
"Bi Sri?"
Bi Sri masuk kedalam kamar dengan tatapan yang dingin. Namun seperti orang yang juga sedang bersedih. Kemudian bi Sri duduk bersimpuh diatas lantai, tepat didepan Adiva. Bi Sri tahu etika yang harus dilakukan seorang pembantu.
"Saya tadi melihat penderitaan nyonya Adiva didepan rumah, saat nyonya Adiva di panggil nyonya untuk menghampirinya, sungguh nyonya, bibi tahu rahasia-rahasia kelam yang disembunyikan nyonya Linda." tutur bi Sri dengan nada bicara yang terdengar sedih.
Adiva terdiam sejenak kemudian bertanya kembali kepada pembantu nyonya Linda yang misterius itu.
"Rahasia apa? Sebenarnya gue bukan tipe perempuan yang ingin tahu rahasia orang lain? Itu anti bagi gue. Tapi, apa rahasia itu penting buat gue ketahui? Wahai bibi yang misterius?"
Bi Sri mengangguk sembari mengusap air mata yang menetes.
"Apa yang nyonya Adiva tadi alami, belum separah yang dulu almarhumah kakak kamu alami, nyonya Zahra begitu tertekan, menderita, bersedih, dan ia sembunyikan neraka dunia itu dari penghilatan suaminya. Semua yang tinggal di rumah ini, ada dalam kekuasaan nyonya Linda, karena dialah sang pemilik rumah dan juga pemilik berbagai perusahaan Atalaric."
Adiva terkejut mendengar penuturan dari bi Sri. Apakah yang ia pikirkan selama ini benar, bahwa kak Zahra juga pernah tersiksa selama tinggal didalam rumah ini?
"Dapatkah gue percaya kata-kata lo bi? Gue nggak mau percaya begitu saja, takutnya nanti jadi fitnah kalau ternyata mama Linda tidak pernah memperlakukan almarhumah kakak gue dengan tidak baik."
"Semua penderitaan dan kesedihan almarhumah kakakmu ada dalam sebuah diary. Saya sering melihat dia, dulu menuliskan semuanya dalam sebuah diary. Nyonya Zahra selalu nulis sambil nangis."
"Dalam sebuah diary? Lalu dimana diary kakak gue, bi?"
Bi Sri menggeleng tidak tahu, yang ia tahu adalah Zahra sering menuliskan kesedihannya di dalam sebuah diary dengan sampul biru muda. Disitulah Zahra menceritakan dan mendokumentasikan segala perbuatan kejam ibu mertuanya.
Mungkin diary itu juga bisa menjadi sebuah bukti kekejaman-kekejaman yang pintar ditutupi oleh mama Linda. Kalau sampai Alzam tahu ibunya memperlakukan Zahra sampai separah itu, maka Alzam tak segan-segan akan pergi dari rumah.
"Kalau gitu gue harus mencari diary itu sampai ketemu dong bi?"
__ADS_1
"Iya non, yaudah bibi udah menyampaikan semua rahasia kelam ini kepada non. Jadi bibi merasa lega, kalau begitu bibi keluar dulu ya non?"
"Iya bi, makasih,"
Bi Sri bergegas bangkit kemudian berjalan keluar dari dalam kamar Alzam dan Adiva. Adiva sibuk mencari-cari dimana letak diary itu. Adiva membuka empat laci namun laci paling bawah terkunci. Adiva tidak tahu dimana kuncinya. Adiva yakin pasti didalam laci yang paling bawah, tersembunyi diary kakaknya. Diary yang akan membuktikan segala kejahatan-kejahatan mama Linda.
"Aduh, gimana cara membukanya ya? Gue nggak tahu dimana kuncinya?" bingung Adiva sembari memegang rambut pendeknya.
Adiva tidak habis akal, ia mencari ke tempat lain, diatas lemari, di dalam lemari, dibawah tumpukan baju, tidak ia temukan kunci untuk membuka laci itu. Pasti hanya Alzam yang tahu dimana letak kunci itu, tapi Alzam masih sibuk kerja di perusahaan.
"Kalau begitu, gue harus menunggu kepulangan mas Alzam dong, yaudahlah sambil menunggu mendingan gue bantuin bi Sri aja masak didapur, eh emang gue bisa masak ya? Bingung sama diri sendiri,bingung juga sama apa yang pernah terjadi dulu." lanjut Adiva.
Adiva berjalan menuju dapur ingin mencoba belajar memasak saja daripada nggak ada kerjaan. Adiva sampai didapur dan langsung disambut dengan manis oleh bi Inem dan juga bi Turi.
"Eh ada nyonya Adiva, mau ambil makanan ya? Tapi maaf nyonya, semua masakan belum matang, kalau nyonya mau makan, menunggu dulu di meja makan ya? di kulkas juga banyak buah." ucap bi Inem sembari memotong cabai.
"Gue ingin belajar memasak kok, capek gue tiap hari disindir mama mertua nggak bisa masak. Gue mau masak buat kak Alzam dan juga mama deh," pinta Adiva minta diajarin caranya masak.
"Maaf nyonya tapi saya sedang sibuk membuat sup," sahut bi Turi seperti ogah-ogahan membantu Adiva.
"Saya juga sibuk menyiapkan bumbu-bumbu rendang, Sri, kamu saja ya yang bantu nyonya Adiva?" tanya bi Inem kepada bi Sri yang sedang berdiri disampingnya.
"Memangnya nyonya Adiva serius mau belajar memasak?" tanya bi Sri.
Adiva mengangguk bete, merasa malas dengan sikap dua pembantu lain kepadanya.
"Ada apa dengan dua pembantu lain selain bi Sri? Mereka nyebelin deh, pura-pura baik didepan, padahal kek nggak baik di belakang," batin Adiva.
__ADS_1
Kemudian untuk langkah awal, Adiva akan diajari cara menggoreng telur yang baik dan benar, agar tidak sampai gosong dan rasanya pun menjadi pahit. Adiva sudah dua puluh tahun hidup tapi belum pernah sama sekali memasak, kalau nggak beli di warteg ya kakaknya yang dulu selalu masak. Kalau sekedar goreng telur Adiva juga masih newbie.
Cara memecahkan telur saja Adiva masih kurang halus, bahkan karena kenewbian Adiva, meja dapur jadi belepotan putih dan kuning telur.
"Ya ampun, kotor banget, nyonya Adiva kalau nggak bisa mecahin telur biar bibi saja yang mecahin? Nyonya mau seisi rumah makan cangkang ya?" protes bi Turi merasa jijik dengan keadaan di dapur.
"Nyonya Adiva jangan terlalu gugup, kalau nyonya terlalu kasar dalam memecah telurnya, nanti cangkang bisa masuk kedalam isi telurnya non," tutur bi Sri sangat lembut dalam memberikan tips untuk Adiva.
"Iya bi, gue sedang belajar kok," sahut Adiva.
Adiva terus berusaha sabar, belajar gimana cara memecahkan telur dengan baik dan benar, hingga akhirnya, Adiva sudah bisa memecahkan telur dengan halus dan tidak berantakan sampai ke cangkangnya.
"Belajar memecahkan telur doang sampai menghabiskan satu lusin telur, mubadzir deh, sayang banget telurnya padahal bisa dimasak buat laut besok," sindir bi Turi sembari menatap rugi kearah telur-telur malang yang berserakan.
"Maafin gue ya, kalau emang ini rugi besok gue ganti satu lusin telur ini, hanya satu lusin telur aaja ribet," tukas Adiva membalas sindirian bi Turi.
"Ternyata dari tiga pembantu ini ekspetasi gue salah. bi Sri yang komuknya terlihat judes dan misterius dia adalah orang yang care. Bi Turi dan bi Inem yang terlihat ramah ternyata mereka kurang menyukai kehadiran gue disini? Apa alasan mereka melakukan itu?" batin Adiva penuh tanya.
"Hmm tidak usah diganti nyonya, nyonya Linda selalu membeli lima lusin telur setiap minggunya, hehehe." ucap bi Inem agak panik karena Adiva berani membalas sindiran bi Turi.
"Udah ya nyah, sekarang saatnya nyonya belajar menggoreng telur. Mengatur kadar garam dan bumbu-bumbu lainnya, supaya rasa telur yang non goreng jadi nikmat," ucap bi Sri sembari menyiapkan wajan untuk Adiva menggoreng telur.
"Makasih banyak ya bi Sri? Kedepan kalau belajar masak sama bi Sri aja deh, soalnya bi Sri ternyata care banget. bibi adalah orang yang baik dan sabar," kata Adiva memuji.
"Sama-sama non,"
bersambung
__ADS_1