MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Adiva Menjenguk Mama Mertua Jahat


__ADS_3

Kehamilan adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan untuk istri-istri bahagia. Dengan hamil maka keluarga akan mempunyai keturunan yang diharapkan bisa menjadi generasi penerus bangsa.


Hati laki-laki mana dan juga perempuan mana yang tak senang tatkala rumah tangga yang mereka bangun akan kehadiran seorang anggota keluarga yang baru, tidak lama lagi. Usai melakukan pemeriksaan, Alzam dan Adiva pun pulang ke rumah mereka.


"Alhamdulillah, aku sangat berterimakasih kepada Allah karena Allah sudah mempercayakan aku buat menjaga dan merawat anak ini nanti. Semoga bayi kita bisa lahir kedunia dengan selamat ya mas, walau kata dokter ternyata rahim aku itu lemah." harap Adiva sembari berjalan didepan rumahnya.


"Jangan banyak pikiran, jangan pernah stress, kamu harus selalu enjoy dan bahagia. Pokoknya selama kehamilan kamu itu akan menjadi prioritas utama mas, melebihi bisnis-bisnis yang mas urus sayang."


"Aduh, makasih suamiku tercinta. Dan kamu jangan kaget ya kalau nanti, aku bakalan ngidam yang aneh-aneh. Itu semua karena bawaan bayi kita mas, hehehe."


"Iya sayang." balas Alzam seraya mencium kening istri kecilnya itu.


***


Malam tiba, agak mencekam, jutaan air turun membasahi area tempat tinggal Alzam dan Adiva. Adiva sendiri sedang berdiri memakai sebuah jaket wol hangat didekat jendela kamarnya sembari mengamati rumah sebelah yang belum laku terjual. Mereka berdua benar-benar belum mempunyai tetangga. Adiva merasa seperti hidup sendiri di alam bebas, ditengah hutan yang sepi, sunyi tanpa ada kehadiran seorang tetangga.


"Semoga rumah itu segera laku terjual deh. Kalau lama-lama dibiarin kosong seperti itu, bisa jadi sarang setan ih." ucap Adiva dengan nada bicara yang pelan.


Adiva terus mengamati rumah itu, mengamati butiran-butiran air yang terjatuh dan membasahi bagian atapnya. Kilatan cahaya menyambar-nyambar di langit. Suasana diluar begitu sunyi dan mencekam. Dirumah mereka bahkan belum ada pembantu dan satpam.


"Mas aku ingin kita punya pembantu buat ngurus pekerjaan rumah disini. Bukannya aku malas, tapi hidup sunyi seperti ini nggak enak juga ya? Ternyata selama ini itu bukan sesuatu yang aku inginkan." tanya Adiva berbalik badan menatap Alzam yang sedang bermain laptop diatas kasur.

__ADS_1


"Tentu sayang, apalagi kamu sedang hamil anakku. Saya tidak akan membiarkan kamu kecapekan mengurus rumah ini sendiri. Besok saya akan cari dua pembantu. Yang satu saya ambil dari rumah mama yaitu bi Sri, yang satu lagu fresh."


"Kalau kamu mau ngambil pembantu dari rumah mama, bi Sri tentu saja orang yang paling aku mau. Aku sama dia udah deket banget mas udah kaya ibu dan anak. Aku sayang banget sama bi Sri. Selama ini dia udah banyak banget bantuin aku."


"Baiklah sayang, kalau begitu mas akan ambil bi Sri aja sesuai keputusan mas. Biar yang lain yang ngurus rumah mama."


Adiva jadi bertambah senang lalu memeluk hangat suaminya. Hari terus berlalu. Beragam cara Alzam lakukan dalam membujuk Adiva supaya mau diajak bersamanya menjenguk mama Linda dipenjara.


Selama ini memang Adiva sering melakukan penolakan, tidak sudi menjenguk perempuan yang udah membunuh kakak kandungnya sendiri, tapi sekarang setelah ia hamil, entah kenapa perasaan Adiva berubah jadi lebih lembut.


Adiva tidak ingin terlalu banyak marah lagi dan menyimpan suatu dendam yang berlebihan. Akhirnya Adiva mau diajak Alzam buat jengukin mama Linda di rumah tahanan.


Betapa senangnya hati Alzam, lantas mereka buru-buru pergi membeli banyak makanan lezat dulu buat nama Linda nanti. Mereka membeli buah, salad, roti gandum, dan makanan-makanan sehat lainnya. Tak lupa mereka juga membeli banyak vitamin untuk menunjang kesehatan mama Linda di penjara.


Sebuah hukuman memang tidak selalu berhasil membuat orang menjadi kapok atau berubah. Seorang sipir kembali datang memanggil mama Linda memberi kabar bahwa ada anggota keluarganya yang ingin membesuk lagi. Jelas saja melihat mama Linda selalu ada anggota keluarganya yang memperhatikan membuat si pentolan napi jadi merasa iri.


"Woy emak-emak setress, hidup lu enak amat dah! Hampir setiap minggu selalu ada aja orang yang bawain lu uang dan makanan. Untung uangnya buat gua, hahahaha."


"Heh kribo! Iri ya kamu! Hahaha, saya mah punya keluarga, punya anak yang sayang sama saya. Emangnya situ, ga pernah dijenguk keluarganya. Mereka pasti jijik dan ogah buat jengukin sampah masyarakat kaya kamu kesini!"


Pentolan napi itu pun meradang, ingin sekali memukul mama Linda tapi tidak berani karena ada sipir yang sedang mengawasi.

__ADS_1


"Ibu, bisa jaga mulut ibu kan? Ibu orang yang berpendidikan kan? Setahu saya, keluarga tahanan itu sudah meninggal semua bu. Jadi tidak ada yang menjenguk dia kesini." jelas sang sipir.


Pentolan napi yang sebenarnya agak baik itu pun menangis tatkala sang sipir mengingatkan dirinya kepada anggota keluarganya yang dulu semua meninggal karena kecelakaan.


"Oh gitu ceritanya. Yaudahlah saya nggak peduli, mendingan saya temuin anak-anak saya, yuhuu." ucap mama Linda seraya membersihkan tanah kotor yang sedikit menempel di kaos tahanannya.


Lantas mama Linda dibawa oleh sang sipir menemui Alzam dan Adiva yang sedang menunggunya di ruang besuk tahanan. Saat mama Linda sudah sampai didalam ruang besuk tahanan, mama Linda dikejutkan dengan kedatangan seorang menantu yang sangat ia benci.


"Adiva?" panggil mama Linda dengan ekspresi wajahnya yang melongo terkejut.


"Mama, apa kabar?" Adiva balik bertanya, disertai senyuman yang manis.


Mama Linda pun duduk didepan Adiva lalu menjawab tentang kabarnya yang tentu saja tak menyenangkan berada didalam penjara.


"Ngapain kamu tanya kabar mama? Jelas disini tidak enak. Untung Alzam dan Daffa sering menjenguk mama, membawakan makanan yang enak-enak. Makanan disini mana ada yang enak Adiva,"


"Mama ngomong gitu karena mama yang kurang pandai bersyukur. Masih untung pihak rutan mau menyiapkan makanan tiga kali sehari buat para tahanannya." sahut Alzam ketus.


"Udah deh lebih baik kamu diam. Kamu ga ngerasain sama apa yang mama rasain sekarang. Kapan kamu bebasin mama dari penjara Adiva?"


"Mama gini kan akibat kejahatan mama juga. Harusnya mama menyesal dong. Atau berubah jadi lebih baik, siapa tahu dengan mama berubah, hatiku akan luluh dan mau bebasin mama dari sini. Apalagi aku juga sedang mengandung cucumu ma. " tutur Adiva.

__ADS_1


"Apa, kamu sedang mengandung cucu saya?" tanya mama Linda seolah tidak senang dengan kehamilan Adiva.


Bersambung...


__ADS_2