
"Makasih ya beb atas sarannya. Gue beruntung banget punya sahabat sebaik kalian. Siang ini kalian boleh makan dan minum sepuasnya deh di minicafe gue gak usah bayar gpp." tutur Adiva membuat Kayla dan Shireen menjadi riang.
"Horeeee!!!" sahut mereka berdua kompak nan ceria.
"Makanan dan minuman yang lo jual kan enak-enak semua, gue udah pernah cobain semuanya. Dan hari ini kita dikasih gratis, yuhuu beb berkah ya." sambut Shireen penuh kebahagiaan.
***
Urusan pekerjaan Alzam di kantor jadi agak terganggu. Alzam tidak bisa fokus kepada banyak hal. Dia kepikiran mamanya terus dipenjara. Alzam bingung bagaimana caranya supaya mamanya bisa secepatnya bebas. Sekretaris Dina yang ganjen dan menyukainya itu masuk kedalam ruangan Alzam. Sekertaris Dina datang dengan membawa segelas teh bunga chamomile buat Alzam seduh.
Meminum teh itu katanya dapat menenangkan hati dan pikiran orang yang sedang terasa kalut.
"Bos, silahkan diminum teh hangat buatan saya ini?"
"Makasih, taruh aja diatas meja."
Sekertaris Dina menaruh secangkir teh itu diatas meja. Sejenak ia membungkuk seraya melirik genit ke wajah Alzam yang sedang melamun pusing.
"Tuh kan, akhir-akhir ini pak bos selalu saja terlihat sedang murung. Pasti lagi ada masalah ya sama istrinya?"
"Udahlah, kamu nggak usah urusin hidup saya. Mendingan kamu selesaikan pekerjaan kamu atau perlu saya cari sekretaris baru buat gantiin kamu? Mau saya pulangin kamu ke Surabaya?"
"Ya nggak dong bos. Jangan suka marah-marah gitu dong, nanti bisa cepat tua. Mendingan seneng-senang aja sama aku. Kita hangout gitu ke mall, ke bioskop, atau ke cafe. Diluaran sana, banyak tuh seorang bos yang punya selingkuhan dengan sekrearisnya, hehehe. Masa bos gak tertarik sih sama aku yang glowing dan cetar ini?" ujar Dinda terus menggoda Alzam. Sangat percaya diri, Dinda menaruh tangan kirinya diatas pinggang, berdiri dengan gaya seksi nan menggoda. Tidak lelah ia menggoda iman bosnya.
"Boss, aaah?" desah Dinda seraya menggigit bibir bawahnya.
"Bodohnya saya. Kenapa dulu saya menerima kamu ya sebagai pegawai saya? Kalau tahu kamu itu adalah orang yang genit dan agresif, sudah pasti saya akan tolak lamaran kerja kamu mentah-mentah! Mulai sekarang kamu turun jabatan saja ya sebagai office girl! Bergelut dengan kain pel dan serbet,"
"Aah boos? Kenapa gitu sih? Masa orang secantik dan seseksi aku jadi OG? Nggak mau! Nggak pantas, nggak cocok. Aku maunya tetap jadi sekretaris, yang selalu setia mendampingi bosnya di kantor ini, yuhuu."
"Lebih pantes lagi jadi wanita simpananmu bos?" bisik Dina mengedipkan mata genit.
__ADS_1
"Kamu tahu kan apa jabatan saya di perusahaan ini? Masih untung saya tidak pecat kamu. Apes banget saya dapat pegawai perempuan yang otaknya sinting seperti kamu! Kamu agresif sama saya padahal saya gak tertarik sama kamu! Bahkan saya sudah punya istri! Apa kamu gak malu kalau dicap sebagai perempuan penggoda suami orang?"
"Hmm, ngapain malu sih, yang penting aku bahagia bisa jalan dan romantisan bareng bos Alzam. Ayolah bos, jadikan saya simpananmu?" genit Dina seraya menjatuhkan bokongnya diatas pangkuan Alzam.
"Sialan! Dasar tidak sopan! Enyahlah kamu dari atas saya!" marah Alzam lalu mendorong badan Dina keatas lantai.
"Aaa, sakit bos! Aw."
"Tidak peduli! Sekarang juga kamu angkat kaki dari kantor saya! Perusahaan saya tidak membutuhkan karyawan bermoral rendahan seperti kamu!"
Dina perlahan bangkit lalu berani menampar bosnya sendiri.
"Plaaak!"
"Lihat aja ya! Aku akan balas semua perbuatan bos! Aku akan bikin istri kamu menderita, lihat saja nanti!"
"DASAR ORANG TIDAK TAHU TERIMAKASIH! BERANI MENGGANGGU ISTRI SAYA, KAMU AKAN TANGGUNG RESIKONYA!" teriak Alzam sembari mencekik Dina. Dina merasakan sesak nafas dan batuk karena cekikan itu. Lantas Alzam mendorong Dina ke lantai lagi. Dina merasa sedih dan juga tersiksa akibat perlakuan bos yang ia godain.
"Hari ini aku dipermalukan habis-habisan sama kamu bos, di ruangan ini, kenapa ga sekalian kamu permaluin saya didepan semua orang di kantor ini!"
"Pergi kamu sekarang!"
"Baik, saya akan pergi! Dan jangan salahin saya kalau suatu saat terjadi sesuatu yang mengerikan kepada istri kamu! Camkan itu!"
Dina bangkit lantas bergegas membuka pintu, kembali ia berhenti melangkah sejenak lalu menoleh kembali kedalam ruangan bosnya.
"Tapi aku akan tetap mencintaimu bos, sampai jumpa kembali sayang, muach," kata Dina kembali mengedipkan mata genit.
Lantas Dina menutup kembali pintunya kemudian bergegas pergi dengan tidak terhormat dari kantor kepunyaan mama Linda itu.
"Dasar sekertaris gila! Ada aja masalah. Saya harus segera cari sekertaris pengganti Dina nih dan yang pasti, dia harus punya etika dan nggak genit parah seperti si Dina itu." ucap Alzam sembari memicit dahinya pusing.
__ADS_1
***
Didepan cafe Aldiv, Dina tengah mengamati sekumpulan perempuan muda energik di samping cafe, tepatnya di sebuah taman mini yang sangat indah di samping cafe Aldiv itu. Adiva, Kayla, dan Shireen sedang foto-foto selfie bahagia disamping mini cafe.
"Eh Kayla, fotoin aku di samping bunga mawar itu dong. Indah banget bunga mawar itu!" pintar Shireen kepada Kayla.
"Itu dia istrinya mas Alzam dan kedua temannya. Aku mau ngerjain mereka sekarang ah." tukas Dina berbicara pelan lalu keluar dari dalam mobilnya yang masih dicicil itu.
"Aduh, mana mobil aku belum lunas lagi biaya cicilannya. Gimana caranya aku mau lunasin kalau aku dipecat?" gumam Dinda bingung.
"Eh itu lihat deh, ada cewek yang lagi mondar-mandir didepan mobilnya, dia kenapa ya?" ucap Shireen menunjukkan posisi cewek itu kepada Adiva dan Kayla.
"Mungkin dia lagi kebingungan kali atau nyasar, gih lo tolongin dia Kay." titah Adiva yang sedang sibuk dengan kameranya.
"Oke deh gaes, gue yang akan tolongin itu orang." balas Kayla lalu menitipkan kameranya kepada Shireen. Kayla melangkah menghampiri Dina yang masih berdiri dengan ekspresi kebingungan didepan mobilnya.
"Permisi kak, ada yang bisa dibantu? Ngapain kakak mondar-mandir nggak jelas disitu kak?" tanya Kayla dengan wajah ramah.
"Ini cafe siapa ya? Katanya makanannya enak?"
"Lah iya, kalau kakak mau beli yang tinggal masuk aja. Teman saya itu adalah pemilik dari cafe ini kak."
"Boleh, kalau gitu aku masuk dulu kedalam ya? Aku mau coba beli dan icip-icip menunya."
"Silahkan kakak yang cantik."
Dina pun melangkah masuk seraya melirik sinis kearah Adiva yang sedang asyik selfie di taman samping cafenya, namun Adiva yang sedang asyik berfoto itu tidak melihat tatapan sinis dari Dina.
"Aku akan menghancurkan bisnis kamu istri sekarang juga!" batin Dina tidak sabar.
Apa yang akan Dina lakukan?
__ADS_1
Bersambung...