MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Linda Kabur Lagi


__ADS_3

"Aku gak peduli mau cewek mau cowok, yang penting darah daging aku lahir aja aku udah beruntung banget. Bukan begitu mas Bandiku tersayang?"


"Yoi," sahut Bandi sembari memicingkan salah satu matanya.


"Ciee mas Bandiku tersayang, hahaha!" sahut Adiva menirukan ucapan mesra Lisa barusan.


"Beb, terus gimana soal mama mertua kamu yang jahat itu?"


"Hmm gimana apanya?"


"Dia pasti makin jahat ya dipenjara? Kamu selama beberapa bulan terakhir semenjak dia ditangkap, apa kamu pernah menjenguk mama mertua kamu dipenjara?"


"Kemarin malah aku sendirian menjenguk mama Linda di penjara. Aku bawain dia makanan kesukaannya."


"Loh kok kamu mau menjenguk dia? Dulu dia hampir bikin kalian celaka loh. Dia juga menghabisi banyak nyawa manusia. Kamu gak benci sama dia kah beb?"


Adiva menggeleng kemudian menggigit sepotong buah apel yang tersaji diatas piring.


"Seperti sepotong apel yang aku makan ini beb,"


Lisa tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya.


"Maksudnya?"


"Zaman dulu apel dianggap sebagai buah yang mewah. Apel sering digunakan untuk lambang keberuntungan dan kekayaan. Aku sedang belajar untuk membuang kebencianku kepada mama Linda karena biar bagaimanapun dia adalah mama mertuaku juga beb. Dia benar-benar sudah berubah. Dia sedang belajar menjadi lebih baik. Dia sedang menanggung hukuman atas perbuatan jahatnya dengan dipenjara seumur hidup dan bulan ini dia akan dihukum mati. Itu adalah salah satu sikap mewah yang ingin aku miliki beb."


Lisa terkagum-kagum mendengar pernyataan dari Adiva. Lisa berharap semoga dirinya bisa mencontoh sifat Adiva yang sedang belajar untuk tidak terus membenci mama mertuanya itu. Itu adalah suatu sikap yang sangat mewah.


2 Hari Berlalu


Alzam sedang mengajari Wildan berjalan di ruangan santai dalam rumah mereka. Keceriaan tampak dari wajah mereka berdua.


"Ayo anak papa makin pinter aja, hehehe." ucap Alzam sumringah.


Adiva mengamati ayah dan anak itu dari atas sofa sembari merapikan alat make up didalam sebuah kotak.

__ADS_1


Alzam melirik kearah istrinya, Alzam bingung untuk apa alat-alat make up itu. Bukankah didalam kamar mereka, tepatnya didepan meja rias sudah banyak sekali alat make up milik Adiva.


Alzam membopong Wildan kemudian Alzam duduk di samping istrinya.


"Mau apa dengan alat-alat make up itu sayang?"


"Hmm, kamu gak perlu tahu deh. Yang pasti tujuan aku mulia kok mas."


"Apa sih bikin penasaran saja? Masa suami sendiri gak boleh tahu perbuatan baik dari istrinya?"


"Tapi kalau kamu tahu, aku takutnya kamu akan memarahi aku mas?"


"Kenapa mas harus marah jika istri mas mau berbuat baik? Cerita sekarang, mau buat apa dengan alat make up itu?"


"Hm, aku mau kasih alat make up ini untuk mama mas dipenjara. Kasihan dia, dia pasti sudah lama tidak merawat wajahnya mas. Mama udah terbiasa dari dulu melakukan perawatan di wajahnya."


Alzam terdiam kemudian merebut alat make up itu.


"Mama sudah mati! Kamu mau kasih make up buat orang mati! Ada-ada saja kamu! Jangan pernah bahas hal yang berhubungan dengan orang yang sudah mati!" pekik Alzam sembari menangis kemudian masuk kedalam kamar dengan membopong Wildan dan membawa kotak berisi alat make up itu.


"Mas aku hanya bisa berdoa semoga kamu mau memaafkan diri kamu sendiri dan terutama, memaafkan mama kamu mas. Orang yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu." harap Adiva didalam hatinya sembari tangannya bergerak buat menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


Sore harinya, Daffa bertamu ke rumah mereka sembari membawa bayinya. Anak dari almarhumah Amel dan Alex sebagai ayah biologisnya. Alzam dan Adiva menyambut riang Daffa di ruang tamu. Mereka berdua sangat merindukan Daffa menginap disini.


"Daf, malam ini kamu nginep ya dirumah kakak?" ajak Alzam sembari ingin membopong Dilla yang sedang dibopong oleh Daffa. Daffa memberikan bayi tersebut untuk dibopong oleh Alzam.


"Dengan senang hati kak, lagian aku merasa kesepian dirumah." jawab Daffa dengan wajah sedih.


"Menikah lagi lah," titah Alzam enteng.


Daffa tersenyum. Belum ada niat sama sekali buat menikah lagi. Daffa sekarang cuma mau fokus mengurus Dilla dan juga rencana melanjutkan S2 di Eropa.


Mereka bertiga kemudian duduk bersama diatas sofa. Daffa sebenarnya juga sangat rindu mama Linda tapi Daffa masih kepikiran betapa jahatnya mama Linda selama ini. Daffa datang ke rumah mereka dengan wajah yang seperti penuh dengan tekanan.


"Daffa, senyumlah dikit jangan kecut mulu itu mukanya," titah Alzam sembari mengambil cangkir kopi diatas meja.

__ADS_1


"Iya kak, hehe," sahut Daffa.


Acara berita di televisi kembali memberitakan seorang tahanan wanita yang kabur dari penjara. Saat presenter tersebut terus membacakan narasinya, ternyata tahanan wanita yang kabur itu adalah mama Linda lagi!


Betapa terkejutnya mereka bertiga ketika tahu kalau mama Linda kabur lagi dari penjara. Terutama Alzam yang yakin mama Linda akan segera kembali membuat kekacauan.


"Sebenarnya penjagaan di rutan itu ketat nggak sih? Berkali-kali ada tahanan yang bisa kabur." gumam Alzam kesal.


Alzam segera membuka ponselnya. Adiva dan Daffa tidak tahu Alzam mau berbuat apa.


"Mas kamu mau ngapain?"


"Pesan tiket pesawat dong! Kita pindah ke luar negeri sayang."


Jawaban Alzam membuat Daffa dan Adiva terkejut bukan main. Adiva jelas tidak mau kalau diajak tinggal diluar negeri hanya karena mama Linda kabur lagi dari penjara.


"Nggak mas aku mau disini aja. Kamu jangan lebay deh mas!"


"Lebay gimana sayang? Mas bukan lebay tapi mas khawatir sama keselamatan kita. Daffa, sebaiknya kamu dan bayimu juga tinggal di LN. Sekalian sama semua pembantu dan bodyguard kita!"


Sifat Alzam semakin membuat Adiva merasa tidak setuju dengan pemikiran Alzam.


"Kalau kita tinggal di LN itu baru aman. Mama gak akan pernah bisa menemukan kita!"


Karena merasa malas mendengar Alzam yang terus membahas rencana itu, Adiva memutuskan untuk pergi saja keluar rumah. Adiva berdiri di tengah taman sembari bersedekap dada. Wajahnya manyun kesal.


Alzam keluar mengikuti Adiva sembari menelpon pihak bandara. Keberangkatan keluarga mereka harus bisa diupayakan secepat mungkin.


"Besok bisa kan? Iya iya, saya bayar dua kali lipat kok. Saya sewa tiga private jet sekaligus! Untuk bodyguard dan pembantu saya juga, baik terimakasih."


Adiva membuka mulutnya merasa sikap suaminya semakin lebay saja. Adiva berbalik badan kemudian merampas ponsel milik Alzam yang sedang digunakan untuk telepon dengan petugas penerbangan.


"Batalkan saja semuanya pak, keberangkatan keluar negeri dibatalkan!" titah Adiva yang langsung disambut dengan tatapan marah oleh Alzam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2