MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Bunuh diri?


__ADS_3

"Dimana sopan santun dan rasa peduli kamu kepada ipar kamu Amel? Dia sudah peduli padamu, tapi kamu membalasnya dengan keacuhan dan kebengisan?" marah Alzam sembari menunjuk nyalang wajah Amel.


Amel merasa kaget juga panik saat Alzam sekarang sedang marah besar kepadanya. Amel menatap Alzam dengan wajah cemas dan perasaan yang takut dan mama Linda bergegas berdiri lalu mengelus halus bahu Alzam. Mama Linda tidak ingin rencana mengerikan itu diungkit kembali oleh anaknya, yaitu rencana menghancurkan perusahaan keluarga sendiri? Oh no!


"Amel! Kamu itu harus tahu diri ya! Adiva itu ipar kamu dan menantu saya juga! Dan jangan pernah kamu berani sewot dan marah sama dia karena cuma saya dan Alzam yang berhak marah dan sewot sama dia!" pekik mama Linda ikutan memarahi Amel hanya demi carmuk depan Alzam.


"Loh kok mama ikutan marah ke aku sih? Mama juga sering marah kali sama Adiva! Masa aku cuma sekali aja marah langsung dilabrak rame-rame kaya gini?" protes Amel gak terima.


"Sebal! Amel, kamu harus tahu diri ya! Mama marah karena Adiva jorok. Dan saya jauh lebih tua dari Adiva. Sedangkan Alzam adalah suaminya. Mengerti kamu! Adiva juga berhak marah kok ke suaminya dan juga ia tidak berhak marah sama kamu! Paham!" tekan mama Linda ikut menunjuk wajah Amel juga sekarang.


Amel marah lalu berjalan cepat kembali kedalam kamarnya. Disisi lain Daffa diam saja dan berencana ingin memisahkan Amel dengan keluarganya. Daffa bangkit lalu memberanikan diri untuk membicarakannya.


"Kak, Ma, aku ingin tinggal di rumah yang baru. Dan sebaiknya kak Alzam dan juga Adiva tinggal dirumah mereka sendiri. Kita harus tinggal terpisah, daripada tiap hari kita ribut dan salah paham seperti ini!" tukas Daffa namun nada bicaranya terdengar emosional.


"Plaaak!"


Mama Linda menampar Daffa dan disaksikan dengan tatapan kejut oleh Alzam dan Adiva.


"Udah biasa mama nampar aku. Dan udah biasa juga kak Alzam mukul aku. Dasar orang-orang kejam! Apa aku nggak berhak bahagia dalam hidup di dunia ini!" kecewa Daffa lalu menyusul Amel kedalam kamarnya.


"Daffa, bukan begitu sayang?!" panggil mama Linda merasa menyesal.


Daffa masuk kedalam kamarnya lalu ia menutup pintunya kembali, ikut sedih melihat Amel yang sedang menangis diatas kasur. Daffa duduk disamping istrinya, yang sedang bersedih karena pagi-pagi dimarahin banyak orang, meski Amel sendiri yang juga bersalah.


"Kamu ga ngerti mas kekhawatiran apa yang sedang aku alami ini."

__ADS_1


"Bukankah kamu menangis gara-gara dimarahi kakakku dan mamaku?"


"Bukan, tapi aku ga menangis karena hal itu, aku menangis karena hal lain yang ga mungkin aku ceritakan sama semua orang."


"Hal apa itu sayang? Kalau ada masalah kamu harus selalu terbuka sama mas. Mas ini kan suamimu! Masa kamu mau memendam masalah itu sendirian. Ga adil dong? Pasti mas akan carikan solusi yang terbaik."


"Gak mas. Cukup aku aja yang tahu. Ini rahasia besar aku! Semoga nanti kamu bisa ngertiin aku ya mas?" tangis Amel seperti takut ditinggalkan suaminya, Amel lalu memeluknya setelah bicara soal itu.


Amel terus menangis dengan pilu. Ia sedang takut hamil, apalagi akhir-akhir ini, ia seperti terkena morning sickness.


Siangnya, Amel memberanikan diri membeli alas tes kehamilan. Lalu ia mencoba tes kehamilan didalam toilet mall menggunakan testpack itu. Amel menunggu beberapa saat untuk mendapat hasil yang akurat dan hasilnya ternyata...


DUA GARIS !


"Nggak... Nggak mungkin. Aku nggak mungkin hamil, nggak!" histeris Amel menangis sedih sembari terduduk lemas bersandar di dinding toilet.


"Gimana ini? Apa yang akan aku omongin kalau semua orang tahu aku hamil sama laki-laki lain? Aku pasti akan viral, akan jadi bahan gosip dan mama mertua aku pasti akan membenciku!?" 1


Amel berjalan keatas gedung mall, ia berdiri gelisah didekat rooftop. Seperti orang yang mau lompat dari ketinggian itu. Matanya sembab akibat air mata yang terus mengalir. Sejuta kesedihan yang ia terima dan alami hari ini. Amel berteriak lepas!


"Apakah melompat dari sini adalah solusi terbaik?" tanya Amel lantang.


"Melompat dari situ bukan solusi terbaik! Tapi menikah dengan saya adalah solusi yang terbaik, Amel sayang, kelinci mungil manisku. Selalu ada solusinys kok!" ujar seorang laki-laki yang suaranya Amel sudah tak asing lagi. Ia adalah laki-laki yang paling Amel benci!


Amel berbalik badan ke belakang. Semilir angin membuat rambut pirangnya berkibar dengan indah.

__ADS_1


"Alex! Kamu ngikutin aku? Aku nggak sudi menikah sama kamu, bajingan! Pilihan bunuh diri jauh lebih tepat daripada menikah sama kamu sih!"


"Goblog! Bunuh diri secara nggak langsung kamu sudah menjadi dua pembunuh. Kamu membunuh dirimu sendiri dan kamu juga membunuh anakmu sendiri! Menikahlah denganku?"


"Ya nggak apa-apa. Tersiksa di neraka jauh lebih baik daripada menikah sama kamu atau dihujat orang, aku nggak sanggup!"


Alex berjalan mendekat, menghampiri Amel namun Amel mencegahnya.


"Berhenti disitu! Jangan dekati aku lagi oke!"


"Nggak. Bunuh diri itu sakit, saya nggak yakin kamu berani bunuh diri. Kamu kan orang yang manja dan penakut?"


"Cuih! Sok tahu kamu! Aku berani kok!" balas Amel jutek lalu kembali menatap kebawah dari ketinggian gedung.


"Aduh, kalau dipikir-pikir serem juga ya kalau lompat dari atas sini. Nanti badan aku bisa remuk saat jatuh kebawah. Aku gak bisa bayangin gimana rasa sakitnya tapi yang pasti aku takut juga bundir," batin Amel bermonolog takut.


"Kok masih diam, cantik, disitu? Pasti lagi bayangin rasa sakitnya kalau jatuh ke bawah kan? Hahahaha, saya bilang juga apa. Lebih baik menikah dengan saya dan kita bisa besarin anak kita berdua." kata Alex lagi dari belakang.


Amel kembali berbalik badan lalu berjalan kedepan Alex. Orang yang paling ia benci.


"Iya aku takut! Tapi lebih baik aku gugurkan saja kandungan ini. Lebih baik aku bunuh saja janin yang ada dalam rahim aku, dia itu ga aku harapkan kehadirannya di dunia ini! Lebih baik dia aku gugurkan saja!" lantang Amel seraya melotot sinis ke Alex.


Amel berjalan dengan mendorong bagian bahu kiri Alex dengan menggunakan bahu kanan Amel, namun Alex bergegas memegang kuat tangan Amel.


"Dasar wakita, iblis! Saya tidak akan membiarkan kamu membunuh anak saya! Karena saya adalah ayah biologisnya!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2