
"Ya terus kapan dong nak? Mumpung kamu masih muda, pergunakan waktumu untuk belajar setinggi mungkin. Nanti kalau kamu sudah tua seperti mama, kamu akan sibuk mengurus banyak sekali bisnis-bisnismu."
"Aamiin, mam."
"Waktumu akan habis untuk bekerja, bahkan nanti meluangkan waktu untuk bersama keluarga saja bisa sulit. Ayo dong nak, kuliah S2 ya di luar negeri?"
"Yaudahlah kalau itu kemauan mama. Tapi nunggu anak aku lahir dulu ya mam, habis itu baru aku pikirkan keberangkatan aku buat kuliah ke Belgia, buat lanjutin pendidikan aku. Aku juga perlu survey mana universitas terbaik yang akan aku pilih nanti."
"Kenapa kamu tidak kuliah di Jerman aja? Dulu kakak kamu kuliah disana, disalah satu universitas terbaik yang ada di Jerman. Dan buktinya, sekarang lihatlah, dia menjadi salah satu dari sekian banyak pengusaha muda yang sukses di Indonesia. Kamu nggak pengen kaya kakak kamu? Makannya mama selalu mewanti-wanti kamu buat kamu lanjutin pendidikan, S2 kamu."
"Iya, makasih ya ma karena mama selalu peduli dengan masa depan aku. Aku makin sayang deh sama mama, sehat selalu ya ma."
"Aamiin nak."
Mama Linda dipeluk dengan hangat oleh anak keduanya itu. Mama Linda sangat menyanyangi Daffa dan juga Alzam. Kasih sayang seorang ibu selalu besar kepada anak-anaknya. Sekalipun ibu adalah orang yang kurang baik, tapi ikatan batin itu pasti akan selalu ada. Sungguh, ibu adalah wanita yang mulia bagi anak-anaknya.
Tiba-tiba, mereka berdua mendengar suara motor yang berhenti didepan rumah. Hujan sudah tidak selebat yang tadi, sekarang hanya rintik gerimis yang biasa.
"Motor siapa ya itu mam? Kayaknya cuma Daffa deh yang pulang pergi masih naik motor."
"Mama nggak tahu nak, yaudah ayo kita cek kedepan." ajak mama Linda, lalu mereka berdua bangkit dan bergegas mengecek kiranya itu motor siapa?
__ADS_1
Mereka berdua berjalan dengan kompak lalu membuka pintu depan rumah. Kaget bukan kepalang bagi mama Linda karena ternyata, orang yang ia suruh buat membunuh Adiva ternyata gagal.
"Ah, sial! Orang suruhan saya gagal menghabisi menantu yang paling saya benci itu! Sungguh sial! Aarggh!" marah mama Linda namun hanya bisa menunjukkan kemarahan itu didalam wajah dan hatinya saja. Wajahnya terlihat mendidih sekali.
Bola matanya seperti mau keluar, menatap Adiva yang sedang membuka helmnya.
Lalu Adiva berlari menghampiri mama mertua sadisnya dan juga adik iparnya, Daffa. Adiva tidak mengerti kenapa mama mertuanya melototin dirinya dengan mata melotot yang super sadis seperti itu?
"Adiva, kamu kena hujan? Buruan gih kamu mandi air hangat, nanti kamu masuk angin loh." kata-kata peduli keluar dari mulut adik iparnya, malah bukan mama mertuanya yang bicara peduli seperti Daffa. Mama mertuanya malah terlihat tidak peduli dan benci.
"Makasih ya Daffa, iya aku masuk dulu ya, aku mau mandi dulu." jawab Adiva tersenyum seraya melintas dari samping mama mertuanya. Saat Adiva melintas disamping mama mertuanya, mama Linda wajahnya menghadap kedepan namun bola matanya melirik sinis kearah Adiva yang sedang lewat.
Bandi juga membuka helmnya lalu melambaikan tangan disertai senyuman manis kepada mama Linda dan juga Daffa. Daffa membalas keramahan Bandi dengan senyuman dan anggukan, tetapi tidak dengan mama Linda yang malah sinis lalu masuk kedalam rumah. Mama Linda benar-benar emosi, namun emosinya tidak bisa ia luapkan dalam bentuk kemarahan.
"Ndi, kamu wajib mandi air hangat didalam. Kamu juga harus minum teh manis hangat, mari masuk kedalam?" ajak Daffa baik.
"Makasih ya bos, beneran boleh masuk nih? Tapi saya ga bawa baju ganti."
"Tenang aja Ndi, masalah baju ganti, nanti saya kasih kamu setelan pakaian buat kamu ganti baju ya?
"Makasih atas kepeduliannya bos?"
__ADS_1
Lalu Daffa mempersilahkan Bandi buat masuk kedalam rumah. Bandi di suruh mandi, disuruh ganti pakaian yang kering, Daffa belajar ingin memperlakukan orang lain dengan baik.
Sementara itu, setelah Adiva selesai mengerikan rambut karena habis keramas, lantas Adiva keluar dari dalam kamarnya. Adiva dibuat terkejut melihat mama Linda yang sedang berdiri nyalang seraya bersedekap dada didepan pintu kamarnya.
"Loh, mama? Ngapain ada disini?"
"Suka-suka saya lah mau ada dimana! Mau saya didepan kamar kamu, mau saya didalam kamar kamu, mau saya di closet kamar kamu, ini rumah saya! Saya bebas melakukan apa saja disini!"
"Mama mau marahin aku? Emangnya aku salah apalagi sih?"
"Saya benci banget sama kamu! Kenapa sih kamu masih betah banget tinggal disini? Padahal kamu sudah cukup saya siksa disini, tapi kamu juga nggak pernah nyadar, betapa bencinya saya sama kamu! Enyah kamu dari rumah saya!"
"Mama meski ini adalah rumah mama, tapi rumah ini juga milik mas Alzam. Mama nggak boleh seenaknya mengusir aku. Ada dua pilihan ma, tapi mama selalu mempersulit hal itu! Mama ini gimana sih? Kalau mama mau aku pergi dari sini, maka aku dan mas Alzam mau cari rumah baru. Kalau mama tidak suka lihat aku tinggal disini. Beres kan! Ribet amat heran deh."
"Saya memang ingin kamu enyah dari rumah megah saya! Tapi Alzam, jelas saya tidak ingin ia ikut-ikutan kamu enyah dari rumah megah saya!"
"Nah itu, mama ingin aku pergi tapi mama juga tidak ingin suami aku ikut pergi sama aku? Mama selalu mempersulit keadaan! Aku nggak ngerti sama jalan pikiran mama, kalau aku pergi sudah jelas mas Alzam akan ikut bersamaku ma. Dia kan sangat sayang sama aku, dia tulus cinta sama aku. Gimana dong ma?"
"Seandainya kamu masih punya keluarga yang masih hidup, sudah pasti saya akan menjadikan mereka ancaman, supaya kamu takut dan nggak berani menentang saya! Awas ya, semuanya belum berakhir. Meski saya hari ini gagal, tapi belum tentu percobaan berikutnya akan gagal! Udahlah, mendingan saya pergi tidur aja dikamar." ucap mama Linda keceplosan tapi langsung pergi berlalu meninggalkan Adiva.
"Salah nggak sih kalau aku berharap mama mertuaku tidur untuk selama-lamanya aja? Hohoho, eh tapi, bentar deh, apa maksudnya hari ini dia gagal. Emang dia gagal ngapain ya? Hah, atau jangan-jangan orang yang tadi mau bunuh aku itu, orang suruhan dia?" pikir Adiva.
__ADS_1
Adiva perlu menyelidiki hal ini. Kejadian yang berhubungan dengan percobaan pembunuhan juga mengingatkan dirinya terhadap tragedi yang terjadi setahun lalu. Ya, tragedi kematian kakaknya yang ditembak oleh orang misterius. Tragedi yang membuat hatinya selalu berduka sampai sekarang jika diingat.
Bersambung...