MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Kemarahan Suami


__ADS_3

Bi Turi bergegas mengganti pakaian Adiva yang basah kuyup karena air hujan. Bi Turi mengurus Adiva dengan begitu telaten, namun wajah bi Turi tampak sedih, tidak ramah seperti yang sering ia aplikasikan.


Bi Turi juga mengeringkan badan Adiva yang basah menggunakan handuk. Setelah selesai merawat Adiva dan Adiva sudah diganti pakaian, Daffa masuk lagi kedalam kamar Alzam.


Daffa memandang dengan iba gadis malang yang sedang terbaring pucat. Daffa juga sudah menghubungi dokter pribadi untuk menangani Adiva.


Tak lama berselang mama Linda menyusul masuk kedalam kamar Alzam. Mama Linda menatap dengan tidak senang kearah ranjang, seorang perempuan tengil yang ia benci sedang berbaring diatas ranjang anaknya.


"Kenapa kamu bantu dia Daffa? Kenapa kamu membawa dia kedalam rumah mama? Biarkan dia menderita diluar! Apa kamu sudah tidak mau berada di pihak mama lagi nak?" tanya mama Linda dengan nada bicara yang agak keras, seraya menggoyangkan bahu Daffa sehingga tubuh Daffa bergoncang ringan.


"Daffa masih berada di pihak mama kok, Daffa cuma nggak mau lihat mama ribut dengan kak Alzam. Sungguh ma, Daffa sangat membenci anggota keluarga yang bertengkar,"


"Daffa! Mama ini sebenarnya nggak mau bertengkar apalagi berdebat dengan anak-anak mama, tapi Alzam selalu saja bikin mama emosi! Semua wanita pilihan dia nggak pernah ada yang bikin mama senang, semuanya kismin! Kamu tahu kan keluarga kita ini keluarga terpandang?Mama nggak sudi lah, punya menantu yang gembel seperti mereka. Mama akan berusaha memisahkan mereka berdua kok!"


"Udahlah ma nggak usah ngurusin kisah percintaan anak mama, kalau mama ingin punya menantu yang sesuai dengan kriteria mama, mending mama jodohkan saja aku dengan Amel, heheh."


Mama Linda terdiam sejenak, sedang memikirkan saran dari anaknya itu. Mama Linda kemudian tersenyum senang setuju dengan saran dari Daffa, lebih baik menjodohkan saja Daffa dengan Amel, supaya saya bisa punya menantu yang kaya raya, pikir mama Linda. Dan tentu saja mama Linda akan sayang kepada Amel.


Dokter yang dipanggil oleh Daffa akhirnya tiba di rumah, mama Linda bersama dengan Daffa menunggu dokter yang sedang mengecek kondisi Adiva itu. Adiva masih pingsan, cukup kasihan saat dokter memandang kondisi Adiva yang seperti itu.


"Dia belum juga sadar, sudah berapa lama dia pingsan mas Daffa?" tanya dokter laki-laki itu.

__ADS_1


"Sepertinya semenjak saya temukan, dia sudah pingsan lama pak," sahut Daffa.


Mama Linda tidak peduli Adiva mau pingsan berapa lama, bahkan matipun dia tak peduli, justru malah senang kalau menantu miskin terbarunya itu meninggal.


"Ah, semoga saja dia mati, biar saya nggak perlu repot-repot bayar orang buat habisin nyawa dia, sama seperti apa yang sudah saya lakukan kepada Zahra sialan dulu, haha." batin mama Linda dengan tatap aura kejahatan.


Pak dokter meminta sebuah minyak kayu putih, akan ia gunakan untuk usaha membangunkan Adiva. Daffa meminjam minyak kayu putih milik bi Turi kemudian setelah mendapatkannya, pak dokter mendekatkan aroma minyak esensial itu ke area lubang hidung Adiva.


Setelah menghirup aroma menyengat dari minyak esensial, Adiva mulai membuka matanya secara perlahan, akhirnya ia sadar. Pak dokter dan Daffa merasa lega melihat gadis yang cukup malang itu sudah sadar. Pak dokter mengambil air putih yang ada di samping meja, kemudian meminumkan air itu dengan perlahan, akhirnya Adiva merasakan rasa hausnya sedikit berkurang.


"Syukurlah kamu akhirnya sudah sadar, nona habis ini istirahat saja ya? Jangan capek-capek dan harus banyak makan makanan yang bergizi, okey?" titah sang dokter.


Adiva mengangguk pelan seraya memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Adiva menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mulai memindai keadaan di sekitarnya, ada laki-laki muda tampan yaitu Daffa yang sedang berdiri menatapnya seraya bersedekap dada dan disampingnya ada mama Linda yang sedang menatap kesal kearahnya, mama Linda berkacak pinggang selama beberapa detik kemudian keluar dari dalam kamar Alzam.


Adiva mengangguk, ternyata Daffa bisa baik juga sama dia.


Singkat waktu malam pun tiba, Alzam sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah lalu tak sabar masuk kedalam rumah, ingin bertemu lagi dengan si istri yang tengil dan resa. Kira-kira apa yang sedang ia lakukan, buatnya penasaran.


Saat mengecek kedalam kamar, ternyata si tengil rese sedang makan malam tanpa menunggunya pulang. Adiva tengah makan sangat lahap diatas kasur, gaya seorang wanita tomboy yang menyebalkan kembali sang istri lakukan.


"Woy, apa yang sedang kau lakukan wahai cewek bar bar? Kamu makan diatas kasur, kamu taruh satu kaki kamu diatas bantal buat kepala, terus nasinya belepotan lagi diatas kasur? Sungguh jorok dan jadi kotor kan kamar saya," pekik Alzam tiba-tiba saja membuat Adiva yang sedang lahap makan jadi tersedak.

__ADS_1


Adiva merasa sesak nafas, batuk, karena ada makanan yang menyangkut di tenggorokannya. Buru-buru Alzam mengambil minuman untuk Adiva, supaya meloloskan makanan yang menyangkut dalam kerongkongan istrinya.


"Kaget kak! Lo buat gue jadi keselek kan! Huft, kesal deh, uhuk uhuk," geram Adiva kesal karena sang suami mengagetkan dirinya.


Alzam duduk di samping Adiva, diatas permadani yang empuk, kemudian mengelus mesra bahu istrinya.


"Ya, saya minta maaf? Tapi lain kali saya akan lebih kasar dan lebih keras lagi dalam meneger kamu!" pekik Alzam lagi kemudian menjambak rambut Adiva dari belakang.


Apa ini? Alzam menjambak rambutnya? Begini cara dia memperlakukan seorang wanita?


"Sakit kak rambut gue? Ya Allah, ini KDRT? Help me siapapun??!!... Aw sakit! Kenapa sih pakai jambak segala kak!"


Lalu Alzam melepas jambakannya dan menoyor pelan kepala Adiva kedepan. Adiva merasa shock karena baru kali ini ia dijambak oleh seorang lelaki, mana lelaki itu adalah suaminya sendiri. Adiva melihat wajah suaminya dengan tatapan yang seperti takut. Lalu suaminya berkata kepada Adiva.


"Bagaimana kamu akan merebut hati dari mama saya kalau kelakuan kamu begini terus hah! Mana sopan santun kamu gadis tengil!" lantang Alzam kepada istrinya.


Adiva mendorong pelan Alzam, Adiva memberontak, Adiva tidak suka hidupnya diatur-atur oleh orang. Perihal jambakan yang ia alami barusan, hidupnya sudah khatam dengan yang namanya pukulan dan makian.


"Gue adalah gue, dan gue sukanya begini. Ini adalah jati diri gue yang jelas! Kak, jangan atur hidup gue lagi, toh selama ini gue nggak pernah jahat ke orang. Gue mau jadi diri gue sendiri ya kak, tenang aja, semua kekacauan di kasur kakak ini akan segera gue bersihkan, gue minta maaf, gue ga akan ngulangin lagi hal yang seperti barusan itu di dalam kamar lo! Permisi."


Adiva membawa semua piring dan gelas yang berserakan diatas kasur.

__ADS_1


Alzam tidak terima punya istri yang berani melawan perintah memberontak atas kemarahannya. Alzam mengambil bantal lalu ia lemparkan kearah Adiva, sampai piring yang sedang Adiva pegang pecah ke lantai.


"Kak Alzam!!" teriak Adiva terkejut, seraya menatap pecahan piring dan gelas itu.


__ADS_2