MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Napi-Napi Kasar


__ADS_3

"Aw! Kenapa kamu memukul wajahku? Bahkan kamu seorang laki-laki? Kamu marah sama aku karena aku menuntut keadilan kepada mama kamu. Harusnya tuh kamu mikir, bukannya memukul wajahku!"


"Keparat! Dasar orang ga tahu diuntung! Sudah untung mama mau nampung gembel kaya kamu disini! Masih saja tidak tahu rasa terimakasih! Pergi kamu dari sini!"


"Sembarangan ya kamu kalau ngomong!! Nggak tahu etika! Aku disini tuh bukan orang numpang! Status aku tuh sebagai istri dari kakak kamu!"


"Tapi kamu udah bikin mama aku di penjara. Pasti kamu senang kan karena rencana kamu mendepak mama aku dari rumah ini berhasil! Kamu senang karena sekarang kamu adalah pemenangnya!"


"Kamu ngomong apa sih! Nggak ada yang menang! Aku tuh cuma mau keadilan atas kematian kakak aku. Masih saja kamu membela mama kamu. Kalau mama aku lakuin hal yang sama seperti mama kamu, aku juga rela kalau mama aku dipenjara!"


"Kamu rela seperti itu karena kamu itu kan anak durhaka. Sama ortu sendiri aja bisa saja durhaka, apalagi sama ortu orang lain. Aku pikir kamu adalah orang yang baik, tapi ternyata benar kata mommy! Kamu itu seperti iblis!"


"Terus aja kamu marah-marahin aku. Toh dengan kamu marah-marahin aku, kamu gabakalan bisa hidupin lagi kakak aku!"


"Keparat kamu ya!"


Daffa memukul lagi wajah Adiva tepat didepan Alzam yang sedang berdiri mengamati mereka. Daffa terkejut saat menoleh dan melihat, ternyata orang dingin menyeramkan itu sedang mengamati aksinya.


Daffa tidak peduli kalau pada akhirnya dirinya akan mendapat balasan bertubi-tubi dari Alzam karena sudah memperlakukan istrinya sekasar ini.


Alzam melangkah menghampiri mereka lalu menarik tangan istrinya, membawanya keluar rumah, tepatnya di taman rumah. Adiva tidak menangis toh pukulan seperti ini sudah sering ia dapatkan dulu saat berkelahi melawan orang.


"Kita pindah rumah saja ya? Disini tidak ada lagi orang yang mau menerimamu kecuali aku."


"Aku mau. Semua orang membenciku karena ego mereka."

__ADS_1


"Istriku," ucap lembut Alzam seraya merapikan rambut pendek Adiva di area dahi yang sedikit berantakan.


"Sekarang aku mulai mengerti betapa dirimu berjuang terhadap keadilan itu. Membunuh seseorang bukan hal sepele yang bisa mudah dimaafkan begitu saja. Aku akan belajar menerima nasib mamaku mempertanggung jawabkan perbuatannya didalam penjara. Tapi aku berharap kamu jangan terlalu benci sama mama aku ya? Dia adalah mama kamu juga sayang."


"Tapi mama kamu ga pernah menganggapku sebagai menantunya. Apa pantes kalau aku menganggap mama kamu sebagai mama aku juga?"


"Jelas pantas. Seberapa kejam dan jahatnya mertua kamu, tetap hargai dan hormati dia ya. Untuk beberapa hari kedepan kita masih tinggal disini sambil mencari-cari rumah baru buat kita, dan setelah itu, rumah ini hanya Daffa dan istrinya yang akan menempati."


"Iya mas, makasih karena kamu bisa ngertiin aku." ucap Adiva lembut seraya menyandarkan kepalanya di bahu Alzam.


Setelah itu, Alzam dan Adiva masuk kedalam rumah. Didalam rumah, Alzam berteriak-teriak memanggil adiknya untuk keluar menemuinya. Daffa sendiri mendengar suara berisik dari kakaknya itu, ia sudah tahu kalau pukulan siap mendarat di sekujur tubuhnya. Daffa udah pasrah dan siap dipukuli kakaknya.


Daffa berlari menuruni anak tangga lalu menyerahkan dirinya untuk dipukuli oleh kakaknya.


"Mau memukulku kan kak? Silahkan."


"Sayang, masuk kamu kedalam kamar." titah Alzam kepada istrinya.


"Baik mas." jawab Adiva lalu melangkah menuju kamarnya.


Saat Adiva sudah sampai didalam kamar, Adiva mendengar suara Daffa yang sedang merintih dipukuli oleh suaminya dari luar. Adiva merasa iba sih tapi kan barusan Daffa yang mulai duluan, memukul wajahnya.


Singkat waktu malam pun tiba. Suasana di penjara memang seram, banyak orang-orang jahat alias tersangka pelaku kejahatan dari berbagai tempat berkumpul. Mama Linda sedang meringkuk kedinginan dibalik jeruji besi. Dirinya tidak pernah menyangka akan berakhir derita seperti ini.


Kejahatannya terbongkar, dan resikonya ia tanggung dengan pilu. Satu sel dengan perempuan-perempuan sangar menyeramkan. Kumpulan para penjahat dari berbagai kasta dan tempat, bersatu dalam ruangan sempit yang dingin dan mendera fisik juga hati.

__ADS_1


"Aku benci tempat ini, huhuhu." teriak mama Linda seraya menangis pilu.


"Berisik keparat! Ngapain lu pakai teriak segala. Kalau disini nggak ada orang baru lu boleh teriak sepuasnya! Woy, kita semua disini punya kuping, masih bagus belum budeg!" marah pentolan sangar didalam sel itu.


"Jangan-jangan dia nggak punya kuping, alias udah budeg jadi teriak sekencang itu. Hahahaha, dasar emak-emak budeg!" sahut napi lain yang berambut keriting.


"Huuuu." sorak semua napi lain yang satu sel dengan mama Linda, merasa jengkel karena teriakan kencang mama Linda barusan.


Mama Linda hanya bisa menangis sedih. Hanya bisa meratapi dan merana didalam tembok derita itu, melawan pun percuma, dia tak akan mungkin sanggup melawan napi-napi lain yang membullynya dengan kata-kata.


Karena hal ini, mama Linda menjadi semakin membenci Adiva. Dirinya jadi tertekan didalam penjara. Jikalau dirinya sudah bebas nanti, mama Linda ingin sekali membuat perhitungan yang jauh lebih kejam daripada siksaan-siksaan yang sudah ia lakukan dulu.


Sipir memberikan jatah makan malam kepada para tahanan. Mereka semua masing-masing mendapatkan satu nasi bungkus. Kebetulan perut mama Linda sudah kerocongan banget. Mama Linda mulai membuka bungkusan nasi itu, ia lihat menu makan malam adalah nasi yang teksturnya amat keras, lalu tumis daun singkong dan juga telor ceplok.


Menu yang jauh lebih tidak enak, tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan makanan pembantunya dirumah jauh lebih enak.


Mama Linda malah menumpahkan nasi cadong itu dilantai. Membuat kotor lantai saja. Pentolan napi didalam sel tahanan itu jelas marah melihat lantai menjadi kotor seperti itu.


"Dasar emak-emak sinting! Makan tuh jatah makanan lo!" ucap paksa pentolan napi itu.


"Kamu yang udah sinting! Masa iya aku harus makan makanan yang udah kena kuman di lantai. Bekas kaki gembel kaya kalian yang pastinya kotor dan mengandung banyak bakteri! Cuih!" balas mama Linda ogah-ogahan.


"Itu mulut ya! Nyebelin banget sih! Mau lu gue bikin jadi perkedel manusia hah! Mau lu kita bonyokin ramai-ramai!" marah pentolan napi itu semakin menjadi-jadi.


"Yang pasti aku sangat tidak sudi satu sel dengan napi jelata seperti kalian! Bau banget! Kalian gak pernah mandi ya! Lihat aja, besok anak saya pasti datang bawa makanan enak! Dan saya ga akan bagi-bagi ke kalian!"

__ADS_1


"Dasar sombong! Kalau bukan lu udah emak-emak tua gua habisin lu! Untung kita masih punya hati! Di sel lain udah habis lu sama mereka!" urai pentolan napi itu lalu memakan jatah makanannya.


Bersambung...


__ADS_2