MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Adiva dan Jenna Hampir Menabrak Amel


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Sekarang kandungan Adiva sudah berusia empat bulan. Perutnya tampak mulai membuncit tetapi terlihat belum buncit-buncit amat. Adiva juga menghentikan sementara aktifitasnya di kampus demi fokus menjaga dan merawat kandungannya sendiri.


Kebun tomat yang dibuat oleh suaminya sekarang sudah berbuah lebat. Ternyata selain punya bakat besar dalam berbisnis, suaminya yang hebat itu pandai berkebun juga. Adiva membawa sebuah wadah yang cukup besar untuk ia gunakan menampung tomat-tomat yang segar itu. Sembari menghirup aroma udara di kebun yang sejuk dan menyegarkan. Disitu juga ada pohon mangga yang tinggi, Adiva rasanya ingin menaikinya.


"Ya Allah, seger-seger banget tomat-tomat yang ditanam sama mas Alzam. Hari ini bikin jus tomat ah pasti sedap dan bagus banget buat kesehatan mata aku." ucap Adiva seraya memetik satu persatu tomat.


Saat sedang memetik tomat, Adiva melihat di tangannya ada ulat bulu yang sedang merayap. Pasti ulat itu terjatuh dari daun tomat. Tapi Adiva sama sekali tidak berteriak lebay, Adiva langsung menyentil saja ulat itu.


"Biasa, di kebun seperti ini pasti banyak binatang seperti itu."


"Hai cantik, subur-subur banget tomat kamu. Aku bantu kamu memetik tomat ya?" sapa Jenna datang dengan tampang ceria.


"Eh ada mba Jenna? Hai Mba? Iya nih tomat-tomat yang ditanam suamiku waktu itu sudah besar-besar."


Lantas Jenna ikutan membantu tetangga baiknya memetik tomat.


"Enak nih kalau di jus atau dimakan langsung juga enak. Aku juga mau bikin kebun tomat ah buat mengisi keseharian aku, biar ada kerjaan." tutur Jenna.


"Suami mba Jenna lagi ngapain? Setelah tiga bulan lebih berlalu, dia udah nggak kasar lagi kan sama mba?"


"Oh, nggak dong Adiva. Semenjak kamu dan mas Alzam melabrak dia, dia udah mulai berubah jadi baik sama aku. Persis waktu aku mengenal dia dulu. Makasih ya Adiva? Berkat bantuan kalian aku jadi bisa kembali untuk tersenyum bahagia?


"Iya sama-sama mba Jenna. Oh iya, mumpung mba Jenna lagi disini, sekalian aku mau tanya langsung, resep kecantikan mba Jenna apa sih? Kulit mba Jenna tampak putih sekali, tapi sepertinya mba Jenna kaya nggak pakai make up loh? Artinya mba Jenna itu pasti cantik alami ya?"


"Selain menjaga asupan makanan, kita juga harus rutin melakukan perawatan di salon. Aku juga sering memakai skincare yang bagus kok Div."

__ADS_1


"Kebetulan lagi bahas salon nih, aku punya salon kecantikan namanya salon kecantikan AlDiv. Kamu tahu nggak tempat itu? Salon itu milik aku loh mba, aku mau kesana habis ini. Mau cek salon aku, para pegawai aku, dan juga berapa pengunjung yang datang hari ini."


"Kayaknya aku belum pernah denger deh. Wah keren banget kamu masih muda tapi udah sukses, udah punya bisnis salon kecantikan sendiri pula. Jadi iri deh aku Div."


"Aduh mba Jenna bisa aja. Udah rezeki aku mba. Yaudah, habis ini kita langsung pergi ke salon aku aja ya? Spesial buat mba Jenna, first time aku kasih diskon lima puluh persen buat mba,"


"Wah makasih banyak Adiva, kamu baik banget sih!"


Setelah selesai memetik tomat, mereka berdua pun bersama-sama akan pergi ke salon kecantikan AlDiv, dengan menaiki mobil Jenna. Jenna yang nyetir mobilnya.


Mobil melaju dengan cukup kencang. Jenna seperti tidak sabar ingin melihat salon milik sahabatnya itu.


"Adiva aku minta maaf ya sama kamu? Aku keinget terus soal ini."


"Soal apa Jenna?"


"Oh soal itu kan udah lama berlalu mba. Masa lalu biarlah berlalu. Hidup itu menatap kedepan bukan ke belakang terus! Santai aja ya mba."


"Makasih Div, oh iya berapa lama lagi kita sampai?"


"Mungkin sekitar dua puluh menitan lagi deh mba."


Mobil Jenna melintas didekat sebuah pusat perbelanjaan. Kebetulan karena kecerobohan seseorang, mereka hampir saja menabrak seorang wanita modis yang bersiap menyebrang jalan. Bukan salah Jenna tapi wanita itu yang seperti nggak lihat-lihat suasana di jalanan. Wanita itu tersungkur, rambutnya jadi berantakan dan menutupi sebagian wajahnya. Jenna dan Adiva belum bisa melihat jelas siapakah orang itu. Untung Jenna langsung mengerem mobil dengan mendadak. Kalau tidak, wanita ceroboh itu bisa dibawa ke rumah sakit.


Mereka berdua langsung keluar dari dalam mobil dan mengecek keadaan orang itu.

__ADS_1


"Aduh maafin saya mba. Tapi mbaknya juga sih kurang lihat-lihat saat mau menyebrang jalan, kan bahaya mba kalau sampai mba ketabrak mobilku." tukas Jenna seraya membantu perempuan berambut pirang itu berdiri.


"Iih! Kamu itu bisa bawa mobil nggak sih!" teriak perempuan itu menunjukkan wajahnya yang ternyata dia adalah Amel. Musuh besar Adiva.


"Amel? Musuhku?" sahut Adiva terhenyak.


"Lu! Siapa perempuan ini hah? Hampir saja dia membunuh gue! Mau gue laporin ke polisi? Hah?" marah Amel di tepi jalan, sambil melotot nyolot kepada Jenna.


Beberapa orang ada yang melihat keributan yang sedang dilakukan oleh Amel itu.


"Lo jangan nyalahin teman gue juga ya! Lo juga salah! Mau nyebrang jalan tapi nggak lihat-lihat kiri kanan. Kalau lu kecelakaan salah lu juga!" sahut Adiva lagi membela Jenna.


"Oh jadi dia temen lo ya? Pantesan lo belain dia! Udah jelas siapa yang salah disini, yang salah jelas yang hampir bikin gue celaka lah! Siapa lagi kalau bukan temen lo ini jadi stop nyalahin gue! Lo sama temen lo sama aja, sama-sama sukanya cari masalah! Dahlah, gue mau pergi aja! Males gue ladenin dua curut ceroboh bikin kesel kaya kalian!" ujar Amel kesal kemudian pergi dengan sinis meninggalkan mereka berdua. Amel melangkah menuju mobilnya yang terparkir diseberang jalan, jalannya begitu cepat.


"Kamu kenal dia? Dia siapa sih Div? Gayanya belagu amat? Siapapun yang bermusuhan dengan dia pasti karena sikap dia sendiri, sangat bikin kesal, gemas aku! Pengen jambak dia deh! Setahuku kamu orang baik, pasti dia orang jahat ya Div?"


"Kamu betul Jenna, dia adalah musuhku. Dia itu benci banget sama aku. Walau aku sendiri selalu berusaha baik sama dia tapi tetep dia nggak mau nerima aku. Aku udah kaya sampah dimata dia. Yaudahlah aku malas bahas dia, nggak penting tahu!" ajak Adiva menarik tangan Jenna kedalam mobil, seraya mengamati mobil milik Amel.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju salon AlDiv. Adiva tidak menyangka hari ini dirinya berjumpa dengan perempuan menyebalkan itu secara kebetulan. Kalau ingat Amel, Adiva bawaannya emosi.


Adiva teringat sikap-sikap jahat Amel dan juga nyinyiran Amel kepadanya dulu. Waktu duet kompak bersama mama Linda buat menyiksa batin dan fisiknya dulu.


"Dia itu saudara ipar aku Jen. Dia itu istrinya adik suamiku. Setahuku dulu dia sempat mau dijodohin sama mas Alzam, tapi mas Alzam menolak perjodohan itu karena sikap dia yang kurang baik."


"Oh pantesan. Aku juga pasti nggak setuju sih kalau laki-laki sebaik mas Alzam menikah sama perempuan sampah kaya dia! Untung dia nikahnya sama kamu Div."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2