MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Adiva hamil


__ADS_3

Kemarahan seorang suami memang selalu bikin hati seorang istri menjadi bergetar. Suami adalah sosok yang paling penting dalam keluarga. Dia adalah imam untuk istri, imam untuk anak-anak, dan juga imam untuk para wanita dirumah baik nenek, ibu, kakak perempuan, atau adik perempuan.


Seorang suami sudah seharusnya mempunyai watak yang tegas dan berkharisma. Kalau suka main kekerasan, maka tidak akan ada yang tahan dengan suami modelan begitu, kecuali istri-istri yang punya kesabaran yang luar biasa. Atau istri yang terlalu bucin kepada suaminya sendiri, sampai membiarkan dirinya sendiri rela diperlakukan dengan kasar oleh si suami kasar.


"Ada apa sih mas? Kamu kan bisa buka pintu itu baik-baik! Kenapa kamu pakai tendang segala pintu mahal kita? Apakah kamu lagi mabok ya jangan-jangan mas!"


"Diam kamu Amel! Malam ini saya sangat marah! Kepadamu!"


"Hah? Emangnya apa salahku!"


"Pakai bertanya lagi apa salahmu! Apa yang udah kamu lakukan kepada kakakku dan istrinya kakakku hah! Sampai tadi kak Alzam marah-marah sama aku di telepon!"


"Oh udah jelas, pasti mas Alzam bakalan ceritain soal tadi siang ke kamu. Terus kamu mau apa? Mau pukulin aku? Atau mau membunuhku? Seperti mama kamu yang seorang pembunuh itu!"


"Mulut kamu kok makin kesini makin jahanam sih! Kamu tahu kan kalau rumah yang kita tempati ini adalah hasil kerja keras mamaku dan juga kakak aku. Sekarang aku menyesal telah menikah dengan kamu! Kalau saja aku belum dikasih anak, sudah jelas aku akan menendangmu jauh-jauh!"


Karena geram, Amel melangkah kedepan Daffa, lalu ia tampar wajah Daffa sebanyak dua kali. Tapi semarah-marahnya Daffa, Daffa tidak sama sekali sampai lepas kontrol atau niat memukul balik istrinya. Daffa adalah salah satu tipe suami yang luar biasa sabar.


"Kamu harusnya bersyukur punya suami yang setia dan sabar kaya aku! Diluaran sana masih banyak istri-istri yang kurang beruntung, yang punya suami hobinya selingkuh dan KDRT!"


"Heh kebalik mas! Harusnya kamu yang bersyukur punya istri yang secantik aku! Diluaran sana masih banyak suami-suami yang istrinya nggak cantik kaya aku!"


"Sekarang aku lebih mengerti, ternyata buat apa punya wajah cantik tapi hatinya aja nggak cantik. Lebih baik sama yang punya wajah nggak menarik tapi hatinya cantik!"


"Mas kamu itu ngomong apa sih! Kamu mau cari yang lain lagi? Kamu mau cari istana kedua ya! Tidak akan aku setuju, hei! Oke kalau gitu mau kamu apa? Aku minta maaf sama mereka? Tega kamu ya memarahi wanita yang sedang hamil besar sepertiku?"


"Kenapa aku nggak tega! Kamu aja tega memperlakukan kakak aku dan Adiva seperti itu. Seolah mereka adalah orang yang tidak penting, kamu memperlakukan mereka seenaknya dirumah ini! Jaga perasaan mereka, hormati mereka meski mereka kemarin pamer rumah sama kita!"


Malam ini, penghuni didalam rumah mewah ini sedang diselimuti kemarahan satu sama lain. Saling berdebat menggunakan kata-kata mereka satu sama lain. Tidak lain tidak bukan karena Amel lah yang menjadi biang masalah.


Masalah tidak akan tercipta kalau tak ada yang memulai duluan, Amel lah yang harus mengakhiri semua perdebatan dan masalah yang sedang mereka hadapi.

__ADS_1


Berurusan dengan Alzam bukan perkara sepele, sudah banyak perusahaan orang yang hancur ditangan Alzam. Dia adalah orang yang sangat hebat dan disegani oleh banyak orang.


Tadi siang, perbuatan Amel benar-benar keterlaluan berani meremehkan seorang Alzam. Daffa hanya tidak ingin kakaknya bertambah membenci istrinya. Didalam kamar, Daffa terus mendesak istrinya supaya segera minta maaf kepada Alzam dan Adiva.


Tapi Amel tetap marah dan menolak, merasa gengsi dan tidak sudi minta maaf kepada mereka berdua.


"Ogah ah, masa iya seorang Amel minta maaf karena hal sepele seperti itu! Big no mas!"


"Itu bukan hal yang sepele! Belajarlah untuk menjadi orang yang mudah meminta maaf dan memberikan maaf. Kalau kamu mau minta maaf sama mereka, pasti mas nggak akan marah lagi ke kamu!"


"Yaudah deh, besok aku akan menelpon mereka, lalu aku akan meminta maaf sama mereka, puas kamu!"


"Belum puas kalau kamu harus janji, tak akan mengulanginya lagi. Janji ya sama mas, jangan pernah bersikap seperti itu kepada mereka lagi?"


"Iya-iya mas, aku janji." jawab Amel dengan tampang yang bete.


Waktu terus berlalu. Kandungan Amel sudah menuju puncak kehamilannya, yaitu usia kandungan delapan bulan dan beberapa saat lagi dia akan melahirkan anak pertamanya.


Berjalan saja tidak bisa secepat biasanya. Pantas saja hati wanita hamil begitu sensitif. Kalau anaknya sudah lahir nanti, Amel ingin merawatnya sampai besar dan sukses. Amel ingin anaknya kaya raya dan bisa membahagiakan dirinya juga. Hal nomor satu dalam hidup Amel adalah harta, karena bagi Amel harta itulah yang paling bisa membuatnya menjadi sosok bahagia.


Disaat yang sama, dirumahnya Adiva, Adiva sedang memotong buah apel untuk suaminya. Tapi tiba-tiba perutnya terasa mual sekali, lalu Adiva berlari ke toilet rasanya ingin muntah. Alzam yang melihat itu khawatir lalu mengikuti istrinya sampai ke toilet.


"Sayang, kamu kenapa? Lagi sakit kah?"


"Nggak tahu mas, aku cuma tiba-tiba mual sih ini,"


"Apa jangan-jangan, kamu...?


Adiva mendelikan mata kesana kemari, seraya berpikir mungkinkah ia muntah-muntah karena hamil? Untuk memastikannya mereka berdua akan segera memeriksakan Adiva ke dokter.


Alzam dan Adiva bergegas pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan apakah Adiva mual karena hamil atau karena ada hal yang lain. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Alzam dan Adiva disuruh untuk menunggu hasilnya sejenak.

__ADS_1


"Aduh mas, aku deg-degan banget deh. Antara takut atau happy, takutnya aku mual karena aku ada penyakit, happynya kalau ternyata kita dikasih kepercayaan sama Allah buat menjaga dan merawat seorang anak."


"Kita doa yang terbaik aja ya. Semoga mualmu itu karena ada calon baby A didalam perut kamu."


"Baby A, maksudnya apa mas?"


"Alzam junior, hehehe."


"Iih, Adiva junior mas!"


"Alzam dan Adiva junior hehehe. Semoga aku punya anak kembar nanti."


"Aamiin aja lah."


Sang dokter yang barusan memeriksa Adiva pun datang.


"Gimana dok hasilnya?" tanya Adiva penasaran. Sembari menatap kertas yang dibawa oleh dokter itu.


"Ada satu kabar baik dan satu kabar buruk." jawab bu dokter itu membuat mereka berdua jadi senang tapi juga sedih.


"Mau kabar yang mana dulu? Yang buruk atau baiknya dulu pak, bu?"


"Kalau aku sendiri sih lebih memilih kabar buruk dulu baru kabar baik. Ibaratnya bersedihlah dulu untuk bersenang kemudian." jawab Adiva.


"Kabar buruknya adalah sebenarnya rahim ibu lemah, jadi kalau ibu hamil, ibu harus pandai menjaga kandungan ibu. Dan kabar baiknya adalah, selamat ya bu, atas kehamilannya. Semoga kandungan ibu baik-baik saja sampai lahir nanti." ucap sang dokter.


Jadi ternyata Adiva mual karena hamil, namun rahim Adiva juga lemah. Karena itu Adiva berjanji akan menjaga kandungannya sebaik mungkin. Agar anaknya bisa selamat dan lahir kedunia. Betapa senangnya Alzam karena tak lama lagi dirinya akan menjadi seorang papah.


"Selamat ya sayang, akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang papa!" girang Alzam lalu memeluk istrinya hangat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2