
"Yaudahlah ya aku malas bahas sesuatu yang berhubungan dengan perempuan itu. Sesaat lagi kita akan sampai ke salonku, Jen,"
Jenna kembali tersenyum semakin tidak sabar melihat salon kecantikan milik Adiva. Beberapa menit kemudian mereka sampai didepan salon itu. Jenna langsung dibuat takjub melihat salon kecantikan yang ternyata semegah itu.
"Definisi the perfect wife. Tadi aku bilang Alzam beruntung karena menikah dengan perempuan yang luar biasa seperti kamu. Sekarang aku mau bilang, Alzam benar-benar mendapatkan anugerah yang sangat luar biasa dari Allah. Punya istri yang udah baik, tajir, punya bisnis luar biasa seperti ini. Kalian berdua ini benar-benar pasangan yang paling serasi. Div, kamu mau kan jadi inspirasi aku?"
"Ya jelas mau dong. Aku merasa tersanjung jika bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Rasanya hidup aku menjadi lebih berharga. Seperti yang sering diserukan sama suami aku Jen, sebaik-baiknya manusia, tidak memandang suku, tanah kelahiran, dan lain-lain, tapi dia berarti dan bermanfaat bagi banyak orang itu adalah the best. Aku ingin menjadi sosok manusia yang seperti itu Jen. Berharga dan berarti bagi banyak orang."
"Aku semakin salut sama kamu Diva. Aku juga ingin menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak. Div, aku ingin masuk kedalam sekarang. Aku ingin mencoba gimana rasanya perawatan di salon kamu. Aku yakin pasti hasilnya akan memuaskan. Terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang kesini."
"Oke ayo masuk Jen. Semoga ga mengecewakan kamu."
Adiva dan Jenna melangkah sembari saling merangkul menuju kedalam salon. Disisi lain.
***
Amel sedang duduk didalam sofa rumahnya sembari memasang tampang yang bete. Daffa sendiri sedang sibuk kuliah semester akhir seperti hari-hari biasanya. Amel merasa kalau kehidupan Adiva sekarang selangkah lebih maju daripada dirinya. Rasa iri yang membakar hidupnya ia rasakan. Setelah tahu Adiva punya bisnis yang mentereng, Amel jadi ingin punya bisnis juga. Amel nggak mau kalah dari Adiva, baik dari segi apapun itu!
Amel menelpon mamanya. Amel ingin minta modal yang besar buat dirinya membangun bisnis yang sama seperti bisnis punya Adiva.
"Halo mam, aku kangen mama?"
"Amel sayang, gimana kabar kamu disitu nak? Ajakin mama sama papa dong sekali-sekali menginap disitu?"
"Boleh. Mam, uang mama di bank tinggal berapa ya?"
"Hmm, kamu kenapa tiba-tiba bertanya uang mama? Jangan bilang suami kamu tidak menafkahi kamu?"
"Nggak ma, mas Daffa menafkahi aku kok meski uangnya nggak sebanyak punya kakaknya. Aku tanya uang ke mama karena aku mau meminta bantuanmu ma. Aku cuma mau minta aja satu milyar buat modal aku buka salon kecantikan. Boleh kan?"
__ADS_1
"Aduh sayang, mama sih ada uang segitu, tapi status kamu sekarang kan udah sah jadi istri orang, tapi kenapa kamu masih minta materi sama mama? Lalu apa gunanya suami kamu yang anak orang kaya itu sayang?"
"Ma, please? Aku udah terlalu banyak minta materi sama keluarga mas Daffa. Rumah ini yang aku tempati, yang seharga sepuluh milyar ini juga dana dari mama Linda dan mas Alzam. Aku nggak enak lah, lagian hubungan aku sama keluarga mereka kan sekarang lagi agak renggang, gara-gara kasus kehamilan aku sama Alex dulu."
"Kamu juga bodoh sih Mel!"
"Ih, kok mama malah ngatain aku sih! Alex tuh mam yang sialan! Gara-gara dia aib aku jadi ketahuan! Ayo dong mam bantu aku! Aku nggak mau kalah saing sama menantunya mama Linda yang lain. Dengan ini adalah cara aku buat merebut simpati keluarga mas Daffa lagi, kalau aku berhasil jadi wanita sukses yang mandiri pasti semua orang akan mengagumi aku."
"Oke! Nanti mama transfer 1M buat kamu! Tapi ingat loh ya, mama nggak kasih kamu uang secara cuma-cuma. Uang itu harus dikembalikan dalam bentuk utuh dan bisnis yang akan kamu bangun itu harus bisa sukses! Ngerti! Ingat, wajib sukses! Awas kalau sampai gagal!"
"Siap mama muach. Amel yakin, pasti bisnis salon kecantikan Amel bisa jauh lebih cetar dari salon kecantikan milik si jorok itu, yuhuu."
"Awas kalau kamu gagal, mama akan minta ganti rugi sama suami kamu!"
"Iya ma, Amel jamin nggak akan gagal kok, miss you my moms."
Amel menutup panggilan dengan perasaan yang sangat berbunga-bunga. Akhirnya dia mendapatkan modal buat buka usaha baru, salon kecantikan yang ia yakini bisa bersaing dengan salon kecantikan AlDiv.
Ada suara yang menyahut Amel, tapi bukan suara orang yang menyapanya, melainkan suara baby D yang kembali menangis karena kehausan.
"Arghh! Itu bayi cengeng nangis lagi! Capek gini ya kalau punya bayi. Untung ada baby sitter. Inem, Inem!"
"Inem datang nyonya."
"Biasa Nem, susu bubuk formula premium untuk bayi cengeng itu! Saya mau ganti warna kuku dulu, cepat!"
"I iya nyonya, bibi laksanakan."
Malam telah tiba. Malam ini bulan purnama bersinar dengan sempurna. Ditaman rumah, bi Sri sedang menatap indahnya bulan purnama itu. Bi Sri juga sedang merindukan sekali keluarga kecilnya di kampung.
__ADS_1
Malam ini, bukan musim hujan sehingga langit tidak mendung menutupi bintang-bintang. Alzam sedang memakai wewangian malam didepan cermin, sedangkan Adiva sedang berbaring manja diatas ranjang seraya membaca majalah.
"Sayang, kamu ngapain aja hari ini?" tanya Alzam seraya merapikan baju tidurnya.
"Aku masak, bersih-bersih dikit mas, terus lihat kebun tomat kamu, tadi aku udah petik semua. Tomat-tomatmu udah berbuah dengan matang, semuanya. Mau aku buatin jus tomat sekarang?"
"Nggak. Baguslah kalau tomat-tomatku udah berhasil panen. Tapi malam ini mendingan aku bikin pipi kamu berwarna merah tomat aja ya sayang."
"Maksudnya?"
"Biasa lah, masa ga tahu."
"Pasti minta jatah ya mas?"
Malam ini begitu indah. Seindah seorang pendaki yang menyaksikan indahnya matahari pagi dari atas pegunungan. Usai melakukan hubungan suami istri, Alzam dan Adiva sama-sama berada didalam dapur sekarang. Mereka berdua tengah masak mie instan. Mereka belum ngantuk dan ingin menikmati makan mie instan lezat bersama.
"Makasih ya sayang, aku puas banget. Aku bahagia sekali malam ini. Minggu depan lagi yuk?"
"Sama mas, aku juga bahagia banget. Jangankan minggu depan, besok juga ayo. Eh, itu mie-nya jangan lupa ditambahin sayuran sama telur mas, biar makin sehat."
"Iya sayang, siap. Lusa kamu mau nggak ikut mas jengukin mama? Gimana kalau nanti kita bawain makanan bikinan kamu aja, kan kamu sekarang udah pandai memasak sayang. Bikinin dia capcay sayang, makanan kesukaan mama."
"Aku sih mau aja mas. Gimana perkembangan mama kamu dipenjara? Apa dia udah berubah jadi lebih baik seperti yang ia janjikan waktu itu?"
"Udah, kamu tenang aja sayang. Kata polisi yang saya hubungi semalam, sifat mama semakin berubah jadi lebih baik. Semakin menunjukkan citra seorang narapidana yang baik dan tidak suka membuat kekacauan. Aku bangga sama mama, dia bisa kuat dan sabar sekarang."
"Syukurlah. Semoga mama kamu itu tidak sedang berpura-pura baik. Nggak kaya waktu itu, yang kamu ngancem mau hancurin perusahaan sendiri. Ternyata habis itu mama cuma omdo aja, masih aja suka nyakitin aku!"
"Iya sayang, semoga saja begitu."
__ADS_1
Bersambung...