
"Nggak usah sok suci kamu Jenna! Sekarang aku mau pergi ke rumah sebelah. Mumpung tuan rumahnya sedang pergi keluar kota, hahahaha."
Jenna buru-buru mencegat dengan memegang erat salah satu tangan pak Nick. Posisi Jenna masih tersungkur dibawah, Jenna berusaha sekuat tenaga menggapai salah satu tangan suaminya. Tidak akan ia membiarkan suami iblisnya berlaku seperti itu kepada tetangganya yang baik.
"Jangan lakukan itu mas dia sedang hamil tua! Kamu juga bukan suaminya! Dimana hati kamu mas! Aku mohon, jangan?"
"Lepasin!"
Tangan Jenna ditepis lalu wajah Jenna ditendang menggunakan kaki pak Nick sampai gigi dan gusi Jenna terluka dan berdarah. Lalu kepala Jenna dipukul sampai Jenna pingsan oleh pak Nick. Jenna pingsan diatas lantai kamar dia tak berdaya.
Lantas pak Nick keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah pisau yang ia simpan didalam jaketnya. Pak Nick ingin membuat kekacauan dirumah Alzam dan Adiva. Pak Nick menyimpan rasa dendam yang amat membara kepada Alzam dan Adiva, setelah kejadian pelabrakan beberapa saat yang lalu.
Malam ini, hujan tiba-tiba turun dengan begitu lebatnya. Petir dan guntur menggelegar, menyambar-nyambar di angkasa. Didalam kamarnya Adiva semakin bertambah ketakutan.
Dokter Sarah dan semua orang sudah terlelap dalam tidurnya namun Adiva masih belum bisa. Biasanya Adiva selalu memastikan apakah semua pintu dan jendela rumah sudah dikunci atau belum, namun sekarang Adiva sedang agak sulit buat lakuin itu.
Entah kenapa tiba-tiba perasannya jadi tidak enak. Adiva menoleh dan terhenyak sesaat kemudian ada bayangan hitam yang melintas didekat tirai, Adiva bisa melihat jelas sosok itu. Mata Adiva terbelalak takut, siapakah dia? Dia, apakah orang yang sedang berniat jahat kepada keluarga dan orang-orang dirumah ini?
Tapi dari perawakannya sepertinya Adiva mengetahui, itu seperti pak Nick. Adiva berusaha menguasai keadaan, Adiva menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya sendiri. Harus tetap berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja. Bayangan yang barusan itu ia tekankan semoga hanya ilusinya saja.
Tapi ketakutan itu sulit untuk Adiva sangkal. Adiva khawatir bayangan yang melintas barusan itu masuk kedalam rumah dan mencelakai orang-orang yang ada disini. Adiva berusaha bangkit lalu melangkah dengan perlahan, sembari memegangi perut besarnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam.
Membangunkan orang yang sudah tidur jelas dirinya tidak akan merasa enak. Apalagi mereka letih bekerja seharian ini.
Adiva mengecek jendela dan pintu satu persatu. Pintu yang terkunci ia biarkan lalu Adiva bergerak ke ruangan yang lain.
__ADS_1
Adiva merasa lega karena hampir semua pintu dan jendela didalam rumahnya sudah terkunci, namun masih ada satu pintu lagi yang belum ia cek, yaitu pintu belakang.
"Satu pintu lagi!"
Adiva melangkah dengan perlahan menuju pintu belakang.
"Aku harus kuat!" ucap Adiva menyemangati diri sendiri seraya berjalan lambat.
Saat Adiva sudah sampai di area dekat pintu belakang, alangkah terkejutnya ia tatkala melihat seorang laki-laki gempal bertopeng yang sedang berdiri seraya mengintai kedalam ruangan dari kaca samping pintu. Sontak saja Adiva langsung gemetar, apalagi laki-laki itu mengacungkan sebuah pisau yang cukup panjang dan tajam.
Adiva melotot kearah laki-laki misterius itu, dari perawakannya sih seperti pak Nick, tapi apa mungkin itu adalah dia? Bukannya pak Nick sudah sadar dan berubah?
Sepertinya pria itu akan membuka pintu belakang, Adiva buru-buru melangkah cepat kedepan, berpacu dengan pria itu dan untung saja saat pria itu duluan memegang gagang pintu untuk membukanya, ternyata pintu belakang juga sudah dikunci. Pria itu gagal masuk kedalam rumahnya.
"Syukurlah, rasain! Kamu nggak bisa masuk. Siapa kamu! Pergi dari sini! Jangan macam-macam ya atau aku akan telpon polisi! Mereka akan datang buat menangkap kamu!" ancam Adiva.
"Mau apa kamu! Pergi kamu! Atau saya teriak biar orang-orang pada bangun!" ucap usir Adiva dengan nada suara yang kencang.
Pak Nick langsung berlari secepat kilat dan berhasil mendobrak pintu itu sampai terbuka. Sekarang mereka berdua tengah berhadap-hadapan. Pak Nick mengacungkin pisau itu kearah perut besar Adiva.
"Ma mau apa kamu? Apa kamu ingin membunuh anak aku?" tanya Adiva gugup dan gemetar.
Rahangnya, badannya semua gemetar, keringatnya bercucuran, ketakutan yang teramat sangat itu, membuatnya seolah ingin pingsan.
"Kamu harus ikut denganku!"
__ADS_1
"Hah, ternyata benar kalau kamu itu pak Nick. Aku mengenali suaramu! Buka topeng kamu! Aku salah apa pak, kamu mau apalagi?"
Pak Nick terdiam sejenak lalu membuka topengnya perlahan.
"Aku ingin menghabisi kamu. Kalau kamu mati, maka dendamku akan terbayarkan. Aku tidak akan membiarkan orang-orang tahu kejahatan aku, diriku yang suka sewa pelacur, kejahatan aku sama Jenna. Kalian adalah saksi dan kalian harus mati! Aku juga sudah mengirim pembunuh bayaran yang saya suruh untuk mengikuti suami kamu pergi. Suami kamu akan meregang nyawanya diluar kota sana, hahahaha."
"Dasar orang gila! Jahat banget sih bapak jadi manusia! To..."
Pak Nick buru-buru membungkam mulut Adiva agar tidak ada orang lain yang bisa dengar suara teriakannya. Adiva berusaha bebas, berusaha melawan pak Nick tapi tenaganya tidak bisa sekuat biasanya.
Adiva dibawa sama pak Nick ke sebuah kebun yang sepi dan menjadi basah kena air hujan. Mulutnya terus dibekap menggunakan tangan pak Nick yang basah. Adiva melihat ke langit, kilatan cahaya, malam ini begitu mencekam dan menegangkan. Dingin dan kesunyian. Disaat sedang hamil tua dan sebentar lagi melahirkan. Adiva mengalami kejadian mengerikan seperti ini.
Pak Nick mendorong Adiva sampai Adiva jatuh. Karena kekasaran itu perutnya jadi terasa sakit sekali.
"Tolooooong!" teriak Adiva berusaha sekencang mungkin, memegang terus perutnya, tetapi tidak ada orang yang bisa mendengar karena hujan turun begitu deras. Begitu pula dengan suara guruh yang amat menggelegar.
"Tolooooong! Tolooooong! Jangan sakiti aku pak Nick?"
"Tidak akan ada orang yang bisa nolongin kamu! Mereka semua sudah tidur dan malam ini, hujan petir begitu kencang! Hari ini akan menjadi hari kematian kamu, hahahaha."
"Apa pak Nick mau uang? Saya bisa memberikan berapapun yang kamu mau? Tapi saya mohon jangan sakitin saya? Biarkan saya dan anak saya ini selamat pak. Saya yakin bapak pasti masih punya hati kan?"
"Kan sudah saya bilang kalau saya ini menginginkan kematian kamu! Saya akan bunuh kamu disini dan pasti kalau saya berhasil singkirin kamu, saya akan kuburin kamu ditempat yang jauh dan sepi, hahaha."
"Dasar psikopat! Pak Nick gila! Pak Nick bejat!"
__ADS_1
Adiva berteriak marah, menoleh kesana kemari, mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk mempertahankan dirinya. Adiva melihat samar-samar ada batu dengan ukuran yang cukup besar disampingnya. Lalu dengan sekuat tenaga Adiva berusaha meraih batu itu, tapi tangannya malah keburu diinjak oleh pak Nick. Ah tidak! Adiva apa yang akan terjadi dengannya?
Bersambung...