MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Pengen Rumah Baru Juga


__ADS_3

Penjara selalu memberikan pelajaran kepada orang-orang yang telah berbuat kejahatan. Penjara juga memberikan peringatan kepada mereka supaya tidak melakukan perbuatan jahat lagi. Penjara sungguh tidak nyaman. Penjara adalah tempat penyiksaan, tempat penderitaan, dan juga tempat penyesalan. Penjara adalah neraka dunia dengan level tinggi.


Sekarang, mama Linda hanya bisa meratapi penyesalan di sebuah kebun belakang penjara. Ia habis menanam bibit kentang bersama tahanan lain. Sebenarnya penjara ini belum mengubahnya menjadi sosok yang jauh beda. Mama Linda masih tetap keukeuh dan identik dengan sikap jahatnya.


Dia juga sebentar lagi akan mendapatkan vonis masa hukuman dari pihak pengadilan. Mama Linda berharap, semoga vonis itu tidak akan selama yang ia takutkan. Mama Linda juga berharap semoga anak-anaknya bisa mengerahkan berjuta cara supaya Adiva mau memaafkan kesalahannya yang teramat fatal.


"Woy emak-emak manja! Bukannya lanjut nanam kentang malah bengong! Nanti kalau kentang itu matang juga lu makan!" bentak pentolan napi geram melihat mama Linda yang asyik duduk nestapa diatas rerumputan hijau.


"Aduh, berisik banget sih kamu! Ini aku lagi istirahat sebentar, capek tahu. Aku juga ada sakit jantung, kamu mau jantung aku kambuh kalau terlalu capek bekerja hah?"


"Yaelah, lebay amat. Lagian cuma nanam kentang bukan lari maraton juga."


Mama Linda melihat kearah pembatas tembok disisi yang lain. Daerah ini dikelilingi tembok berukuran lumayan tinggi. Mama Linda merasa bisa kabur dari tahanan jika berhasil memanjat tembok itu dan keluar.


"Yaudah, aku mau pipis dulu ya, nanti aku balik lagi kesini lanjutin nanam kentang." kata mama Linda kepada yang lain, termasuk kepada sipir yang tengah mengawasinya.


Mama Linda bergerak mencari tempat yang sepi penglihatan manusia, dirinya berusaha akan kabur dari penjara.


Mama Linda berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri yang sedang memindai keadaan rumah targetnya. Sampai akhirnya dia sampai di dekat tembok pembatas itu, mama Linda berusaha menaikinya namun aksi mau kaburnya terburu kepergok oleh polisi yang sedang melintas di dekat situ.


"Hei, anda mau kabur ya!" teriak polisi itu.


Mama Linda kesal seraya memejamkan mata emosi karena dirinya udah keburu ketahuan. Lantas mama Linda dibawa kembali kedalam sel dan mama Linda akan mendapat sedikit hukuman dari polisi karena sudah melakukan upaya percobaan untuk kabur.


"Mulai besok diatas seluruh tembok pembatas yang mengelilingi tempat ini akan dipasangi kawat berduri, agar tidak ada lagi tahanan yang coba-coba untuk kabur." mama Linda mendengar obrolan para polisi didepan selnya.


"Sial, jadi makin sulit aja usaha aku untuk kabur kalau gitu ceritanya, arggh!" batin mama Linda kesal.

__ADS_1


***


Kembali ke hunian yang megah, salah satu yang termegah di komplek perumahan itu. Sepasang suami istri tengah membicarakan persoalan membeli hunian baru.


"Ini dia foto rumahnya sayang, kamu suka nggak? Aku sengaja beli rumah ini yang letaknya agak jauh dari rumah mama. Harganya sepuluh milyar."


"Kemahalan nggak sih sayang? Aku rasa uang sebanyak itu cukup banyak hanya buat beli satu rumah aja. Kita bisa beli rumah, mobil baru, bahkan bikin usaha yang baru dengan uang sebanyak itu."


"Sayang, kamu nggak usah pusing mikirin itu. Kekayaan aku aja berlipat-lipat dari nominal itu. Beli rumah kaya gini mah kecil sayang."


"Iya-iya, suamiku yang the real sultan," cakap Adiva seraya mencubit gemas pinggang sang suami kesayangan.


Amel si ratu nyinyir, diam-diam kepo dan mendengar pembicaraan seru mereka dari belakang mereka.


"Hah, apa? Mereka mau beli rumah baru?"


Amel buru-buru mencari Daffa di dalam rumah. Amel merasa iri dan juga ingin punya rumah baru juga sama seperti Alzam dan Adiva. Amel ingin Daffa membelikannya rumah mewah!


"Loh kok kamu yang datang sih? Kenapa bukan suami aku? Huss, huss, pergi kamu!"


"Memangnya saya kucing apa nyonya pakai bilang huss huss, tuan muda Daffa sedang mandi nyonya. Kalau ada apa-apa, bilang saja sama saya?"


"Hmm nggak ada! Saya butuhnya sama mas Daffa bukan sama kamu. Emangnya kamu bisa beliin saya rumah yang bagus?"


"Nyonya ngomong apa sih, jelas saya tidak bisa belikan nyonya rumah yang bagus Saya aja dibayar sama keluarga nyonya, hehehe."


"Nah itu, ini urusan saya dan suami saya. Kembali sana ke dapur bersama dengan serbetmu itu!"

__ADS_1


Bi Turi hanya bisa menghela nafas kesal seraya memanyunkan bibirnya, melangkah kembali menuju ke dapur. Amel menyusul Daffa hingga sampai ke depan kamar mandi. Amel menunggu Daffa didepan kamar mandi, wajahnya muram, hatinya iri, dan tak berselang lama, Daffa keluar dari dalam kamar mandi masih memakai handuk yang menutup area bawah pusarnya hingga ke dengkul.


"Eh sayang, ngapain kamu berdiri disini? Kamu nungguin aku mandi?"


"Maas." manja Amel lalu memegang lembut tangan sang suami.


"Apa sayang?"


"Aku barusan mendengar mas Alzam dan si jorok bobrok itu mau beli rumah baru. Kamu kapan beliin aku rumah dong? Anggap aja sebagai hadiah buat dede bayi kita ini."


Daffa menggaruk kepala bingung, walau tak kerasa gatal. Daffa bisa saja beli rumah baru, tapi uangnya harus minta dulu kepada mamanya. Karena Daffa belum punya tabungan yang cukup buat ia beli rumah baru yang mewah.


"Kenapa mas kok kamu diam aja? Kamu tega ya membiarkan aku dan bayimu ngidam pengen rumah baru, ntar kalau bayi kamu ileran gimana?"


"Itu kan cuma mitos sayang. Lagian ngidam kamu terlalu mewah sekali. Aku ada sedikit tabungan sih..."


"Yaaah, kok cuma sedikit sih?"


"Bentar sayang jangan potong omonganku, aku cuma ada uang sedikit di bank gak nyampe lima ratus juta. Aku kan belum kerja sayang, aku masih sibuk kuliah, aku yakin pasti kamu bisa ngertiin aku kan?"


"Nggak bisa! Pokoknya aku minta dibelikan rumah yang mewah, yang jauh lebih mewah dari rumah baru si bobrok jorok itu nanti!"


"Kamu nggak boleh gitu sayang, kamu jangan iri sama rezeki mereka. Nanti kalau mas udah kerja, mas janji deh bakalan beliin kamu istana segede gunung. Tapi kamu yang sabar ya? Butuh waktu lama buat kumpulin uang sebanyak itu."


"Apa susahnya sih minta uang sama mama atau kakak kamu? Kamu juga anggota keluarga ini kan sayang? Apa jangan-jangan kamu itu cuma anak pungut ya, jadi kamu takut minta-minta sama mereka?"


"Dari dulu almarhum papa selalu mengajarkan kakak dan juga aku buat mengutamakan berjuang daripada meminta, walaupun sama keluarga kita sendiri."

__ADS_1


"Ah, ngeselin! Ngambek satu minggu!"


bersambung


__ADS_2