
Tiba-tiba terdengar suara mobil yang melintas di area jalanan depan rumah mama Linda. Mobil itu adalah mobil kepunyaan Amel yang menandakan Amel sudah kembali pulang kerumah. Daffa, Adiva, dan Alzam terus mengamati mobil Amel bergerak sampai terparkir di garasi.
Setelah memarkirkan mobil di garasi, Amel lalu berjalan dengan wajah yang sedih menghampiri mereka bertiga yang sedang kompak menatap Amel.
"Sayang, kamu darimana aja? Jam segini baru pulang? Kamu kalau mau pergi, izin dulu dong sama aku? Biar aku nggak panik dan tahu kamu sedang pergi kemana? Aku ini kan suamimu."
Amel hanya diam saja sembari menatap kepada mereka bertiga secara bergiliran, lalu Amel nyelonong masuk kedalam rumah suluan
"Amel?" panggil Daffa melihat istrinya masuk duluan.
"Sepertinya istri kamu sedang mengalami masalah deh." ujar Alzam setelah melihat ekspresi iparnya barusan.
"Sepertinya begitu dan aku akan selalu siap sedia mendengar keluh kesah apapun masalah dia kak. Aku masuk dulu kedalam ya? Aku ingin menghibur istriku." pamit Daffa.
"Iya dek." jawab Alzam.
Sementara Daffa sudah masuk duluan kedalam rumah, Alzam ingin mengajak Adiva makan malam berdua di restoran. Kalau makan malam dirumah setiap malam, sepertinya membosankan. Lagian setiap makan bareng, Adiva selalu saja kena sindir ibunya.
"Malam ini spesial kita makan malam di restoran? Mau nggak nih?"
"Ya jelas mau dong. Tumben banget nih, mas ngajak aku makan di restoran? Apa nggak takut kalau nanti aku membuat kehebohan di restoran, dengan sikap jorok aku itu yang selalu digembor-gembrokan sama mama?"
"Ya iyalah, mas nggak mau aja kalau kamu merasa bosan makan malam dirumah melulu. Sekali-kali makan diluar gak apa-apa. Hitung-hitung kita menambah cuan kan buat usaha yang dijalankan mereka? Jorok itu adalah identitasmu, kalau kamu nggak jorok mungkin kamu akan merasa hampa, bener nggak sih? Mas pasrah aja deh."
"Betul banget mas! Yaudah, aku siap-siap dulu ya?"
__ADS_1
"Eh nggak usah. Langsung aja berangkat sekarang, perut aku udah lapar banget nih."
"Hah? Penampilan aku kan masih awut-awutan mas? Aku juga belum mandi. Bau asem, nanti orang lain muntah kalau cium bau badan aku, gimana dong?"
"Dasar wanita jorok! Joroknya istri aku, tapi aku tetap sayang kok. Jam segini juga belum mandi. Mungkin kamu cocok ya kalau dijulukin dengan sebutan predikat istri paling jorok sedunia, hahah. Terus kamunya dapat penghargaan berupa piala berbentuk kecoa, hahaha."
"Iih, mau aku tonjok lagi nih perutnya?"
"Hahaha, tonjok aja sepuas hati, asalkan kau bahagia sayang."
"Ah bisa aja, yaudah mas, aku mau mandi dulu ya kedalam? Habis ini kita baru deh berangkat ke restoran. Kamu udah wangi masa aku nggak sih, huuuh." ucap Adiva lalu berlari manja kedalam rumah. Membuat Alzam tersenyum kecil dibuatnya.
Didalam kamar, Amel membanting tasnya lalu menangis sembari duduk diatas kasur. Amel ingin sekali menggugurkan kandungannya, dia tidak mau aib ini diketahui oleh siapapun. Mau ditaruh dimana dirinya? Imejnya yang cukup baik, cantik dan elegan menurut mata umum yang mengenalnya akan hancur jika kehamilan ini terbongkar.
Daffa membuka pintu kamar lalu melihat istrinya yang sedang menangis, penuh dengan hujan air mata. Akhir-akhir ini, Daffa selalu melihat istrinya menangis. Daffa jadi berpikir apakah istrinya nggak betah tinggal dirumah ini atau gimana sih?
"Aku lagi pengin sendiri mas, aku lagi gak mau diganggu. Bisa tinggalin aku sebentar saja?"
"Berkali-kali mas bilang kalau kamu lagi ada masalah, kamu wajib cerita sama aku? Jangan dipendam sendirian, tidak baik untuk kesehatan kamu sayang kalau kamu jadi stress, nanti asam lambung kamu kambuh,"
"Nggak mas, aku nggak ada masalah. Aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku tuh sering tiba-tiba nangis. Sering tiba-tiba merasa putus asa, aku hanya butuh ketenangan."
"Apa jangan-jangan kamu mengidap bipolar? Kamu sering menangis tanpa alasan yang jelas? Apa perlu kita pergi ke psikiater untuk menyembuhkan keanehan yang sedang kamu alami itu sayang?"
Amel mendorong pelan Daffa, tidak suka kalau Daffa menyebutnya pengidap bipolar.
__ADS_1
"Aku hanya butuh ketenangan. Aku mau didalam kamar aja sampai besok! Aku nggak mau makan malam, aku nggak laper. Aku mau tidur aja mas. Berhenti bersikap lebay seperti itu!"
"Yaudah kalau gitu, setenangnya kamu aja sayang. Lakukan hal apapun yang membuat kamu menjadi tenang. Aku akan selalu ada untukmu."
"Makasih mas." kata Amel singkat seraya memberikan sedikit senyuman untuk Daffa. Lalu Amel menarik selimut dan berusaha memejamkan mata. Sepertinya hidup di alam mimpi akan jauh lebih indah untuknya.
Sementara itu di sebuah restoran, sepasang suami istri sedang disambut dengan penuh kehormatan oleh para pelayan restoran dan juga manager di restoran itu.
"Sungguh suatu kehormatan karena restoran kami didatangi oleh tuan muda Alzam kembali. Biasanya, setelah tuan muda Alzam datang kesini, besok dan seterusnyanya restoran selalu ramai pengunjung. Tuan muda Alzam bawa hoki, hehehe." kata sang manager resto ceria.
"Ya jelas bawa hoki dong pak, saya kan terkenal dan saya dicintai oleh banyak orang. Restoran yang saya datangi itu tandanya restoran itu yang terpilih dan benar-benar istimewa. Makannya selalu ramai pengunjung setelah saya datang kan?" ucap Alzam dengan bangganya.
"Saya akan segera siapkan tempat yang paling eksklusif di restoran ini. Spesial untuk kalian berdua." ucap sang manager restoran lalu bergegas mengarahkan para karyawannya untuk mempersiapkan tempat ekslusif itu, untuk Alzam dan Adiva dinner berdua.
Beberapa saat kemudian, tempat private dinner untuk mereka berdua sudah siap. Alzam dan Adiva dibawa ke tempat itu, letaknya ada di lantai tiga. Adiva tampak anggun dan bersahaja dengan mengenakan sebuah celana panjang putih dan atasan kaos lengan panjang jeans. Adiva juga mengenakan sebuah anting bulat besar menambahkan kesan anggun yang berbeda pada dirinya. Rambut pendek sebahu, auranya seperti foto model yang cantik dan berkelas.
Adiva sebenarnya merasakan seperti bukan Adiva pada hari-hari biasa. Malam ini dia benar-benar tampil sempurna dan ekslusif. Dengan menggandeng tangan suaminya, mereka mulai menaiki lift menuju lantai tiga restoran yang sangat megah itu.
Adiva sangat penasaran sekali akan ruangan VVIP yang disiapkan khusus untuk dinner mereka berdua. Hingga akhirnya mereka berdua sampai didepan pintu dan para pelayan mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam ruangan. Saat Alzam mulai membuka pintunya, Adiva langsung dikejutkan dengan sebuah ruangan yang sangat luas, indah, penuh dengan lampu bulat putih dan juga bunga-bunga nan harum semerbak.
Ruangan yang sudah disiapkan dengan detail dan nyaman untuk pasangan romantis itu dinner. Alzam mempersilakan Adiva untuk duduk duluan lalu Alzam juga duduk setelahnya.
"Mau pesan apa tuan muda Alzam?" tanya seorang pelayan perempuan berjalan mendekat.
"Dua gelas wiski, dua porsi spaghetti carbonara, dan lemon tea. Udah itu saja." jawab Alzam.
__ADS_1
"Baik tuan, akan segera kami siapkan."
Bersambung...