
Cerita cinta dan kehidupan silih berganti, mengikuti alur waktu yang terus melaju. Menit demi menit berlalu, selalu banyak kejadian yang tidak terduga di bumi ini. Kematian yang tak pernah diketahui kapan datangnya, misteri yang belum terungkap, berbagai macam aksi kejahatan dan penindasan manusia yang masih marak terjadi di berbagai belahan bumi.
Namun tak sedikit pula yang sedang menikmati indah kebahagiaan mereka. Cinta bertaburan di mana-mana. Tanpa cinta tak akan ada kedamaian yang tercipta. Cinta memang pantas dan sangat layak disebut sebagai salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Malam ini, malam minggu, Alzam dan Adiva kembali menghabiskan waktu indah mereka malam ini dengan menatap indahnya rembulan dan ratusan bintang di angkasa.
"Bintang itu indah, seindah sorot mata damaimu, kedamaian akan tercipta, jika kita bisa saling menghargai dan menyayangi satu sama lain. Dapatkah kamu berdamai dengan mamaku, istriku?"
"Aku selalu ingin berdamai dengan mamamu, dari dulu. Tapi mama kamu yang gak bisa berdamai dengan aku, juga almarhumah kakakku. Sekarang dia sedang menjalani hukumannya. Balasan selalu ada, balasan itu nyata, buat orang-orang jahat seperti mama kamu, sayang. Tapi biar bagaimanapun, aku berharap semoga dengan dipenjaranya mama, mama bisa sadar, dapat hidayah, berubah jadi lebih baik lagi. Dan yang paling penting, dia nggak jahat lagi sama aku dan ke semua orang."
"Kamu, sungguh istri yang baik. Aku selalu setia menunggu pemberian maafmu untuk mamaku."
"Oke, kamu tunggu aja ya. Sampai mama kamu bebas."
"Iya sayang. Lupakan sejenak soal mamaku. Malam ini semakin dingin, aku butuh kehangatan darimu, dan pasti kamu juga butuh kehangatan dariku kan, sayang?"
"Aku tahu apa maumu, pasti kamu ingin mengajak aku buat lakuin hubungan suami istri kan? Hayuk, gas aja say."
"Aku stress banget akhir-akhir ini, dan sudah hampir satu bulan kita ga melakukannya. Itu akan jadi obat stress yang paling mujarab buatku."
"Yaudah, ayo kita ke ranjang masku?"
__ADS_1
Lantas Alzam membopong istrinya dengan begitu manjanya. Cahaya rembulan berpadu dengan cahaya lampu taman, memberikan sinar yang indah kepada kehangatan yang sedang terjadi diantara pasangan halal tersebut.
Mereka melangkah disepanjang ruangan hingga berpas-pasanlah mereka dengan si ratu nyinyir, Amel.
"Hello, ngapain kalian main gendong-gendongan didepan aku? Mau pamer kemesraan ya biar aku panas gitu, gausah geer! Aku nggak akan terbakar kok melihat kalian yang sedang sok mesra itu, yang ada jijik pengen keluarin isi perutku,"
"Keluarin aja sono, terus jilat lagi, hehehe huek. Sayang, kita baru main bopong begini aja udah ada yang dengki. Emang ya kalau pasangan penuh berkah dan kedamaian kaya kita pasti bikin setan-setan dirumah ini jadi iri dan kepanasan." ucap Alzam sembari menatap lembut kepada istrinya.
Adiva membalas perkataan suaminya dengan tatapan genit lalu Adiva menoleh bangga kepada Amel.
"Kamu kalau iri, bilang dong. Jangan bersembunyi dibalik topengmu yang udah jamuran itu. Kita berdua udah tahu kebusukan kamu, kamu ingin merebut suamiku kan? Gimana kalau sampai Daffa tahu, kalau istrinya itu murahan dan ternyata hatinya hanya untuk laki-laki lain, pasti dia akan marah besar!"
"Eh jangan asal ngomong ya! Jaga tuh bacot lo! Aku lagi hamil anak mas Daffa. Mana mungkin dia akan marah sama aku! Dan satu lagi, aku nggak pernah cinta sama suami kamu. Suami kamu aja dulu yang sok ngejar-ngejar aku, padahal aku jijik sama suami kamu yang mata keranjang itu!" tuduh Amel kepada Alzam, memutar balikkan fakta.
"Diam kamu bakteri raksasa! Kamu itu jorok, bisanya cuma bikin masalah. Bisanya juga cuma bikin kotor rumah ini, udah ah, mendingan aku bobo aja, daripada stress lihat kalian pasutri sinting! Kasihan bayi yang ada dalam perut aku, bye!" gertak Amel, lantas Amel mengibaskan rambut wanginya dan melangkah pelan menaiki anak tangga.
"Hmm... Wangi rambut Amel." tukas Adiva seraya menghirup aromanya yang mengaur di udara.
"Ah, rambutmu jauh lebih wangi sayang. Sampo yang kamu pakai kan lebih mahal dari harga samponya dia."
"Mas apaan sih, orang aku jarang keramas dan lihatlah rambutku yang lecek ini! Aku cukup pakai sampo sachet seribu tiga ajalah."
__ADS_1
"Mau pakai sampo semurah apa, mau kamu jarang merawat mahkotamu itu, aku akan tetap menghirupnya dengan aroma cinta, yang wangi dan menggoda, huuum."
"Dasar mas CEO bucin! Sekarang udah pandai gombal ya kamu."
"Gombal sama istri sendiri nggak ada salahnya dong."
"Kamunya nggak capek apa mas bopong aku terus, nggak encok ya, hahahaha."
"Nggak, mas kan masih muda, energik, jangankan kamu, gendong gajah aja mas kuat."
"Halah! Buruan mas bawa aku kedalam kamar, yuhuu."
Lantas Alzam dengan bertenaga membopong romantis Adiva seraya menaiki anak tangga. Membawa istrinya dengan manja hingga masuk kedalam kamar mereka. Lantas sang CEO gagah yang digilai oleh ratusan wanita itu tak lupa mengunci pintu kamar terlebih dulu. Adiva sudah rebahan diatas ranjang. Jantungnya berdegup kencang tatkala pergulatan cinta setelah yang akan mereka laksanakan sesaat lagi.
Alzam membuka kaosnya, menunjukkan tubuh indah machonya. Siapapun wanita yang bercinta dengan tuan CEO itu pasti akan merasa sangat puas.
***
Beberapa bulan lagi waktunya Amel melahirkan bayinya sesuai prediksi yang dibilang dokter waktu itu. Satu hal yang membuat Amel merasa cemas adalah, gimana kalau bumi tahu kalau anak yang tengah dikandungnya itu bukan anak kandung dari Daffa. Tapi anak haram hasil pergulatan cintanya dengan mantan pacarnya dahulu, Alex.
"Setiap malam, aku selalu terbangun dari tidurku. Memikirkan soal bayi yang ada dalam kandunganku ini. Bagaimana kalau nanti mas Daffa tahu, kalau sebenarnya anak ini bukan anaknya. Aku takut terjadi sesuatu yang mengharuskan tes DNA atau tes-tes yang melibatkan kecocokan DNA terjadi. Aku takut, setakut ini, jauh lebih takut daripada melihat setan. Semua orang akan mencaci dan menghujatku." batin Amel risau.
__ADS_1
Amel menatap ke sampingnya, sang suami yang sedang tidur dengan pulasnya. Amel memang tidak mencintainya, tapi Amel tahu kalau rasa cinta Daffa kepadanya begitu besar.
"Sebaiknya mulai sekarang aku merubah hati ini. Harus tulus mencintai my husband." batin Amel sambil tersenyum kemudian mengelus mesra rambut suaminya.