjukkan ilmu beladirinya.


Sudah tiga preman yang takluk dan harus mengakui kehebatan perempuan tengil itu. Entah kenapa tenaganya begitu kuat, pasti karena Adiva yang sudah biasa dari remaja kerja keras serabutan dan juga punya ilmu beladiri.


Kini tugas Adiva adalah menghadapi preman yang terkuat itu. Mereka berdua adu pukul ditengah padang rumput taman yang hijau. Adiva ingin memukul wajah si ketua preman namun tangannya ditepis oleh lengan si ketua preman. Kemudian si ketua preman memukul balik tangan Adiva hingga Adiva sedikit terdorong ke belakang. Lalu preman itu melompat tinggi keatas dan menendang perut Adiva sampai Adiva terpental ke belakang.


"Aaaaa..." teriak Adiva sakit seraya memegang perutnya yang terasa eneg.


Bi Sri dan semua orang mendengar teriakan kesakitan Adiva dari dalam. Rasanya bi Sri ingin segera membuka pintu dan menolong Adiva namun mama Linda tidak akan mengizinkannya keluar. Malah saat menolehkan wajahnya kearah mama Linda, bi Sri melihat mama Linda tampak sedang tersenyum senang setelah mendengar teriakan kesakitan dari Adiva.


"Loh... Kok nyonya malah senyum-senyum sih? Nyonya! Kita harus keluar! Kita harus segera nolongin nyonya Adiva, nyah!" khawatir bi Sri.


"Nggak usah! Salah dia sendiri sok jagoan! Udah tahu preman masih aja dilawan! Saya nggak mau ambil resiko ya kalau kita keluar!" nyalang mama Linda melotot ke wajah bi Sri.


"Kalau gitu biarkan saya yang keluar saja! Lalu nyonya kunci kembali pintunya!" pinta bi Sri lantang.


Mama Linda kembali tersenyum, akan sangat menyenangkan kalau bi Sri juga dihajar oleh preman-preman itu. Lalu mama Linda membiarkan pembantu pendiam yang baik hati itu untuk keluar membantu Adiva. Kemudian mama Linda dengan tega mengunci pintunya lagi. Dimana hati nurani seorang ibu mertua tatkala menantunya sedang berhadapan dengan bahaya? Egonya begitu besar, hanya karena masalah perbedaan starta sosial saja, nyawa orang lain yang tidak disukai jadi tidak ada harganya.


"Ya ampun! Nyonya Adivaaa!" kaget bi Sri saat melihat Adiva sedang dipukulin oleh ketua preman.

__ADS_1


"Buuug.... Buuug... Buuugg..."


Adiva tidak berdaya melawan si ketua preman yang ternyata adalah lawan yang sebanding dengan Adiva. Bi Sri bingung harus berbuat apa? Secepat kilat ia harus menemukan ide untuk membantu nyonya mudanya. Bi Sri mengambil pot kembang yang masih utuh lalu berlari dan melemparkan pot itu ke tubuh si ketua preman.


Bahkan sampai pot kembang itu pecah menghantam punggung si ketua preman. Ketua preman itu merasa kesakitan sampai tersungkur diatas rumput. Lalu dengan cepat bi Sri membantu Adiva untuk berdiri dan mereka melangkah menjauhi para preman-preman yang bengis dan kasar itu.


"Ayo nyonya, kita harus menjauh dari mereka." ucap bi Sri seraya memapah peduli tubuh Adiva yang rasanya sudah terasa sakit dan juga lemas.


Ketua preman itu tidak terima dilemparin pot, dia berlari dari belakang lalu menjambak gelung rambut bi Sri. Bi Sri tertarik ke belakang lalu preman itu mendorongnya ke rumput.


"Aaa," rintih bi Sri.


Dengan hati yang tega preman itu menginjak tangan bi Sri, meremukkan tulang dan persendian tangan bi Sri saat ini juga.


Adiva berlari dengan tenaga yang tersisa lalu mendorong preman itu sekuat tenaganya sampai ketua preman itu jatuh terlentang. Lalu dengan penuh amarah Adiva menginjak-injak tubuh si ketua preman itu dengan tatapan yang sangat bengis. Adiva lalu memukuli wajah preman itu dengan cukup brutal. Ia sangat marah melihat seorang wanita paruhbaya yang disiksa oleh laki-laki kasar seperti si ketua preman yang tidak punya hati ini.


Babak belur sudah wajah si ketua preman. Dari dalam hidungnya mengalir darah segar. Wajahnya juga biru lebam. Kedua matanya juga lebam membengkak hingga ke area pelipis mata. Kalau kemarahannya memuncak, Adiva berubah menjadi sosok yang menghancurkan siapa saja yang sudah membuatnya marah. Bi Sri takut Adiva menghabisi nyawa ketua preman itu. Dia tidak ingin Adiva mendekam di dalam jeruji besi.


Bi Sri bergegas menarik Adiva ke belakang dan menyadarkan keemosian yang sedang melanda diri Adiva.


"Istighfar nyonya? Sadar! Nanti nyonya bisa masuk penjara kalau sampai tidak sengaja, dalam keadaan yang emosi malah membunuh dia. Bibi tidak mau, huhuhu." lirih bi Sri seraya memeluk Adiva.

__ADS_1


Adiva baru tersadar, dirinya menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Adiva melihat ditangannya banyak sekali darah segar,  Adiva cukup shock akan apa yang ia lakukan barusan, akibat perbuatannya kepada si ketua preman itu, tangannya jadi berlumuran darah. Ketua preman itu sekarang pingsan, Adiva sudah berhasil mengalahkan mereka semua tanpa menunggu lama sepuluh bodyguard lemot itu datang. Mereka malah datang disaat masalah sudah terselesaikan.


Mereka, para bodyguard bergegas membantu Adiva dan juga bi Sri. Menetra para bodyguard itu sudah datang, mama Linda bergegas membuka pintu depan lalu keluar menghampiri mereka semua. Mama Linda juga ingin sekali menghajar dan memaki preman-preman yang sudah tepar tak berdaya ditangan Adiva itu.


"Kalian lama banget sih datangnya! Kita nungguin kalian tahu nggak sih! Untung saja saya baik-baik saja dan tidak terluka!" murka mama Linda kepada sepuluh bodyguard yang menunduk takut itu.


"Ini juga preman-preman bajingan!" geram mama Linda sembari menggunakan kaki manjanya untuk menendang badan mereka satu persatu.


"Geram saya! Arghh!" pekik mama Linda super murka.


Bi Sri mencegah mama Linda menendang-nendang preman terus dan lebih baik menelpon dokter saja untuk menangani Adiva yang terluka cukup parah.


"Nyonya hentikan! Lebih baik telpon dokter sekarang nyah? Kasihan nyonya Adiva babak belur nih nyah?" suruh bi Sri risau.


"Udah! Bawa saja dia ke kamar dan suruh dia beristirahat! Atau kamu saja yang merawat luka dia. Lebih baik saya menelpon polisi saja sekarang untuk meringkus preman-preman gila ini!" jawab mama Linda seolah tidak peduli. Bahkan menatap wajah Adiva yang cukup belur saja tidak sudi. Mama Linda berlanjut dengan bertanya ke salah satu preman yang tergeletak lemas. Kakinya ia letakan diatas leher si preman.


"Heh sialan! Kenapa kalian mencari anak saya hah? Sampai kalian mengacau didepan rumah saya!" tanya mama Linda kasar mengijak pelan leher si preman yang ia tanya.


"Uhuk uhuk..." si preman menjawab dengan sedikit batuk.


"Saya, eh kita disuruh sama mantan pacar Amel yang tidak terima Amel menikah dengan anak anda buk. " jawab si preman sambil memegang kaki mama Linda yang menginjak lehernya.

__ADS_1


"Mantan pacarnya Amel?" gumam mama Linda pelan menoleh kesamping.


Bersambung...


__ADS_2