
Satu minggu kemudian...
Didalam sebuah ruangan besar dengan cat warna putih, didalam ruangan itu banyak banget foto Daffa dan Amel.
"Yuhuu, semakin hari salon kecantikan aku udah lumayan rame. Nggak sia-sia endorse salon ini ke banyak selebgram. Gak apa-apalah kalau menelan budget yang lumayan, tapi setidaknya salon kecantikan aku sekarang semakin maju. Pasti tetangga sebelah lagi kepanasan deh, ups." ujar Amel didalam ruangan kerjanya sembari menatap sinis kedepan.
Cuman Amel agak bingung juga sih disisi lain, dirinya harus membayar karyawan dari Korea itu dua kali lipat dari standar gaji umum. Itu sudah tertulis dalam surat perjanjian pekerjaan yang sudah dibuat.
"What! Apa aku bisa untung banyak ya dan bisa kembalikan uang mama aku secepat itu? Aduh, puyeng kepala bestie."
Amel memicit dahinya pening, pusing. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan Amel langsung menatap kearah pintu.
"Siapa? Silahkan masuk?"
Orang itu masuk dan ternyata dia adalah orang yang berstatus sebagai suaminya sendiri, siapa lagi kalau bukan Daffa.
"Selamat siang bu Owner Mel's Beauty?" sapa Daffa bangga. Seraya merapikan kemeja yang ia pakai.
"Eh sayang, siang? Silahkan duduk. Ada apa sayang, tumben kamu kesini?"
"Aku mau lihat bisnis istriku yang katanya lagi naik daun lah. Nggak kalah sama Adiva, kamu juga bisa buktiin, kalau kamu itu pinter juga berbisnis."
"Lulusan luar negeri kok dilawan! Hahaha. Lihat aja tuh tetangga sebelah, makin anyep aja salonnya."
"Huss! Kamu nggak boleh bersikap seperti itu sayang. Pemilik salon itu saudara kita juga, doain aja salonnya supaya makin rame, sama kaya bisnis kamu ini."
"Nananana, nggak denger-nggak denger." balas Amel sambil menutup kedua telinganya.
__ADS_1
"Bandel ya cubit nih pipinya!" gumam Daffa kesal.
Sementara itu didalam rumah mewahnya Adiva tengah mengambil air dari dispenser. Adiva tampak kusut ditinggal nahkodanya berlayar keluar kota. Tiba-tiba Adiva merasakan sakit perut, saat melihat kebawah ternyata air ketubannya belum pecah. Mana Alzam lagi sibuk diluar kota pula. Sepertinya Adiva mengalami kontraksi. Bi Sri yang melihat itu buru-buru membantu dan membawa Adiva kedalam kamar.
"Nyonya yang tenang ya, berbaring dulu nyah, biar bibi yang menghubungi dokter. Tuan Alzam mendadak ada urusan diluar kota, kalau terjadi apa-apa dengan nyonya bibi yang akan mengurus nyonya."
"Telpon mas Alzam juga bi, aw, suruh dia pulang. Sepertinya sebentar lagi aku akan lahirin bayi pertamaku bi." titah Adiva seraya berbaring di kasur.
"Baik nyah, biar bibi telpon dokter dulu ya?"
Bi Sri menghubungi seorang dokter, sedangkan pembantu yang satu lagi juga cemas, ikut menemani Adiva didalam kamar.
"Jangan khawatir nyonya, saya juga pernah berada diposisi yang seperti ini." support pembantu baik yang satu lagi itu. Namanya bi Yuna.
"Aduh mas Alzam, cepetan pulang mas, aw." rintih Adiva sembari menangis.
"Maaas, aku takut." ucap Adiva panik sembari memeluk album foto suaminya.
Disaat yang seperti ini Adiva benar-benar membutuhkan Alzam berada di sampingnya. Namun dia sedang ada urusan yang sangat penting diluar kota yang dimana Alzam wajib datang kesana. Adiva benar-benar sedih dan ketakutan.
"Mas, aku takut mas. Maas angkat?"
Dua puluh menit kemudian seorang dokter cantik bernama Sarah datang ke rumah Adiva. Dokter Sarah langsung mengecek keadaan Adiva. Kata dokter Sarah, Adiva mungkin dalam waktu dekat bisa jadi esok atau lusa akan segera melahirkan. Tadi Adiva cuma kontraksi saja, mungkin karena Adiva terlalu cemas memikirkan sesuatu.
"Iya dok, aku cuma takut lahiran tanpa mas Alzam. Aku ingin ada dia disini dok."
"Kamu nggak usah takut. Persalinan itu wajar dan dihadapi oleh mereka para perempuan hamil. Tenang aja ya mba, tidak akan terjadi apa-apa, mba wajib untuk selalu berpikir positif." support sang dokter cantik itu.
__ADS_1
"Iya makasih dok support nya. Dokter mau nggak disini dulu temani aku selama beberapa hari? Aku takut terjadi apa-apa dok? Bisa kan? Aku akan bayar dokter lebih banyak lagi deh dok? Please?"
Dokter Sarah berpikir sejenak. Selama ini ia juga termasuk dalam salah satu dokter kepercayaan keluarga Alzam, jadi tidak enak dong kalau dokter Sarah tidak mau menuruti permintaan dari Adiva itu? Istrinya tuan muda Alzam. Lantas dokter Sarah mengangguk, sembari tersenyum dirinya mau menemani Adiva selama beberapa hari kedepan.
"Semangat ya, saya mau menemani mba Adiva. Tapi mba Adiva harus janji jangan takut lagi."
Adiva jadi merasa lega. Jaga-jaga kalau Adiva mau lahiran. Apalagi Alzam baru bisa pulang lusa katanya, Alzam bilang waktu mau berangkat menuju keluar kota kemarin. Alzam juga sebenarnya berat mau meninggalkan Adiva dalam kondisinya yang sedang hamil tua, tapi urusan itu berkaitan dengan masa depan perusahaannya, penting sekali.
"Kenapa urusan sepenting itu harus disaat kondisi aku seperti ini? Aku butuh kamu, kenapa kamu sulit buat dihubungi sayangku? Ya Allah, semoga mas Alzam bisa mengangkat telpon nanti. Hamba benar-benar membutuhkan kehadirannya disini, buat penyemangat aku. Aku jadi ga semangat kalau lahiran tanpa adanya pangeran hatiku." batin Adiva berdoa.
Dokter Sarah kembali tersenyum. Lalu memberikan segelas air putih hangat untuk Adiva minum. Dirumah sebelah, rumah pak Nick dan Jenna, ternyata sedang terjadi penganiayaan didalam kamar.
"Mas, ternyata kamu berdusta! Ternyata kamu cuma ngedrama aja selama ini! Kamu masih suka main sama perempuan murahan secara diam-diam, hah! Uang kamu habisin buat bayar mahal mereka! Suami tai!"
Tangan kasar pak Nick bergerak menampar pipi Jenna lagi setelah enam bulan berlalu dia menahan untuk tidak menampar Jenna. Jenna tersungkur diatas lantai lantas pak Nick menginjak tangan kiri Jenna menggunakan kakinya.
"Aw, sakit mas! Kamu mau meremukkan tanganku?"
"Saya ingin mencicipi banyak kemolekan tubuh para perempuan malam. Mau apa kamu! Mau mengadu kepada laki-laki tetangga sebelah kita itu?"
Jenna tidak bisa berbuat banyak lagi. Jenna dan pak Nick tahu kalau Alzam sedang pergi keluar kota. Kemarin Alzam sempat pamitan kepada mereka. Bahkan Alzam menyuruh mereka untuk ikut menjaga istrinya yang lagi hamil tua. Jenna hanya bisa menangis pasrah menerima semua perlakuan kasar suaminya kembali.
"Mas aku mohon, jangan bermain api dengan perempuan murahan lagi mas? Apa aku kurang memuaskan dimatamu mas? Aku cantik, aku setia sama kamu mas. Stop mas aku capek!"
"Suka-suka saya! Bahkan saya ingin sekali mencicipi istri tetangga kita sekarang. Saya mau balas dendam kepada suaminya yang sombong itu!"
"Astaghfirullah, dasar laki-laki jahanam kamu mas!"
__ADS_1
Bersambung...