MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Rencana Licik Mama Linda


__ADS_3

Rumah tepi rel kereta ini meski berdebu dan kumuh tapi bahan bangunan yang ada masih terlihat cukup kokoh. Di samping rumah ini adalah perkebunan gersang yang sama sekali tidak terurus.


Mama Linda mengamati dari balik jendela kaca. Waktu itu, bang Jaja membeli rumah ini dengan harga murah dan bang Jaja jadikan sebagai markas persembunyiannya.


Sampai sekarang, orang-orang atau pihak kepolisian belum mengetahui markas persembunyiannya ini. Mama Linda seperti rencananya semalam, penasaran dengan isi dari rumah ini. Dirinya akan mengulik seisi ruangan dari rumah ini. Mama Linda mulai memasuki sebuah ruangan, ini adalah ruangan yang sepertinya adalah kamar.


Ada kasur lantai lapuk yang ada di dalam ruangan ini dan juga satu lemari. Hampir semua ruangan sudah dicek oleh mama Linda dan tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi sepertinya kalau rumah ini dibersihkan dengan semangat yang telaten, rumah ini akan tampak jauh lebih bersih dan nyaman.


Tiba-tiba, perut mama Linda kembali keroncongan. Rasa laparnya menyapa dirinya kembali. Mama Linda kembali kepada bang Jaja yang sedang duduk merokok didepan rumah, tepat diatas lantai didepan pintu.


Mama Linda berdiri di belakang bang Jaja, tampak ragu buat mengutarakan keinginannya. Mama Linda takut bang Jaja kembali marah kalau dirinya minta makanan. Tapi telinga bang Jaja yang tajam itu menangkap suara bunyi perut orang yang sedang kelaparan.


Bang Jaja menoleh ke belakang melihat seorang wanita yang sedang berdiri tidak bersemangat sembari memegangi perutnya.


"Tunggu disini jangan kemana-mana,"


Mama Linda hanya mengangguk saja kemudian mama Linda duduk diatas lantai bekas bang Jaja duduk barusan. Mama Linda menatap bang Jaja yang mau pergi entah kemana. Tapi mama Linda sih yakin kalau bang Jaja mau pergi mencarikan makanan untuk dirinya.


Tak berselang lama, pak Nick keluar menghampiri mama Linda. Pak Nick duduk di samping mama Linda. Sebelum memulai percakapan, pak Nick mengucek kedua matanya terlebih dahulu yang rasanya masih agak sepat. Pak Nick juga sembarangan menguap di depan mama Linda langsung sehingga aroma mulutnya yang bau, semerbak di hidung mama Linda.


"Yang benar saja Nick! Kamu menghembuskan nafas baumu di depan wajahku!" pekik mama Linda kemudian menggeser duduknya lebih jauh dari pak Nick.


"Hahaha, maaf. Disini nggak ada air, nggak ada pasta gigi, nggak ada sikat gigi, wajar saja kalau nafasku bau. Nafas kamu juga bau ****** tuh."


"Diam kamu!"


"Ngapain kita cuma ongkang kaki aja disini, mending kita pergi cari makanan? Laper nih!"


"Si Jaja lagi cari makanan tuh, kita tunggu aja disini Nick, ngapain repot."

__ADS_1


"Wah, asyik!"


Dua jam kemudian bang Jaja kembali ke rumah dengan membawa satu kresek berisi sesuatu. Mama Linda dan pak Nick sangat yakin kalau sesuatu di dalam kresek itu adalah makanan. Tampak ekspresi ceria ditunjukkan oleh mama Linda melihat bang Jaja datang membawa sesuatu.


Bang Jaja melempar kresek itu kedalam pangkuan mama Linda.


"Kalian makan ya! Doyan atau gak doyan itu terserah kalian. Oh iya, masalah kebutuhan yang lain kita pikirkan habis kalian makan." tukas bang Jaja kemudian masuk kedalam rumah.


Mama Linda gak sabar membuka kresek itu, ada aroma bakar yang membuat dirinya makin bersemangat.


"Pasti isinya ayam bakar nih, mas Nick emang perhatian banget, waktunya makan makan."


Ternyata isinya adalah singkong bakar doang bukan ayam bakar sesuai perkiraan mama Linda. Mama Linda tampak kurang bernafsu buat sarapan makanan seperti ini.


"Lah, aku ga doyan lah makan ginian, rasanya gak enak! Nih buat kamu aja Nick!" tolak mama Linda kemudian menyodorkan singkong bakar itu buat pak Nick.


Darimana bang Jaja mendapatkan singkong bakar itu? Tentu saja bang Jaja mencuri singkong bakar itu dari perkebunan warga yang jaraknya jauh dari rumahnya. Kemudian bang Jaja membakarnya di tempat yang sepi.


Pak Nick mulai melahap satu demi satu singkong bakar itu. Ternyata rasanya tidak seburuk yang dibayangkan, hingga tak terasa pak Nick sudah melahap tiga potong singkong bakar dan menyisakan satu potong lagi saja.


Mama Linda langsung mengambilnya saat pak Nick berniat menghabiskannya.


"Loh kok diambil? Belum kenyang nih?"


"Jangan rakus kamu ya!"


"Katanya tadi gak mau?"


"Kamu mau melihatku mati kelaparan hah!"

__ADS_1


Mama Linda menyantap singkong bakar itu meski lidahnya belum terbiasa dengan rasa dari makanan ini, bahkan rasanya rada pahit. Mama Linda mengunyah makanan itu dengan ekspresi jijik. Selesai makan, bang Jaja, mama Linda, dan pak Nick menyusun siasat agar mereka tetap bisa bertahan hidup tanpa ketahuan sama pihak kepolisian.


"Kita harus mencuri harta orang lain biar kita bisa bertahan hidup!" ucap bang Jaja sembari menghembuskan asap rokok.


"Aku setuju aja sih, kita harus segera cari target, rumah mana yang akan kita ambil uangnya," sahut pak Nick sembari menatap ambisius kearah bang Jaja.


Mama Linda bingung mau ngomong apa, dirinya perempuan kaya masa iya harus ikutan mencuri jadi maling. Bahkan kekayaannya sendiri di bank sudah sangat banyak. Tapi sayangnya, mama Linda tidak mungkin bisa mengambilnya sendiri.


"Dimana ya? Di deket sini sih gak ada rumah mewah. Kita juga harus mencuri di tempat yang jauh dari sini biar orang ga gampang nemuin kita," urai bang Jaja kebingungan.


"Gimana kalau kalian mencuri uang menantuku saja?" sahut mama Linda tiba-tiba.


"Mantu kamu!? Kamu tega sama mantu kamu sendiri?" tanya bang Jaja heran.


"Of course, buat apa aku gak tega sama orang yang bikin aku menderita seperti ini. Aku tahu kok, dimana mereka tinggal. Nanti aku kasih tahu tempatnya ke kalian. Eh, Pak Nick juga tahu kan, waktu itu ternyata kan kasus kamu karena pak Nick hampir membunuh mantuku juga kan pak? Kenapa gagal sih?!"


Pak Nick mengangguk, sedikit mengingat kejadian waktu itu dimana dirinya hampir berhasil menghabisi nyawa Adiva yang mau melahirkan.


"Yaudahlah, nanti kita mencuri di rumah menantu kamu," sahut bang Jaja sembari menginjak puntung rokok.


"Bagus bang Jaja, tapi ada titipan buat kalian, aku nitip sesuatu ya selain kalian ngambil uang disana?" pinta mama Linda dengan ekspresi licik.


"Apa?" tanya bang Jaja.


"Kalian bikin menantuku yang paling aku benci itu menderita! Lakuin apapun! Siksa dia kek, gauli dia kek, yang penting dia menderita!" titah mama Linda tega.


"Waduh, menggauli paksa anak orang resikonya besar lah! Kalau ketangkep bisa-bisa aku dikeroyok sama napi lain dipenjara. Kan kalian tahu sendiri gimana nasib napi tersangka kasus pemerkosaan di penjara!" ucap bang Jaja ogah.


"Ya jangan sampai ketahuan lah!" paksa mama Linda kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2