
Berubah menjadi orang yang lebih baik adalah suatu langkah yang sangat disukai oleh Tuhan. Tuhan sangat mencintai hamba-hambaNya yang mau berubah.
Merubah sifatnya dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Hamba-hamba yang mau belajar, hamba-hamba yang mau meminta maaf atas kesalahan mereka, dan juga hamba-hamba yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Karena sejatinya, manusia itu adalah tempatnya lupa dan dosa.
Sampailah mereka di rumah sakit tempat mama Linda dirawat. Tempatnya tidak cukup jauh dari penjara tempat mama Linda ditahan. Rumah sakit itu adalah sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar, tapi rumah sakit itu tetap profesional dalam melayani para pasien yang berdatangan.
Setelah sepasang suami istri yang sedang tegang itu sampai, mereka bergegas masuk kedalam rumah sakit itu. Mencari dimana ruangan tempat mama Linda berada.
"Itu ada disana pak, ruang nomor 15 tinggal lurus aja." kata seorang suster.
"Oke, makasih sus." balas Alzam.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruangan sang mama ditangani. Saat mereka masuk, mereka melihat seorang wanita tua yang tengah berbaring sembari memejamkan mata. Melihat peralatan medis yang terpasang di badannya. Sontak saja naluri seorang anak, membuat Alzam meneteskan air matanya menetra seorang perempuan yang pernah mengandungnya itu terbaring lemah.
"Ibu, aku disini bu. Ayo ibu harus segera sadar. Aku janji, aku akan selalu berusaha membuat ibu jadi bahagia." ucap Alzam lirih disamping ibunya.
Beberapa saat kemudian akhirnya mama Linda sadar. Kondisinya kembali stabil setelah mendapat perawatan dari dokter.
"Alhamdulillah, itu mas mama kita udah sadar." ucap Amel menunjukan kepada suaminya yang sedang menunduk sembari menaruh salah satu tangannya di dahi.
"Ibu, Alhamdulillah." ucap Alzam bersyukur.
"Alzam, mama nggak mau di penjara nak. Mama menderita sekali disana. Tolong sewa pengacara termahal yang bisa bikin mama bebas sayang." lirih mama Linda sambil menangis.
"Nggak bisa ma. Mama udah jelas bersalah. Semua ada buktinya. Tapi Adiva bilang, dia mau bebasin mama lebih cepat dari vonis hukuman yang mama dapatin. Asalkan mama mau berubah jadi lebih baik."
__ADS_1
"Kapan itu nak? Bulan depan apakah mama sudah bisa bebas?"
"Mungkin sekitar delapan atau sembilan tahun lagi, tapi aku janji, kesehatan dan semua hal yang mama butuhin akan aku pastikan itu. Yang penting mama yang tenang ya. Mama jadilah tahanan yang baik, itu juga adalah salah satu cara supaya nanti bisa memudahkan mama saat pembebasan bersyarat dilakukan."
"Mama nggak mau nunggu selama itu sayang, mama menyesal banget udah bunuh Zahra. Tapi mama mohon, Adiva kamu mau bebasin mama sekarang? Mama janji, di akhirat nanti, mama akan mengakui segala kesalahan mama kepada almarhumah kakakmu nak." lirih mama Linda pilu seraya menatap sendu kearah Adiva.
"Nggak bisa mam. Mau gimanapun ceritanya, mama harus bisa menjalankan masa hukuman sampai dua pertiga waktu dari vonis hukuman mama. Lagian dulu mama nggak pikir-pikir sebelum melakukan kejahatan itu. Mama udah hilangin nyawa orang, nyawa kakak aku, semua kebahagiannya di dunia jadi lenyap, apa mama nggak mikir resiko yang akan mama tanggung seberat apa?" ucap Adiva dengan penuh penekanan nada demi nada.
"Iya sayang, menantu mama. Tapi kamu juga masih punya hati kan? Mama sudah tua, masa mama habisin waktu senja mama buat mendekam dan menderita, nggak bisa bebas kemana-mana? Tolong sayang, bebasin mama sekarang?" pilu mama Linda tak lelah memohon.
Adiva menggelengkan kepalanya kemudian keluar dari dalam ruangan, daripada mendengar mama mertuanya memohon seperti itu terus.
"Adiva? Adiva! Dasar menantu jahat kamu!" teriak mama Linda memanggil, air matanya semakin deras mengalir.
"Gimana mama nggak stress coba, setiap hari dikurung dalam sel, bau dan pengap. Mama nggak bisa sayang. Lagian kalau anak kamu lahir, emangnya mama masih hidup ya?"
"Mama nggak boleh berbicara seperti itu. Mama harus selalu berdoa semoga diberikan umur yang panjang dan kehidupan yang berkah. Mama yang semangat ya, selama ada aku anak mama, kehidupan mama meski di penjara juga akan terjamin kok."
"Tapi mama kangen rumah mama sayang, mama kangen liburan ke pantai."
"Itu yang mama kangenin? Lalu apa kabar istriku Zahra yang semua keinginannya di dunia menjadi sirna gara-gara kejahatan mama. Sekarang mama tanggung akibat dari perbuatan mama! Alzam capek mam kalau harus gini terus dengerin permintaan mama yang konyol itu. Udah kurang baik apa coba Alzam dan Adiva sama mama." ucap Alzam kecewa lalu diapun keluar dari dalam ruangan menyusul Zahra.
"Alzam! Kembali nak! Jangan jadi anak yang durhaka kamu ya! Alzam!" teriak mama Linda histeris.
***
__ADS_1
Didalam rumah megah Daffa dan Amel, Amel sedang sibuk membaca majalah kecantikan. Yang sibuk mengurus bayinya adalah babysitter yang udah ia bayar. Namun siang ini baby D terus menangis karena kehausan dan belum mendapatkan ASI dari ibunya.
"Nyonya, ini anak kamu menangis terus dari tadi. Udah dikasih susu formula tapi dia tetap tidak mau meminumnya nyah. Pasti anak nyonya butuh ASI dari nyonya." ucap si babysitter dari belakang Amel.
"Bodoamat ah kalau dia nggak mau minum susu formula, saya lagi malas menyusui dia. Lebih baik kamu tidurin aja dia dikamar."
"Tapi nyonya..."
"Udah nggak usah banyak tapi! Lakukan apa yang saya perintahkan! Saya ini kan majikan kamu! Jangan bawel kamu ya dasar pekerja rendahan!"
"Baik nyonya."
Sang babysitter pun berusaha membuat anak dari sang majikannya itu tertidur, namun tidak bisa, bahkan baby D sekarang demam.
"Nyonyaaa!" teriak babysitter khawatir sembari berlari mengemban baby Dilla.
"Ada apa lagi sih kamu? Berisik tahu! Kuping saya ini rasanya mau pecah denger teriakan kamu!" marah Amel seraya berdiri nyalang.
"Ini nyonya, baby D demam. Buruan panggil dokter nyonya. Saya takut baby D kenapa-kenapa."
Malah perhatian untuk si bayi dari babysitter jauh lebih besar daripada perhatian ibu kandung sendiri. Amel menempelkan tangan mulusnya di dahi baby D yang terus menangis. Amel terhenyak.
"Iya dia demam. Yaudah aku telpon dokter sekarang, terus kamu rebahin dia dikamar."
Singkat waktu sang dokter yang diundang pun datang. Dokter itu mengatakan kalau baby D kekurangan nutrisi dari ASI ibunya. Karena itu, Amel harus rutin memberikan ASI untuk anaknya atas perintah dokter. Tapi Amel sendiri sangat malas memberikan ASI karena baby D selalu membuatnya teringat akan Alex si laki-laki bajingan yang sangat ia benci.
__ADS_1